
Bab 10.
Malam yang tenang di Tebing Langit, para penjahat mulai menyusup ke depan tembok benteng, menyalahkan obor dan mulai membakar hutan. Kebakaran hutan terjadi, para pasukan benteng mulai panik. Di ruang pengobatan, Niki sedang berbincang dengan Kin yang sudah sadarkan diri, sembari memakan buah yang dibawanya. Yuyu masuk ke ruang pengobatan “terjadi kebakaran hutan!” kata Yuyu yang masih terengah - engah.
Para penjahat memanfaatkan kepanikan untuk masuk dan mulai menyerang, tiga orang penjahat masuk kedalam ruang pengobatan, Yuyu berteriak ketakutan, para penjahat berusaha menyerang Yuyu, tetapi Niki langsung menyerang mereka, tidak berapa lama para penjahat berhasil dijatuhkan, “sepertinya bukan kebakaran hutan, ayu pergi!” Niki membopong Kin keluar dari ruang pengobatan diikuti Yuyu.
Pertempuran pecah di tebing Langit, Kidan sedang asik menebas para pasukan benteng, tiba - tiba Tang datang dan langsung menyerang dengan sepasang kapaknya, Kidan berhasil menghindari serangan itu. “Aku ada urusan dengan yang lain” kata Kidan, “aku tidak suka mengantri” Tang langsung menyerang lagi.
Wan datang keruangan Gema “tuan Gema harus segera pergi, kita diserang”, Gema hanya duduk manis sembari meminum tehnya, “tuan Gema?” Wan menghampiri, Gema tersenyum, mengeluarkan sebuah pedang dan langsung menusuk tubuh Wan. Pedang itu menembus tubuh Wan, Wan mulai memuntahkan darah “tuan Gema? Bukankah selama ini kita berhubungan baik?”, Gema tersenyum “kau sudah melupakan aku ya” Shibaku mengeluarkan suara aslinya, Wan terkejut “senior Shibaku?” Wan kembali memuntahkan darah.
“Dulu aku selalu memimpikan memimpin Tebing Langit, tetapi posisi itu justru diduduki oleh anak buahku sendiri, sungguh ironis” Shibaku mencabut pedang itu, Wan jatuh tergeletak “bukankah tuan Shibaku seharusnya sudah meninggal dunia?” Wan kembali memuntahkan darah, “aku sudah hidup kembali” Shibaku memenggal kepala Wan.
Wu masuk ke dalam ruangan “ketua Wan..” seketika Wu langsung terkejut melihat Shibaku memegang kepala Wan ditangannya, “apa yang kau lakukan!” Wu mencabut pedangnya, Shibaku tersenyum dan langsung menyerang, pertarungan pun terjadi, tetapi Wu bukanlah lawan yang sebanding, ditambah umurnya yang sudah menua. Shibaku berhasil menusuk tubuh Wu, Wu memuntahkan darah dan jatuh tergeletak.
Pasukan Tebing Langit berhasil ditekan oleh para penjahat. Lim sedang bertarung dengan para penjahat menggunakan tombaknya, tiba - tiba Kong datang dan menghantam Lim dengan gadah peraknya, Lim langsung terpental. “Apa yang kau lakukan?!” Lim bangkit berdiri, tiba - tiba sebuah rantai mengikat tubuhnya, Taka yang melakukannya, “bajingan kau berkhianat Kong!” teriak Lim, Taki mencabut pedang kembarnya dan langsung menebas kepala Lim, Kong tersenyum.
Tiba - tiba beberapa pisau dilemparkan kearah Kong, Taki menangkis semua pisau itu, Vivian yang melemparnya, “dasar pengkhianat, kubunuh kau!” Vivian mengeluarkan pisaunya dan mulai menyerang, pertarungan terjadi antara Vivian dan Taka - Taki, Kong berjalan pergi meninggalkan mereka. Semua pasukan Tebing Langit terus bertarung mempertahankan benteng mereka, bahkan Su dan Fei juga ikut bertarung.
“Pendekar gerbang ya, sebutan itu sudah dibuang sejak lama” kata Fei, Shibaku bangkit berdiri “membuang sebutan itu ya, untuk apa? Mengenang kematian aku atau kematian Tagatha?” – “meskipun wujudmu berubah, cara bicaramu tetap sama, ini untuk Tagatha!” Fei kembali menyerang Shibaku, pertarungan terjadi, mereka para pendekar gerbang adalah lawan yang sebanding.
Ditengah pertarungan tiba-tiba Su datang dan langsung menghantam tubuh Shibaku hingga terpental, “sepertinya aku benar-benar telah gagal menjadi guru ya” Su menghela nafas panjang, “lama tak jumpa guru, kau mau tahu kenapa kau gagal menjadi guru? Karna Tagatha selalu menjadi murid kesayanganmu!” Shibaku menyerang Su, mereka bertiga kembali bertarung.
Vivian masih bertarung dengan Taka - Taki, pertarungan yang sengit, tetapi Vivian lengah, Taka berhasil mengikat tubuh Vivian dengan rantai, kini Taki tinggal menyelesaikan tugasnya, tetapi Sai tiba - tiba datang dan memotong rantai Taka dengan pedang hitamnya, kemudian menendang tubuh Taki hingga terpental. “Taki!” Taka langsung menolong adiknya, “terima kasih” kata Vivian, “kita pergi sekarang!” Sai beranjak pergi diikuti Vivian.
Shibaku masih bertarung dengan Su dan Fei, mereka bertarung dengan sengit, “kekuatan kita seimbang, kalian tidak akan bisa mengalahkanku” kata Shibaku, “Fei kita harus mundur, pasukan kita tertekan” usul Su, “sial! Sampai bertemu lagi!” Fei melemparkan bubuk asap, lalu menghilang bersama dengan Su. Para pasukan Tebing Langit yang tersisa kini pergi melarikan diri, para penjahat berhasil menduduki Tebing Langit.
Yinsa membawa pergi para pekerja Tebing Langit, berlindung disebuah air terjun, Niki, Kin, dan Yuyu juga berada disana. “Kita sembunyi disini, mereka akan menyusul” kata Yinsa menenangkan para pekerja. Matahari sudah terbit, para pasukan yang tersisa berhasil kabur dan berkumpul di air terjun, mereka semua duduk terdiam terpukul akan kekalahan.
“Jadi bagaimana sekarang, apa kita berlindung ke Kaisar?” tanya Enma, “kita butuh ketua baru, Fei kini kau menjadi ketua, tidak bisa menolak lagi” kata Su langsung pada intinya, dengan berat hati Fei mengangguk “kalau begitu, kita akan membuat perlindungan sementara ditempat ini, sekarang yang terpenting adalah keselamatan kalian” Fei melihat kearah Su “bagaimana dengan guru?”, Su tersenyum “aku masih ada urusan lain, menemui muridku yang lain”.
Shibaku kini sudah menduduki Tebing Langit, para penjahat sedang merayakan, Oto memperhatikan itu semua dari atas tembok benteng. Seorang laki - laki memakai jubah merah bertudung menghampiri, ia bernama Valir, dijuluki taring ular, pangeran benteng Laut Awan. “Ayah menyampaikan salam” kata Valir, Oto hanya tersenyum.