NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
62



Bab 62.


 


Matahari baru saja terbit, armada kapal Cahaya Fajar masih terombang - ambing di tengah lautan, Harl sedang berlatih tarung dengan selusin pasukan, para pasukan ditumbangkan dengan mudah oleh Harl. Tidak beberapa lama, Cilion datang menghampiri “kau sudah bangun pangeran?” – “aku tidak bisa tidur semalaman” jawab Harl sembari membasuh keringatnya dengan handuk, “akhir -akhir ini sepertinya pangeran jadi susah tidur” Cilion mengambil tempat duduk, Harl mengambil pedangnya yang diletakan tak jauh, kemudian mencabutnya “setiap aku memejamkan mata, seakan aku mendengar suara ayah yang meminta agar dendamnya dibalaskan, dengan begitu baru ia bisa tenang”.


Cilion tersenyum “ya memang itu yang seharusnya dilakukan oleh seorang anak”, Harl menancapkan pedangnya “tetapi tua bangka itu malah memilih untuk delegasi! dasar brengsek!”, Cilion menghampiri Harl, menepuk pundaknya “kita tumbuh bersama, saya yakin akan ada waktunya pangeran yang duduk di takhta itu”, Harl tersenyum “ya, pamanku memang tidak cocok duduk di kursi Kaisar”.


Armada kapal Cahaya Fajar kini semakin mendekati daratan, Jee sedang duduk di dek kapal, menghisap cerutu sembari menikmati hembusan angin. Tidak beberapa lama, Kumo datang menghampiri “tidak bisa tidur penasehat?”, Jee menghembuskan asap cerutu “tidak juga, aku hanya sedang menikmati udara pagi, bagaimana? Malam mu menyenangkan jendral?”, Kumo tertawa “tentu saja, kau melewatkan kesempatan penasehat, perempuan Cahaya Fajar memang menakjubkan”, Jee hanya membalas senyum.


Di dermaga istana, perlahan armada kapal Cahaya Fajar mulai terlihat dari kejauhan, para pasukan yang berjaga segera mengibarkan bendera merah sebagai tanda. “Sepertinya sudah waktunya bekerja” Sun melihat kibaran bendera merah dari istana “segera beritahu para jendral, dan juga tutup semua perbatasan” perintah Sun kepada Roo, Roo mengangguk dan beranjak pergi.


Semua pasukan istana mulai berkumpul di dermaga, membentuk barisan untuk menyambut armada kapal Cahaya Fajar, Sun juga berada disana. Armada kapal Cahaya Fajar mulai berlabuh, “pangeran kita sudah sampai” Cilion mengabari Harl yang sedang menikmati sebotol arak, “aku mengerti” Harl bangkit berdiri, mengambil pedangnya, tetapi tiba - tiba Cilion menahan pedang Harl “tidak seharusnya seorang pangeran membawa pedang, hanya akan mencoreng nama pasukan Cahaya Fajar”, Harl menghela nafas, kemudian melepaskan pedangnya.


Tangga kapal diturunkan, Jee turun dari sana diikuti dengan Kumo, kemudian disusul Harl dan juga Cilion, Sun dan para pasukan istana memberi hormat “selamat datang, Kaisar sudah menunggu kedatangan anda”. Sun mengantarkan Harl ke ruang makan istana “delegasi Cahaya Fajar sudah datang” Sun membawakan kabar, Harl mulai memasuki ruang makan diikuti Cilion, Jee, dan juga Kumo. Ruang makan istana sudah ramai, Khan dan juga para jendral berada disana, Harl memberi hormat “sebuah kehormatan bisa disambut langsung oleh Kaisar Bulan Sabit, Khan bangkit berdiri “selamat datang di kekaisaran kami, mari silahkan..” Khan mempersilahkan Harl untuk duduk.


Berbagai macam hidangan telah ditaruh diatas meja, Khan mengajak Harl untuk makan bersama, “terima kasih, Kaisar sangat baik” kata Harl sembari meminum segelas arak, “setahun terakhir kami telah menjalin hubungan baik dengan Kaisar Rades, sudah seharusnya kami menyambut pangeran dengan baik pula” Khan juga meminum araknya, Harl tersenyum “Kaisar Rades memang sangat murah hati, mari bersulang untuknya” Harl meminum kembali araknya diikuti Khan.


