NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
79



Bab 79.


 


Armada kapal Harl mulai mendekati wilayah kekaisaran Cahaya Fajar, kini Harl berdiri diatas dek kapal, menghirup udara dalam - dalam “aku merindukan kehangatan ini”. Tidak beberapa lama Jee datang menghampiri “pangeran” Jee memberi hormat, “ah penasehat, kemarilah, temani aku, sebentar lagi kita akan sampai, tenang saja Cahaya Fajar tidak memiliki musim dingin, disana sangat hangat, pasti sekarang Cilion sudah mati kedinginan” canda Harl. Cahaya Fajar adalah kekaisaran yang berbentuk kepulauan, seribu pulau berada dibawah kekuasaan Cahaya Fajar, terdapat patung besar seorang pendekar yang sedang memanah sebagai gerbang masuk Cahaya Fajar. “Penasehat, kau lihat patung itu?” Harl menunjuk patung besar itu “itu adalah Kaisar pertama Cahaya Fajar, Kaisar yang menyatukan seribu pulau, kau tahu siapa namanya?”, Jee menggeleng, “Harl” jawab Harl “ayahku menamaiku dengan nama itu, jika Kaisar pertama menyatukan seribu pulau, aku akan menyatukan seribu kekaisaran” Harl menjelaskan dengan antusias.


Armada kapal Harl kini berlabu disebuah pelabuhan diteluk, para pasukan sudah bersiap menyambutnya. Jembatan kapal diturunkan, Harl berjalan turun dari kapal, para pasukan memberi hormat menyambut, Harl tertawa melihat itu. “Pangeran” seorang laki - laki memberi hormat, ia bernama Bron, pelayan Rades. “Bron, seperti baru kemarin aku bertemu dengan mu” sapa Harl, “Kaisar sudah menunggu kedatangan pangeran” lanjut Bron, Harl mengangguk “antarkan aku”.


Kini Bron berjalan memasuki istana, istana yang berada puncak tebing di pinggir pantai, menempu seribu anak tangga sebelum mencapai gerbang istana, Harl, Garo, Khel, Jee, dan juga Lou mengikuti dari belakang. Bron berjalan memasuki ruang makan istana “pangeran telah kembali” Bron membawakan kabar, ruang makan sudah ramai, seorang laki-laki berambut putih duduk di tengah-tengah, tangannya sudah gemetar, tak lain adalah Rades, Kaisar Cahaya Fajar. “Kaisar” Harl memberi hormat, “kau pergi membawa sepuluh armada kapal, tetapi hanya kembali membawa satu armada, lalu dimana Cilion?” sambut Rades, “aku menyuruh Cilion dan pasukannya untuk tinggal di Bulan Sabit, kita sedang melakukan aliansi, bukan hal baik jika menarik pasukan begitu saja” Harl menjelaskan, Rades tertawa kecil “sejak kapan kau memikirkan hal baik atau bukan, lalu siapa dia?” Rades menunjuk kearah Jee, Jee memberi hormat “saya penasehat Bulan Sabit, sebagai itikad baik untuk mengantar pangeran kembali ke Cahaya Fajar”, Rades hanya mengangguk “baiklah kalau begitu, mari kita makan” Rades mempersilahkan duduk.


Hidangan makan disediakan diatas meja, Rades makan sembari dikelilingi enam orang di kanan-kirinya. “Mengapa pangeran tidak makan satu meja bersama Kaisar?” Jee membuka pembicaraan sembari menyuap makanan, Harl tertawa kecil “aku lebih baik disini, lagi pula Kaisar hanya ingin makan bersama anggota tujuh kematian” – “anggota tujuh kematian?” tanya Jee bingung, “orang-orang yang makan disekeliling Kaisar, mereka adalah orang kepercayaan Kasiar yang disebut tujuh kematian” Harl menjelaskan.


Di sebelah kanan Rades, duduk seorang laki-laki paruh baya, tanpa sehelai rambut, memakai jubah putih, ia bernama Kasim Honora, kepala pendeta Cahaya Fajar.


