
Bab 56.
Liang mencabut pisau - pisau yang menancap ditubuhnya “dasar penganggu!”, Vivian tertawa kecil “sepertinya aku mulai mengingat wajahmu”, Liang mulai bangkit berdiri “percuma saja, sebentar lagi ingatan itu sudah tidak dibutuhkan!” Liang maju menyerang kearah Vivian, pertarungan pun terjadi. Vivian membawa pertarungan itu hingga keluar dari ruang pengobatan, Liang terus menghujani Vivian dengan serangan, Vivian mulai terdesak, hingga sebuah tendangan menghantam tubuhnya, Vivian pun jatuh terpental. Baru Vivian bermaksud bangkit berdiri, Liang sudah kembali menyerang, tidak memberikan waktu untuk Vivian, Liang bermaksud menghantam Vivian dengan cakar elangnya, tetapi tiba - tiba Tang datang, melayangkan tinju besinya menghantam telak Liang, Liang terpental hingga menembus dinding. “Maaf terlambat” sapa Tang, “cih! Dasar tukang pamer!” jawab Vivian sembari bangkit berdiri.
Liang mulai bangkit berdiri, tubuhnya terasa remuk, “bagaimana? Kau tidak lupa dengan wajah kami kan?” ejek Tang, Liang menghapus darah di bibirnya “semakin menarik saja, tidak kusangka akan semenarik ini” Liang mulai membelah diri menjadi tiga orang, Tang terkejut melihat itu “apa ada jurus seperti itu?” – “kenapa? Kau takut?” ejek Vivian. Liang bermaksud menyerang, tetapi tiba - tiba ia tidak bisa menggerakan tubuhnya, Fei sudah berdiri dibelakang Liang, ia mengeluarkan tekanan tenaga dalam yang sangat besar hingga membuat Liang tidak bisa begerak. “Cih!” gerutu Liang, Tang melihat celah, langsung melayangkan tinju besinya menghantam telak ketiga Liang sekaligus hingga terpental cukup jauh. Liang masih terkapar, seketika lusinan pasukan istana mulai mengepung Liang, “tangkap dia” perintah Fei.
Hari berlalu, kerusakan parah terjadi di ruang pengobatan, kini Fei dipanggil untuk menemui Kaisar, para penasehat, dan juga jendral lainnya. “Apa yang terjadi? kau tahu kan kerusakan yang di akibatkan oleh pasukan mu itu?” Kumo membuka pembicaraan, “seorang pembunuh masuk kedalam istana, apa salah bagi pasukanku untuk membela diri?” jawab Fei, seketika Roku menghantam meja, ia geram mendengar jawaban Fei “pasukan mu sudah berulah di istana, kemudian kau masih berani menjawab!” – “bukankah lebih baik tidak memperkeruh suasana? saya rasa jendral Fei hanya mengatakan yang sebenarnya, jadi jendral, apa yang sebenarnya terjadi? apa yang diincar pembunuh itu?” Jee mencoba menenangkan suasana. Tidak beberapa lama, pintu ruangan dibuka, para pasukan membawa Niki masuk kedalam, melempar Niki hingga terjatuh, tangan Niki pun sudah dirantai, “kami menemukannya, di ruang pengobatan, dia tidak terdaftar dalam pasukan manapun” lapor salah satu pasukan, melihat itu Kumo segera bangkit berdiri, berjalan menghampiri Niki “ternyata masih ada penyusup ya” Kumo bermaksud melayangkan tendangan, tetapi Fei segera menahan tendangan Kumo. Kumo terkejut melihat itu “apa yang kau lakukan?” – “kau salah, dia salah satu pasukanku” jawab Fei yang membuat seisi ruangan terkejut, “apa lagi ini?!” bentak Roku, Fei mengeluarkan sebuah gulungan, memberikannya kepada Khan “ini adalah berkas pendaftarannya, pemuda ini sudah menjadi pasukanku saat terjadinya penyerangan”, Niki terkejut mendengar itu. Khan membaca gulungan itu “sepertinya Fei memang mengatakan yang sebenarnya”, Fei tersenyum, mencabut pedangnya, kemudian memotong rantai yang mengikat Niki, “Dasar kurang ajar!” Roku kembali menghantam meja, ia semakin geram melihat ulah Fei. “Jendral besar mohon tenanglah” Kang berusaha menenangkan “jendral Fei melakukan tindakan yang benar, masalah kerusakan dapat diperbaiki dalam beberapa hari” – “Cih!” Roku bangkit berdiri dan beranjak pergi meninggalkan pertemuan, Khan hanya bisa menghela nafas “sepertinya pertemuan ini sudah bisa dibubarkan”.
