NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
69



Bab 69.


 


Matahari mulai terbenam, Yuan kini diikat dikandang kuda, sementara Jiu dan Enel berjaga. “Sampai kapan kita harus bersembunyi di kandang bau ini?!” gerutu Enel, “kita harus menunggu Tsam kembali” jawab Jiu sembari mengasah belatinya, “cih! Jika dia bersenang - senang sebelum diriku, akan kubunuh dia!” gerutu Enel lagi. Sementara itu, Tsam menyamar masuk kedalam pondok pasukan naga, berbaur dengan sekitar, tidak ada yang menyadari jika Tsam adalah orang asing, bahkan Tsam makan malam bersama dengan beberapa orang pasukan, mata Tsam terus mencari sekitar, tetapi ia tidak menemukan Niki.


Di ruang latihan, Niki kembali berlatih tarung menggunakan boneka kayu, tubuhnya sudah dipenuhi keringat. “Sebaiknya kau makan dulu” Kin datang menghampiri, membawakan senampan makanan, “apa kau mau ikut berlatih?” sambut Niki, Kin menaruh nampan makanan itu tak jauh “aku hanya mampir sebentar, malam ini ada tugas jaga, mungkin lain kali, jangan sampai makanan ini basi” Kin beranjak pergi, Niki hanya tertawa kecil kemudian melanjutkan latihannya.


Malam semakin larut, Niki kini sedang beristirahat, memakan makanan yang dibawakan oleh Kin, “akhirnya aku menemukan mu” Tsam berjalan memasuki ruang latihan, Niki melihat kearah Tsam "aku tidak punya urusan dengan mu” jawab Niki sembari meminum sekantung air, Tsam tertawa kecil, kemudian mencabut pedangnya “tapi aku masih punya urusan dengan mu” Tsam maju menyerang, menebaskan pedangnya, Niki langsung mencabut pedang bunga dan menangkis tebasan Tsam. “Apa kau masih ingat denganku? bangau merah” Tsam kembali melayangkan serangan, Niki berhasil menghindarinya “tentu saja, bandit yang memeras warga desa”, Tsam tertawa kecil “baguslah jika kau masih ingat, pertarungan ini akan lebih menyenangkan" Tsam kembali maju menyerang, pertarungan pun terjadi.


Pertarungan sengit terjadi antara mereka berdua, Tsam berhasil menebaskan pedangnya melukai lengan kiri Niki, darah mulai mengalir keluar, Niki hanya bisa memegangi lukanya. Tsam mulai tertawa “ini menyenangkan sekali, tidak akan ada yang mengganggu pertarungan kita seperti tempo hari” Tsam kembali maju menyerang, Niki menghindari serangan Tsam, Tsam menebaskan pedangnya membabi buta, Niki terus menghidarinya, hingga ia melihat celah dan melayangkan tebasan ke lengan kanan Tsam, pedang Tsam pun terlepas dari genggamannya, Niki melanjutkan serangannya, sebuah tebasan telak mengenai tubuh Tsam, Tsam pun terjatuh.


Darah mulai mengalir keluar, tetapi tebasan Niki tidak terlalu dalam, Tsam kembali bangkit berdiri “hampir saja” Tsam tertawa kecil, mengambil pedangnya dan kembali bersiap “bagaimana? Apa kau tidak akan menggunakan api biru itu lagi?”, Niki tertawa kecil “hanya untuk melawan mu? Sepertinya tidak perlu” – “cih! Sudah besar kepala!” Tsam maju menyerang, pertarungan kembali terjadi.


Pertarungan sengit berjalan imbang, beberapa luka sudah mengenai tubuh Niki dan juga Tsam. Tsam tertawa kecil “jurus pedang mu mengingatkan ku pada teman lama, apa kau mengenal nama anak iblis?” – “untuk apa menyebut namaku?” Sai berjalan masuk kedalam ruang latihan, Tsam terkejut melihat itu “tidak kusangka kau juga ada disini”, Niki melihat celah dan langsung menebas telak punggung Tsam, Tsam pun terjatuh, ia lengah.