Lalu disebelahnya duduk seorang laki-laki berparas cantik, memakai jubah emas, ia bernama Lance Honora, dijuluki mawar emas.


Kemudian disebelahnya duduk seorang laki-laki berbadan gagah, tanpa sehelai rambut, dan memiliki brewok tebal, ia bernama Drogo Honora, dijuluki ombak.


Disebelah kiri Rades, duduk seorang laki-laki berambut putih, kedua matanya dibungkus perban, ia bernama Galahad Honora, tangan kanan Rades.


Lalu disebelahnya duduk seorang perempuan berambut ikal, dan kedua pupil matanya bewarna merah, ia bernama Nymeria Honora, dijuluki serigala betina.


Acara makan telah selesai, kini semua orang berkumpul di arena tarung, istana mengadakan acara penyambutan kembalinya pangeran. Rades kini mengambil tempat duduk bersama dengan anggota tujuh kematian, Harl dan Jee juga duduk disana, “seharusnya paman tidak perlu basa-basi, apa tujuan paman memanggilku kembali ke istana?” tanya Harl sembari menuang segelas arak, memberikannya kepada Rades, “sebaiknya kau menikmati pertarungan ini terlebih dahulu” Rades meminum arak itu.


Kasim berjalan masuk kedalam arena, para penonton bersorak antusias, “baiklah, acara penyambutan pangeran akan dimulai” Kasim membuka pembicaraan, sorak penonton semakin kencang. Kini Drogo berkuda masuk kedalam arena, diikuti sepuluh orang budak, Drogo turun dari kudanya, memberi hormat kearah Rades dan juga Harl “selamat datang kembali pangeran”, Rades mengangkat gelas araknya “mulailah pertarungannya”, sorak para penonton kembali pecah, Rades meminum araknya “penasehat Jee, sebaiknya kau menikmati tontonan ini, sudah menjadi upacara adat Cahaya Fajar”, Jee menuang segelas arak, kemudian bersulang.


 


Pertarungan di arena mulai terjadi, Drogo melawan sepuluh orang budak, Drogo mengeluarkan sepasang kapaknya “majulah kalian semua!” Drogo maju menyerang, pertarungan terjadi. Drogo pendekar yang sangat handal, hanya dalam beberapa ayunan kapak, kesepuluh budak berhasil di tumbangkannya, para penonton kembali bersorak, Drogo mulai merayakan kemenangannya. Harl bangkit berdiri, mengangkat gelas araknya “mari bersulang untuk Drogo” Harl meminum araknya, Drogo memberi hormat “saya merasa terhormat pangeran”, Harl tertawa kecil “ya, harus ku akui, kau adalah pendekar yang hebat Drogo, seorang jendral armada laut, menaklukan lautan, hingga akhirnya kau dijuluki ombak” Harl menuang segelas arak, kembali meminumnya “ini adalah acara penyambutan diriku, tidak akan menarik jika diriku tidak ikut serta, bukan begitu?” Harl mencabut pedangnya “bertarunglah denganku”, para penonton terkejut mendengar itu, termasuk Drogo dan juga Rades “Harl, apa yang kau lakukan?!”, Harl tertawa kecil “paman sendiri yang menyuruhku menikmati upacara ini, sekarang aku sedang menikmatinya”.


Harl berjalan turun ke dalam arena, para penonton mulai bersorak, Drogo memberi hormat “sebuah kehormatan bisa bertarung dengan pangeran”, Harl mulai bersiap dengan pedangnya “jika kau bisa mengalahkanku, aku akan memberikanmu seratus armada laut”, Drogo tertawa kecil, ia juga mulai bersiap dengan sepasang kapaknya “setelah ini aku akan mendapatkannya”. Kasim berjalan masuk kedalam arena “baiklah pertarungan dimula..” – “tunggu!” Rades bangkit berdiri, mengangkat gelas araknya “Drogo, jika kau menang, aku akan memberikanmu tiga ratus armada laut” Rades meminum araknya, mendengar itu senyum diwajah Drogo semakin lebar “ini akan menarik”, Harl juga ikut tersenyum “dasar tua bangka sialan!”.


