NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
46



Bab 46.


 


Di salah satu kota, Niki duduk didalam gang, hanya diam menahan lapar, sudah beberapa hari ia tidak makan, ia tidak memiliki sepeser pun perak. Rintik hujan mulai mengguyur, Niki masih duduk diam, membiarkan tubuhnya dibasahi hujan, tiba - tiba seseorang memberikan sepotong roti “makanlah” kata seorang laki - laki paruh baya, memakai jubah putih, ia adalah Tonraq, dijuluki burung api. Niki segera mengambil sepotong roti itu dan memakannya dengan lahap “terima kasih” kata Niki disela - sela mengunyah roti, Tonraq tersenyum “namaku Tonraq, aku adalah pendeta dari kuil selatan, jika kau tidak punya tempat tujuan, kau bisa ikut denganku”. Kini Niki berada didalam kereta kuda milik Tonraq, Niki memutuskan untuk ikut dengan Tonraq ke kuil selatan. “Jadi mengapa kau bisa berakhir di gang itu?” Tonraq membuka pembicaraan, “aku tidak ingin membicarakannya” jawab Niki singkat, Tonraq tertawa kecil “kau tidak perlu khwatir, kuil selatan menampung banyak pengungsi sepertimu, kau bisa tinggal untuk waktu yang tidak ditentukan”.


 


Kereta kuda Tonraq mulai memasuki pegunungan selatan, kuil selatan tepat berada di puncak gunung itu. Pintu gerbang kuil dibuka, kereta kuda mulai masuk kedalam kuil, tiga laki-laki memakai jubah putih sudah menunggu, jubah putih menjadi lambang bagi pendeta di kuil selatan. Tonraq turun dari kereta kuda, “selamat datang kembali pendeta” sambut para pendeta, Tonraq memberi hormat “terima kasih telah menyambut” kemudian Niki ikut turun dari kereta kuda “aku menemukannya saat perjalanan kembali, tolong bawa dia ke tempat penampungan” – “mari saya antar..” sambut Zin, laki-laki seumuran Niki, berambut kuning. Kini Niki mengikuti Zin masuk kedalam kuil selatan, kuil yang sangat megah “selamat datang di semanggi putih” kata Zin. Mereka menuju ke belakang Kuil, tempat tenda-tenda pengungsian didirikan “semenjak pemberontakan, banyak rakyat yang menjadi korban, ketua pendeta akhirnya membuka kuil selatan untuk tempat berlindung” Zin menjelaskan, mata Niki masih melihat-lihat sekitar, hingga terhenti pada seseorang, ia tidak percaya dengan apa yang dilihat matanya, Yuyu sedang duduk mengobati didalam tendanya. Yuyu masih sibuk mengobati, hingga tanpa sengaja ia melihat kearah Niki, kini pandangan mereka bertemu, Yuyu terdiam, botol obat ditangannya jatuh ke tanah, ia seperti sedang melihat hantu. Yuyu langsung berlari kearah Niki dan memeluknya, Zin terkejut melihat itu, begitupun Niki, ia hanya diam tidak membalas pelukan Yuyu, Yuyu mulai meneteskan airmata “aku kira aku tidak sempat untuk mengatakan terima kasih”, Niki tersenyum “sama-sama”.


Di tenda pengungsian, Yuyu sedang membalut lengan kiri Niki dengan perban, membalut luka bakar bekas api biru. “Luka ini masih baru” kata Yuyu disela-sela membalut, Niki hanya diam mengangguk, kini Yuyu telah selesai membalut lengan Niki “apa kau akan menetap disini?” tanya Yuyu, Niki terdiam sejenak “aku belum memutuskan”.


Hari pun silih berganti, kini hari pelantikan Jee sebagai penasehat istana telah tiba, para pasukan menjaga ketat istana. Disalah satu pondok pasukan, pondok pasukan naga, setelah Fei menjadi jendral pasukan naga pun diangkat menjadi pasukan istana. Kini Kin sedang bersiap-siap, begitu juga dengan Kiba “sepertinya hari ini akan ramai” celetuk Kiba sembari bersiap, “sudah lama aku tidak bertarung, jika ada penyerangan bukankah lebih seru” canda Kin, “kalian ini seperti anak-anak saja” timpal Tang yang juga sedang bersiap, obrolan singkat para pasukan naga. Di pondok penasehat, Jee sedang duduk di kamarnya, meminum seteko teh hangat, “hari ini akan menjadi hari yang penting bagi anda” sapa Shee sembari masuk kedalam kamar, Jee tersenyum “lama tidak berjumpa”, Shee tersenyum “bekas pasukan bayangan kini dipantau ketat oleh jendral Su, ia masih saja mencurigai kami karna mengikuti perintah Kulu” Shee duduk bersama dengan Jee, Jee menuangkan segelas teh “Kulu ya, lama tidak mendengar namanya”, Shee meminum tehnya, kemudian menaruh sebuah gulungan diatas meja “ini maksud kedatangan saya kemari”, Jee membuka gulungan itu “selamat -anakmu-” isi gulungan itu, Jee pun tersenyum kemudian menyalakan pemantik membakar gulungan itu.


Matahari mulai sampai dipuncak, istana mulai ramai, para menteri dari kota-kota datang untuk menghadiri pelantikan, Khan juga sudah duduk di singgasananya bersama para jendral, hanya tersisa satu kursi yang kosong, kursi milik Roku. “Dimana jendral besar? Apa karna ia tidak suka dengan Jee, ia tidak datang?” celetuk Kang, “tidak ada yang tahu isi pikiran jendral tua itu” timpal Kumo. Tidak beberapa lama Roku datang “maaf membuat menunggu”, Khan tersenyum “ku kira kau tidak akan datang”, Roku mengambil tempat duduk “saya hanya menghormati keputusan Kaisar”. Kini acara pelantikan akan segera dimulai, Jee mulai memakai jubah merahnya, kemudian berjalan keluar dari pondok penasehat. Jee berjalan memasuki aula utama istana, semua menteri menyambut memberi hormat, Jee kembali membalas hormat, kemudian berjalan menghampiri Khan, bersujud memberi hormat, Khan tersenyum, bangkit berdiri dari singgasananya, berjalan menghampiri Jee dan memegang pundaknya “mulai sekarang kau adalah penasahet istana”, Jee kembali memberi hormat “saya siap memikul beban istana!”, semua orang di ruangan itu ikut memberi hormat, kini Jee telah resmi menjadi penasehat istana.


Di salah satu kastil di puncak gunung, Valir sedang duduk bersantai, ditemani beberapa botol arak dan juga ular putih berukuran besar melingkar dilehernya, kini ia mengganti lengannya yang putus dengan lengan buatan dari kayu. Masih asik bersantai, pintu ruangan dibuka, Shee masuk kedalam “pangeran Valir” kemudian memberi hormat “saya sudah memberikan pesan pangeran kepada tuan Jee”, Valir tersenyum “bagus, sekarang bakarlah benteng Laut Awan, tidak ada yang boleh memilikinya selain keluarga ku” Valir tertawa dengan puas.