Tsam mulai memuntahkan darah, kini situasi tidak menguntungkan baginya, Tsam pun melemparkan bola asap, lalu pergi menghilang. Niki memasukan kembali pedang bunga “sepertinya kita harus mencarinya”, Sai tersenyum “apa kau tidak ingin menyapaku terlebih dahulu?”, Niki tertawa kecil “aku sudah beberapa kali melihat senior sedang berbincang dengan senior Tang, ku kira senior tak ingin menyapaku” canda Niki dibalas tawa oleh Sai “jadi sekarang kau meniru jurus pedangku ya?” – “ku kira jurus itu sudah tidak ada yang pakai” canda Niki lagi.


Di kandang kuda, Tsam sedang mengobati luka-lukanya, “sepertinya para pasukan istana sudah mulai dikerahkan” kata Jiu yang masih melihat keadaan sekitar, “cih! Pasukan istana hanyalah sampah, akan aku habisi!” Enel bermaksud beranjak pergi, tetapi Tsam menahannya “jangan menimbulkan keributan lebih dari ini” – “lalu apa rencana selanjutnya?” tanya Jiu, Tsam berpikir sejenak “istana begitu luas, pasti ada tempat - tempat yang tidak tersentuh, kita akan bersembunyi didalam istana dan menunggu kesempatan berikutnya” – “kau yakin? Seharusnya kita keluar dari istana terlebih dahulu, didalam sini begitu beresiko” usul Jiu, Tsam terdiam sejenak “aku siap mengambil resiko itu, kembali pada ketua dengan tangan kosong jauh lebih beresiko”.


Matahari kembali terbit, kini Fei memanggil Sai, Tang, dan juga Vivian ke ruangannya. “Aku sudah mendengar tentang kejadian semalam” Fei membuka pembicaraan “dengan ini aku hanya punya satu perintah” Fei menghampiri Sai, menepuk pundaknya “dengan ini kau resmi menjadi pasukan istana kelas satu, bentuklah pasukan, tujuan utamanya adalah untuk menjaga Niki” Fei mendekatkan telinga Sai “dendam Shibaku masih berlanjut, mereka mengetahui jika Niki keturunan Tagatha” bisik Fei, Sai terdiam sejenak, kemudian mengangguk. Selama satu hari penuh, Tang dan Vivian terus mengerahkan pasukan istana untuk mencari Tsam.


Matahari mulai terbenam, disalah satu ruangan, Sai mulai mengumpulkan pasukan yang berjumlah lima orang, Kiba, Niki, Kin, Law, dan yang terakhir Pingping. “Maaf menganggu waktu kalian, perkenalkan namaku adalah Sai, kalian bisa memanggilku dengan sebutan ketua” Sai membuka pembicaraan “jendral Fei menugaskan ku untuk membentuk pasukan, dan kalian adalah orang - orang yang kupilih, ada dua hal yang membuat kalian kupilih, yang pertama, kalian pernah bertugas bersama dan juga memiliki keahlian khusus, lalu yang kedua, aku bisa mempercayai kalian”.


Seisi ruangan terdiam mendengarkan Sai, “pasukan kali ini kuberi nama pasukan macan kumbang, aku akan memberikan jubah hitam sebagai identitas pasukan ini, jika ada yang keberatan, bisa meninggalkan ruangan” lanjut Sai, seisi ruangan masih terdiam. Tidak beberapa lama, Law mulai mengangkat tangan “apa saya tetap bisa membawa kera saya?”, Sai tersenyum “kera itu menjadi salah satu alasan kau ada diruangan ini”, Law pun langsung memberi hormat “saya siap mengikuti perintah!” kemudian diikuti seisi ruangan. Disisi lain, Pingping masih memperhatikan Niki, semenjak Niki kembali ia belum berbicara sepatah katapun.


Malam semakin larut, Niki dan Kin kembali ke barak pasukan naga. “Apa kau tidak akan bicara padanya?” Kin membuka pembicaraan, “maksudmu?” tanya Niki, Kin tertawa kecil “tidak perlu pura - pura bodoh, Pingping, kau belum bicara sama sekali kan dengannya?”, Niki terdiam sejenak “ya..mungkin aku akan mulai bicara dengannya”.


Disisi lain istana, di gudang penyimpanan makanan, Enel sedang mencekik dua orang pasukan istana, bermaksud mencuri makanan, dalam sekejap kedua pasukan itu tidak sadarkan diri “dasar pasukan sampah” – “ternyata kau salah satu dari penyusup itu” Zeke datang menghampiri, Enel melepaskan cekikannya “kau mau mati juga ya?”, Zeke tersenyum kecil “tidak, tetapi penasehat Jee mengundang anda untuk minum teh”.