NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
13



Bab 13.


 


Tubuh Niki sudah berlumuran darah, tiga buah anak panah menusuk menembus tubuhnya, Niki mulai memuntahkan darah. Yuyu terlihat sangat panik, ia tidak bisa melakukan apa - apa, Niki kembali memuntahkan darah “Yuyu cepat lari!”.


Dipengungsian, Zazu dan Sai masih bertarung, tubuh mereka sudah dipenuhi luka - luka. “Hebat juga pedang hitam mu bisa menandingi golok nagaku” puji Zazu, “kau ingin bertarung atau berbincang?” Sai kembali menyerang Zazu, pertarungan yang sengit diantara mereka, Sai cukup kerepotan melawan Zazu, ia bukan lawan sembarangan.


Sai mulai berpikir untuk menggunakan jurus terakhirnya, jurus yang membuatnya mendapatkan julukan anak iblis, ia menggigit jarinya hingga berdarah, lalu mengoleskan darahnya pada pedang hitam. Baru Sai bersiap untuk melancarkan jurusnya, tiba - tiba Bao datang dan menghantam tubuh Zazu dari belakang hingga terpental, Bao menghantam menggunakan tenaga dalam. Zazu kesakitan, ia berusaha bangkit berdiri “Bajingan tengik! Kau pengembara dihutan itu kan?! Untuk apa kemari?!” teriak Zazu, Bao membuka topi capingnya, Zazu langsung terkejut melihat Bao.


Bao tersenyum dan langsung maju menyerang, dengan sekali pukulan ketubuh, Zazu kembali terpental, lagi - lagi Bao memukul menggunakan tenaga dalam. Melihat itu Kidan yang sedang bertarung dengan Vivian langsung memutuskan untuk menolong Zazu, “jangan biarkan mereka pergi!” teriak Vivian, Kidan membantu Zazu berdiri “kita harus mundur!” Kidan langsung melemparkan bubuk asap, lalu pergi menghilang.


Yinsa baru saja sampai di air terjun, Niki sudah terkapar tidak sadarkan diri, Yuyu duduk disamping Niki sembari menangis, sedangkan Lilia sudah pergi melarikan diri. “Sial ternyata terlambat” Yinsa mengangkat tubuh Niki dan membawanya kembali ke pengungsian.


Di Tebing Langit, Kong menghantam meja hingga hancur “bajingan! Bisa - bisanya Bao muncul begitu saja” Kong sangat kesal, “sudah ku katakan anda terlalu meremehkan musuh” jawab Oto yang duduk tak jauh. Pintu ruangan dibuka, Shibaku masuk kedalam “sepertinya keadaan tidak sesuai rencana ya” – “sepertinya satu persatu teman lama mu mulai bermunculan” jawab Kong dengan kesal, Shibaku tersenyum “aku hanya ingin memberi usul, lebih baik kita menambah bidak, aku sudah punya calonnya, suruh orangmu untuk menjemputnya” Shibaku lalu berjalan pergi, “cih! Merepotkan saja!” gerutu Kong.


Matahari baru saja terbit, Niki masih tidak sadarkan diri, terbaring didalam tenda pengobatan. Sai sedang menunggu dengan cemas didepan tenda pengobatan, Bao datang menghampiri “Sai bisa bicara sebentar?”.


Di istana kekaisaran, Fei baru saja memasuki gerbang istana. Kulu menyambut kedatangan Fei “selamat datang ketua Fei”, Fei turun dari kudanya “terima kasih telah menyambut” Fei memberi hormat, “mari Kaisar sudah menunggu” Kulu masuk kedalam istana diikuti Fei.


 


Tidak jauh darisana, Lou dan beberapa anak buahnya sedang berkuda menuju penjara batu, penjara dengan penjahat terkejam diseluruh kekaisaran, Kong memerintahkannya untuk menjemput seseorang. “Jadi pamanmu menyuruh kita untuk menjemput siapa?” tanya Kako, “aku juga tidak tahu dia siapa” jawab Lou sembari tetap berkuda.


Dilantai terbawah penjara batu, seorang tahanan diikat dengan lusinan rantai yang sangat kencang, lusinan tombak dipasang mengarah kearahnya, siap ditembakan jika ia bergerak. Penjaga baru saja sampai dilantai terbawah “sudah saatnya kau keluar dari sini”.