Matahari mulai terbenam, Vivian membawa Niki ke pondok pasukan naga, pondok besar yang menjadi markas sekaligus tempat tinggal pasukan naga. “Ini berkas-berkas mu” Vivian memberikan sebuah gulungan “kau akan kutempatkan di pasukan kelas tiga, aku tidak ingin kau terlalu mencolok, jika pihak istana menemukan nama mu di gulungan hitam, aku tidak bisa menjamin keselamatan mu, apa kau mengerti?”, Niki mengangguk. Kini Vivian membawa Niki memasuki salah satu barak “kau bisa tidur disini” – “akhirnya datang juga” sambut Kin, “lama tak jumpa” balas Niki, “Kin kuserahkan Niki kepadamu” kata Vivian kemudian beranjak pergi, Kin mengangguk “selamat datang kembali di pasukan naga”. Malam itu Kin mengajak Niki untuk makan malam bersama di aula, semua pasukan istana berada disana, Kin pun mengambil tempat duduk, diikuti Niki, mata Niki masih melihat-lihat sekitar, “kau mencari Pingping?” tanya Kin yang membuat Niki sedikit salah tingkah “ah tidak, hanya mengingatkan ku pada Tebing Langit”, Kin tertawa kecil “Pingping mendapat tugas jaga malam ini” canda dua sahabat yang lama tidak bertemu. Niki masih menikmati makan malamnya, “dari yang kudengar, kau ditempatkan di pasukan kelas tiga?” Kin membuka pembicaraan disela-sela makan, Niki mengangguk, “aku tidak mengerti, seharusnya dengan kemampuan mu, kau ditempatkan di pasukan kelas satu” lanjut Kin, “memangnya apa yang salah dengan pasukan kelas tiga?” tanya Niki, Kin menghela nafas “kau sama sekali tidak tahu ya, akan kujelaskan, pasukan di istana terdiri dari tiga kelas, kelas satu, kelas dua, dan kelas tiga, pasukan kelas satu adalah pasukan yang ditugaskan langsung dibawa perintah jendral, sedangkan pasukan kelas dua adalah pasukan yang ditugaskan untuk melakukan penjagaan dan pengawalan, seperti aku dan Pingping, lalu yang terakhir adalah pasukan kelas tiga, mereka hanyalah pasukan bantu-bantu untuk mengurus barang” – “jadi tugasku hanya perlu mengangkat barang kan? Mudah” jawab Niki yang membuat Kin kembali menghela nafas “kau ini..”.
Malam semakin larut, Fei masih bermain catur seorang diri di loteng istana. Tidak beberapa lama, Tang datang menghampiri “jendral” Tang memberi hormat “saya sudah..” Fei menghentikan sebelum Tang selesai berbicara “temani aku bermain catur”, Tang mengangguk dan duduk menemani Fei. Entah sudah beberapa permainan, Tang selalu dikalahkan oleh Fei, “jendral terlalu pandai” puji Tang, “bukan begitu, bermain catur hanya masalah ketelitian, siapa yang terlebih dahulu melakukan kesalahan” jawab Fei, “ya..tapi jendral seperti bisa membaca langkah selanjutnya” Tang tertawa kecil. “Oiya, kau kemari untuk membawakan kabar apa?” tanya Fei, Tang pun mengeluarkan sebuah gulungan “saya mencoba untuk mengirimkan pesan kepada Sai, dan mendapatkan balasan”, Fei sedikit terkejut mendengarnya, kemudian membaca gulungan itu, gulungan yang berisi peta dan koordinat, “setelah saya teliti, sepertinya itu adalah cara aman untuk masuk ke kota Mawar Merah” lanjut Tang, “apa kau yakin pesan ini dari Sai? Bukan jebakan para bandit gurun?” tanya Fei, “saya mengirimkan pesan memakai kode rahasia, saya yakin hanya Sai yang bisa menjawab pesan itu, para bandit gurun tidak akan bisa membacanya” jawab Tang meyakinkan Fei, Fei menghela nafas “baiklah kalau begitu, lakukan yang harus kau lakukan, ini adalah perjalanan dalam bayangan, kau mengerti maksudku kan Tang?” Fei menekan nada bicaranya, Tang mengangguk. Perjalanan dalam bayangan adalah perjalanan rahasia yang tidak boleh diketahui siapapun, tidak boleh ada kesalahan, tidak boleh ada sedikit pun desas-desus tentang perjalanan ini.