Sambutan makan berjalan cukup lama, tidak ada pembahasan serius antara Kaisar dan juga pangeran, hanya saling berbasa - basi. Sedangkan para jendral hanya duduk mendengarkan, tidak berbicara sepatah katapun, para pasukan berjaga dibelakang mereka, termasuk Niki dan juga Vivian berdiri dibelakang Fei, Niki menggantikan Tang yang belum kembali ke istana.


Tidak beberapa lama, pintu penginapan dibuka, Sai masuk kedalam, ia baru saja kembali dari pasar, “senior Sai, apa kau tahu jika istana akhirnya melakukan delegasi?” sambut Kiba, “delegasi ya..” Sai menaruh belanjaannya di atas meja “menurut gulungan yang pernah kubaca, delegasi hanyalah awal terjadinya perang”, Tang tertawa kecil “yaa..aku juga berpikir serupa si”.


Di gua markas Naga Biru, seekor burung pengantar pesan baru saja hinggap, Kulu membaca pesan itu. Kara sedang berlatih dengan api birunya, tubuhnya sudah dibanjiri keringat, Kulu datang menghampiri “Cahaya Fajar telah datang ke istana” Kulu membawakan kabar, Kara masih terengah - engah, ia mulai mengatur kembali nafasnya “jadi apa rencana mu?”, Kulu tersenyum “memperlihatkan betapa rapuhnya Bulan Sabit”.


Matahari sampai dipuncak, Khan mengajak Harl untuk berjalan - jalan di istana sembari berbincang santai, Yamato dan Cilion mengawal mereka. Mata Harl masih memperhatikan sekitar “mengapa istana begitu sepi?”, Khan tersenyum “kami menyebarkan sebagian besar pasukan untuk berpatroli diseluruh kekaisaran” – “apa itu perlu? Bukankah lebih baik istana menjadi penjagaan utama?” tanya Harl lagi, Khan kembali tersenyum “yang terutama adalah penduduk, saya juga merasa istana ini sudah cukup aman”, Harl ikut tersenyum “sepertinya Kaisar adalah orang yang bijak”.


Khan dan Harl masih berjalan - jalan, “Kaisar, sudah cukup lama pasukan saya duduk diam di kapal” Khan membuka pembicaraan “apakah mungkin jika pasukan saya melakukan latihan tarung dengan pasukan istana, untuk meregangkan tubuh mereka” – “apa itu diperlukan pangeran?” potong Cilion, Khan tersenyum “tidak perlu terlalu kaku begitu, tentu saja, Yamato, segera siapkan”, Yamato mengangguk dan beranjak pergi.


Sebuah arena tarung didirikan dihalaman utama istana, para jendral juga sudah berada disana. “Apa - apaan ini?! mengajak latihan tarung, apa mereka ingin mengetes kemampuan pasukan kita?!” gerutu Roku, “tidak perlu terlalu kaku begitu jendral besar, lihat sisi baiknya, mungkin latihan tarung ini bisa menggantikan perang” celetuk Lei.


Tidak beberapa lama, Khan dan Harl datang, duduk di kursi yang sudah disediakan, tempat terbaik untuk melihat pertarungan, “baiklah, kita mulai saja Yamato” perintah Khan, Harl tersenyum “Cilion, suruh Garo kemari”, Cilion mengangguk kemudian beranjak pergi. Sun memasuki arena, kemudian memberi hormat “saya yang akan menjadi wasit untuk latihan tarung ini”, tidak beberapa lama Kal berjalan memasuki arena, sebagai perwakilan dari Bulan Sabit, kemudian disusul oleh seorang laki-laki, bertubuh tinggi dan juga gagah, tingginya dua kali lipat dari manusia pada umumnya, memakai masker menutupi setengah wajahnya, dan juga tanpa sehelai rambut pun di kepala, ia bernama Garo, dijuluki beruang hitam.


Semua orang terkejut melihat Garo, “apa - apaan orang itu, dia besar sekali” celetuk para pasukan, Kal pun menelan ludah melihat lawannya, “apa kalian sudah siap?” tanya Sun, Kal mengangguk, begitu pun Garo, “baiklah kalau begitu, mulai!” Sun memberi aba - aba untuk bertarung. Kal mulai memasang kuda - kuda dan maju menyerang, ia menyerang dengan sangat cepat, mendaratkan tendangan ke kepala Garo, seluruh pasukan bersorak dalam hati, tetapi kemudian terkejut, Garo sama sekali tidak beranjak, “Cih!” gerutu Kal.