Tidak beberapa lama penjaga itu membawa keluar seorang tahanan laki-laki, memakai topeng perak menutupi mata, ia bernama Liang, dijuluki topeng perak. Penjaga membukakan borgol ditangan Liang kemudian masuk kembali kedalam penjara dan menutup gerbang, “jadi kau orangnya? meropotkan saja!” sambut Lou, Liang menatap tajam Lou, Lou langsung jatuh ketakutan, tatapan Liang memiliki aura membunuh yang sangat kuat. Liang menaiki kuda milik Lou dan berkuda pergi.


Liang berkuda memasuki salah satu kota, ia masuk kesalah satu rumah bunga, ia tampak bersemangat, sudah belasan tahun menekam didalam penjara. Matahari pun mulai terbenam, Liang sedang memakai pakaiannya, tiga orang perempuan tertidur pulas dibalik selimut, setelah itu ia langsung berjalan keluar dari rumah bunga.


Tiga orang penjaga menghentikan “kau belum bayar!”, Liang tersenyum “maaf aku tidak punya uang” lalu kembali berjalan, salah satu penjaga memegang pundak Liang “enak saja mau pergi!” tetapi tiba - tiba ia dan kedua penjaga lainnya langsung terjatuh ketakutan, lagi - lagi Liang menggunakan tatapan membunuhnya.


Liang berjalan keluar dari rumah bunga, “aku sudah lama menunggumu” sapa Oto dari atas kudanya, “jadi pemuda - pemuda lemah itu utusanmu?” tanya Liang, “dia itu keponakan dari King Kong putih, jaga prilakumu” jawab Oto, Liang tersenyum “jika Kong tidak suka, ia bisa mengatakannya langsung padaku” Liang naik keatas kudanya dan memacu pergi diikuti oleh Oto.


Malam itu Fei disambut makan malam oleh Khan, disana juga ada Kulu dan beberapa jendral lainnya. “Maaf saya merepotkan Kaisar” Fei bersulang, “kau tidak perlu sungkan Fei, jika kau mau besok pagi seribu pasukan akan menyerbu Tebing Langit” jawab Khan, “sepertinya hal seperti itu tidak diperlukan, ini adalah konflik internal, kami akan mengurusnya sendiri, yang terpenting adalah keselamatan para pengungsi” Fei meminum tehnya, “aku sangat mengagumi kebijakanmu, salah satu guru yang disegani” lanjut Khan sembari meneruskan makannya, Fei hanya diam tersenyum.


Liang dan Oto telah sampai di Tebing Langit, “sejak kapan tempat ini kalian duduki?” tanya Liang sembari turun dari kudanya, “belum lama, ada yang ingin bertemu denganmu” Oto berjalan masuk diikuti Liang. Shibaku sedang duduk minum teh, pintu ruangan dibuka, Oto masuk bersama dengan Liang, “selamat datang, akhirnya kau kembali” sapa Shibaku, Liang terkejut ketika mendengar suara itu “tuan Shibaku?!”, Shibaku tertawa “kenapa? wujudku sekarang jauh lebih tampan ya?”.


Matahari baru saja terbit, Fei sudah bersiap - siap untuk kembali ke pengungsian, “kau sudah mau pergi?” tanya Kulu, “aku harus bergegas jika tidak ingin bermalam diperjalanan, sampaikan salamku pada Kaisar” jawab Fei sembari naik ke atas kudanya, “kalau begitu selamat jalan” Kulu memberi hormat, Fei memacu kudanya pergi dari istana. Fei sama sekali tidak menceritakan tentang pengkhianatan Fong, ia tidak tahu harus percaya dengan siapa, ia yakin beberapa dari orang istana juga telah bersekongkol.


Matahari telah mencapai puncak, Bao baru saja sampai di gunung tiga jari, Su sedang duduk didalam goa sembari menghisap cerutunya “kau sudah kembali ya” sambut Su. Bao menurunkan Niki yang masih tidak sadarkan diri, sekujur tubuhnya dibalut perban, Bao menggendong Niki selama perjalanan. “Apa yang terjadi dengan anak itu? Kau yang menghajarnya?” tanya Su melihat keadaan Niki, “pengungsian diserang” jawab Bao sembari menuang segelas teh, “lalu untuk apa kau membawa anak ini kemari?” tanya Su lagi, “aku akan melatihnya” jawab Bao yang membuat Su tersenyum “baiklah aku akan meninggalkan kalian”.