NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
33



Bab 33.


 


Petasan asap di ledakan, asap bewarna merah terlihat sampai ke langit. “Itu pasti tandanya!” Wen, Cou, dan Yeo segera memacu kuda mereka. Asap merah itu terlihat dari gerbang pondok penyimpanan khusus “sial mereka sudah sampai disana!” gumam Zazu dalam hati, Kulu juga melihat asap merah itu “jadi Kang benar - benar ada disini, serahkan dia padaku, akan kuberikan lima peti emas padamu” Kulu membuat penawaran, Zazu tertawa “apa mulut busukmu itu bisa dipercaya?”.


Niki masih menunggu kedatangan Wen dan para pasukan “kau pergilah darisini, kericuhan akan terjadi” kata Niki kepada Ann, “pondok penyimpanan berbentuk labirin, kau akan tersesat didalam” Ann menolak untuk pergi, tidak beberapa lama Wen dan para pasukan datang “siapa dia?” tanya Wen, “pemandu jalan, senior Cuo, senior Yeo, berjagalah disini dan pinjamkan kuda kalian” kata Niki, “cih!” Yeo kesal lagi - lagi diperintah oleh Niki. Kini Niki dan Wen berkuda memasuki pondok penyimpanan, Ann memandu mereka.


Zazu kini juga sudah berkuda memasuki pondok penyimpanan, mereka masuk melalui pintu lain, Lilia, Kulu, dan juga Shee mengikuti dari belakang. Sepertinya Zazu sampai terlebih dahulu di pusat labirin, ia segera turun dari kudanya dan membuka kain penutup kandang Kang, Kang terkejut saat melihat siapa yang datang bersama Zazu.


Kulu tersenyum “jendral sialan! Kau susah mati ya” Kulu mencabut pedangnya bermaksud membunuh Kang saat itu juga, tetapi Zazu menahan “kau tidak boleh menyentuhnya sebelum membayar” – “cih!” Kulu memberikan isyarat pada Shee, Shee segera membuka sarung tangannya, tangannya bewarna hitam, tangan yang terinfeksi. Shee menyentuhkan tangannya ke tubuh Zazu, Zazu pun berteriak, kini infeksinya ikut menyebar.


“Apa yang kau lakukan!” Lilia menendang Shee menjauh. Kulu melihat celah, ia pun segera melayangkan tusukan ke tubuh Kang, tetapi Wen datang tepat pada waktunya, ia mencabut pedangnya menangkis serangan Kulu dan melayangkan hantaman tapak es ke tubuh Kulu, Kulu pun terjatuh, ia memuntahkan darah, seketika tubuhnya terasa dingin. Lilia bermaksud mengeluarkan busur panahnya, tetapi Niki terlanjur datang, mengeluarkan kerambitnya dan menebas lengan Lilia, busur panah itu pun terjatuh. Lilia terkejut saat melihat Niki, ia seperti melihat hantu, Niki menginjak busur panah Lilia hingga hancur, ia tidak membiarkan Lilia memanah.


Wen memotong kandang dan juga rantai yang mengikat Kang “cepat kau pergi duluan!” Wen menarik Kang keluar dari kandang. Zazu masih bisa menggerakan tubuhnya, ia mengambil goloknya dan bermaksud menebas Wen, Wen menangkis dengan pedangnya, getaran besar pun terjadi. Niki melihat celah, ia melompat dan menebas kaki Zazu hingga terjatuh “kita pergi sekarang!” Niki dan Wen segera pergi darisana. “Kejar mereka!” teriak Zazu sembari menahan sakit akibat infeksi yang menyebar di tubuhnya, Lilia mengambil pedang Kulu yang jatuh tergeletak kemudian berlari mengejar, sedangkan Kulu masih terkapar, tubuhnya menggigil akibat serangan Wen.


Kini Wen dan para pasukan berkuda keluar dari dalam labirin, Cuo dan Yeo sudah menunggu, mereka sedang bertarung dengan para bandit. “Cepat kita akan terkepung!” kata Cuo sembari bertarung dengan para bandit, “mereka terus berdatangan!” timpal Yeo, Niki turun dari kudanya “dimana senior Sai?” – “apa kau pikir kita sempat memikirkannya?!” jawab Yeo, Niki mengeluarkan kerambitnya “kalian pergilah terlebih dahulu, aku akan menyusul bersama senior Sai, utamakan keselamatan jendral dan penasehat” Niki meledakan petasan asap.


Asap merah mulai terlihat sampai ke langit, Kiba melihat itu dari kejauhan, asap merah kedua sebagai tanda jika mereka akan melarikan diri, Kiba pun meladakan petasan asap, petasan asap ketiga sebagai tanda lokasi untuk melarikan diri. Asap merah mulai terlihat sampai ke langit, “ayu cepat!” Yeo memacau kudanya diikuti yang lain, “apa tidak masalah meninggalkan mereka?” tanya Cuo sembari memacu kudanya, “aku tidak peduli! anak muda itu tidak menyayangi nyawanya” Yeo memacu kudanya lebih cepat.