Kasim memberi aba-aba untuk bertarung, Harl langsung menerjang kearah Drogo, menghujani Drogo dengan tebasan pedangnya, Drogo mengalami kesulitan, tetapi ia berhasil membalikan serangan, pertarungan sengit pun terjadi. Pedang dan kapak terus beradu, hingga pada satu titik Harl berhasil menemukan celah, menebas sepasang kapak Drogo hingga terjatuh, kemudian menendang tubuh Drogo hingga jatuh terpental, kini Harl bermaksud menebas kepala Drogo dan mengakhiri pertarungan, “Hentikan!” teriak Rades, pedang Harl berhenti tepat sesaat menyentuh leher Drogo, bahkan sudah melukainya sedikit, wajah Drogo tampak pucat, ia baru saja berpikir akan kehilangan nyawanya. “Pertarungan ini sudah selesai, aku akan memberikan tiga ratus armada kapal kepada pangeran” Rades meminum araknya kemudian beranjak pergi, “cih!” Harl tampak geram, ia memasukan kembali pedangnya, Drogo bernafas lega.


Harl membanting botol arak, kini ia sedang bertengkar dengan Rades di ruang singgasana Rades, ruang singgasana yang dilapisi emas. “Mengapa paman menghentikan pertarungan itu?! jika pada saat itu adalah posisiku, paman pasti tidak akan menghentikannya!” bentak Harl, “jangan omong kosong! paman tidak ingin kehilangan seorang jendral hebat dalam pertarungan bodoh!” Rades balas membentak. Harl mulai mengatur nafasnya, menuang segelas arak, kemudian meminumnya “jadi apa maksud paman menyuruhku kembali ke istana? Bukankah paman lebih senang jika pangeran pengacau ini tidak berada di Cahaya Fajar?!”, Rades mulai mengatur nafasnya “delegasi dengan Bulan Sabit, kita akan melanjutkannya, kau akan menjadi perwakilan disana, bawalah tiga ratus armada kapal, dan berjagalah diperairan Bulan Sabit”, Harl geram mendengar itu, ia mulai mengepalkan tangannya, “ada yang ingin kau katakan?” tanya Rades, Harl beranjak pergi tanpa sepatah kata.


 


Harl menghantam meja hingga hancur, kini ia sedang mengamuk dikamarnya “dasar tua bangka sialan! Mengirimku sebagai perwakilan delegasi, ingin menjauhkanku dari takhta yang seharusnya milikku!” Harl menghantam tembok hingga hancur. Tiba-tiba pintu kamar diketuk, Jee masuk kedalam “apa saya menganggu pangeran?”, Harl mulai mengatur kembali nafasnya “tidak, silahkan masuk, kamarku sedang berantakan”, Jee mengangguk, kemudian mengambil tempat duduk, “nanti malam kita akan berangkat kembali ke Bulan Sabit” kata Harl, Jee tersenyum “ku kira pangeran ingin duduk di kursi takhta?”, Harl terkejut mendengar itu, Jee kembali tersenyum “tidak perlu merahasiakannya dariku” Jee menuangkan segelas arak, memberikannya kepada Harl “katakan padaku, apa rencana pangeran setelah menduduki kursi takhta? Melanjutkan delegasi, atau menaklukan seribu kekaisaran?”, Harl terdiam sejenak, meminum araknya “aku akan menaklukan seribu kekaisaran”, Jee tersenyum “baiklah kalau begitu” Jee bangkit berdiri “pertama-tama pangeran harus menduduki kursi takhta terlebih dahulu”, Harl terdiam sejenak “apa tujuan mu?”, Jee kembali tersenyum “yang jelas tujuanku tidak bertentangan dengan tujuan pangeran” Jee beranjak pergi, Harl masih terdiam.