Sai sedang bertarung dengan para bandit, ia mulai terkepung, tetapi tiba - tiba Niki datang dan melumpuhkan beberapa bandit “senior kita harus pergi sekarang!” Niki melemparkan bubuk asap, lalu pergi menghilang bersama dengan Sai.


 


Kini kuda Kidan semakin dekat, “kau yang pertama!” Kidan mencabut salah satu pedangnya dan melompat kearah Yeo, ia bermaksud untuk menebas, Yeo tidak bisa menghindarinya, tebasan Kidan akan mengenainya telak, tetapi Wen terlebih dahulu mencabut pedangnya dan menahan serangan itu “jangan lengah! Kalian pergilah terlebih dulu, pastikan jendral selamat!” Wen melompat dari kudanya, kini ia menghalangi Kidan dan Lilia untuk mengejar.


Lilia terus memacu kudanya dan menabrak Wen, tetapi Wen sama sekali tidak bergerak, Lilia dan kudanya lah yang terjatuh, Kidan terkejut melihat itu. “Dasar tua bangka!” Kidan mencabut salah satu pedangnya lagi, kini ia menyerang Wen dengan dua pedang, lagi-lagi Wen menangkis tebasan Kidan, Kidan terus menyerang Wen tetapi ia tidak menemukan celah sedikit pun. “Kidan tolong aku!” teriak Lilia menahan sakit, kaki kirinya remuk tertimpa kuda, “cih!” gerutu Kiba, ia bimbang harus melawan Wen atau menolong Lilia, Wen tersenyum “bantulah teman mu” Wen memasukan kembali pedangnya, “kau melakukan kesalah tua bangka!” tetapi Kidan justru menyerang Wen, Wen hanya tersenyum, tebasan Kidan telak mengenai tubuh Wen, tetapi kemudian kedua pedang itu patah, Kidan terkejut melihat itu.


Sai dan Niki berkuda mendekat, Sai melihat pertarungan antara Wen dan Kidan, Sai mencabut pedang hitamnya dan bermaksud menyerang Kidan dari belakang, “Kidan awas!” teriak Lilia, baru Kidan ingin menengokan wajahnya, sebuah tebasan telak mengenai tubuhnya, Kidan pun terjatuh. “Kita pergi penasehat!” Sai memasukan kembali pedangnya, Wen naik kembali keatas kudanya dan berkuda pergi diikuti Sai dan Niki.


Kang dan para pasukan baru saja sampai di lokasi Kiba, “dimana yang lain?” tanya Kiba, “mereka menyusul, kita harus pergi darisini!” jawab Yeo, “tidak! Kita menunggu mereka disini, aku sudah memasang jebakan, tenang saja” kata Kiba, mendengar itu Yeo turun dari kudanya dan langsung menghantam Kiba hingga terjatuh “tenang katamu! Puluhan bandit sedang mengejar kita!” teriak Yeo dengan gemetar, Kiba hanya diam tidak membalas.


“Hentikan!” teriak Sai sembari berkuda mendekat bersama Wen dan Niki, “kau sudah kembali senior” Yinsa menghapus darah di bibirnya kemudian bangkit berdiri, “kita berangkat sekarang” kata Sai kemudian memacu kudanya, Kiba naik keatas kudanya dan ikut memacu, Yeo masih terdiam, gemetar ditubuhnya belum berhenti, “jika kau takut, kau bebas kembali ke kampung halaman mu” kata Wen lalu memacu kudanya.


Kembali ke pasar malam, di pondok Zazu, “maafkan saya” Shee menuangkan air ke infeksi di tubuh Zazu, seketika infeksi itu luntur oleh air. Lilia dan Kidan juga sudah kembali, kaki kiri Lilia sudah dibalut perban, begitu pula dengan tubuh Kidan. “Sial, lagi - lagi harus mencari pedang pengganti” gerutu Kidan sembari memperhatikan gagang pedang yang patah, “hentikan ocehanmu” Lilia mengeluarkan selembaran kertas wajah Niki “tidak salah lagi, dia masih hidup, aku kira sudah membunuhnya waktu itu”, Kidan mengambil kertas itu “tinggi juga harga kepalanya, sepertinya sebentar lagi akan masuk gulungan hitam”.


Kulu terbaring, tubuhnya masih menggigil, Shee menyelimutinya dengan jubahnya, “kalian pergilah dari sini sebelum aku berubah pikiran” kata Zazu, “apa anda tahu cara menghilangkan luka jurus ini?” tanya Shee, “tapak es jurus yang hampir punah, sepertinya saat ini sudah tidak ada yang bisa menyembuhkan luka jurus itu” jawab Zazu, “kumohon, anda pasti terpikiran sesuatu” Shee memberi hormat, Zazu tersenyum “tidak ada yang gratis di pasar malam”.