NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
29



Bab 29.


 


Tengah Malam, Jalur Lebah, Kara dan Oto, serta selusin anak buah baru saja sampai. Kara turun dari kuda “belum ada tanda - tanda dari mereka” – “mungkin sebentar lagi” Oto juga turun dari kudanya. Kin terkejut melihat Kara “aku mengenalinya, dia yang menyerang saat tugas akhir seleksi pasukan baru” bisik Kin kepada Vivian, Vivian mengeluarkan pisaunya “sepertinya aku mulai mengingatnya”.


Tidak beberapa lama Sora datang bersama beberapa orang pasukan membawa salah satu kereta kuda, Sora turun dari kuda “malam ini bulan bersinar” – “tetapi tidak seterang biasanya” jawab Oto, itu adalah kata sandi pengiriman.


“Silahkan” Sora mempersilahkan Oto untuk memeriksa kedalam kereta kuda, Oto berjalan menghampiri dan mengecek kedalam kereta kuda, Vivian dan pasukannya masih memperhatikan dari balik pepohonan.


Jembatan Merah, Valir sudah disana menunggu, memakai tudung merah menutupi wajahnya, ia juga membawa beberapa pasukan. Tang dan pasukannya masih memperhatikan dari kejauhan, Tang mulai menyentuhkan jarinya ke tanah dan memejamkan mata, ia mulai merasakan getaran “sebentar lagi mereka datang”.


Tidak beberapa lama Shee dan pasukannya datang membawa salah satu kereta kuda, Shee turun dari kuda “malam ini bulan bersinar” – “tetapi tidak seterang biasanya” jawab Valir, Shee mempersilahkan Valir mengecek kereta kuda, Valir pun membuka tudungnya dan berjalan menghampiri kereta kuda.


Kang terkejut saat melihat wajah Valir “aku mengenalinya, dia adalah pangeran benteng Laut Awan” – “pangeran benteng?” Tang terlihat bingung, “tidak salah lagi, dia anak dari Jee” Kang mulai mencabut pedangnya.


Kuil Matahari, Hachi dan pasukannya sudah sampai disana, tetapi halaman kuil masih sepi, “seharusnya ini tempatnya” Hachi mengecek sekitar. Tidak beberapa lama pintu gerbang kuil dibuka, Rasa dan Enel masuk kedalam “maaf kami terlambat” sapa Enel, mereka hanya berdua tanpa membawa anak buah.


“Malam ini bulan bersinar” kata Hachi, Enel terdiam sejenak “wah sepertinya aku lupa dengan kata sandinya”, Hachi dan pasukannya mulai mencabut pedang mereka “sebutkan kata sandinya atau jangan mendekat!” Hachi mengacungkan pedangnya, “bisa - bisanya kau melupakan hal sepele seperti itu” Rasa bersiap mencabut pedangnya.


Yinsa dan pasukannya masih memperhatikan dari balik tembok kuil, “apa yang mereka lakukan, apa mereka bukan penerimanya?” Kiba terlihat bingung, Yinsa terus memperhatikan “tidak salah lagi, mereka adalah orang yang bertarung dengan penasehat Wen waktu itu, aku masih mengingat wajahnya”.


Jalur Lebah, Oto baru saja selesai mengecek kedalam kereta kuda “bawa kereta kuda ini!” perintah Oto kepada anak buahnya, mereka pun turun dari kuda dan berjalan menuju kereta kuda. “Hujani mereka!” perintah Vivian, seketika lusinan anak panah ditembakan kearah kereta kuda, beberapa anak panah mengenai anak buah Oto. “Bajingan kita diserang!” Kara mengeluarkan ceruritnya, lusinan anak panah kembali ditembakan, Oto berlindung dibalik kereta kuda.


Vivian dan pasukannya keluar dari pepohonan dan mulai menyerang, ia melemparkan beberapa pisau kearah Oto, Oto menangkis itu semua dengan cambuknya “kilat merah ya, kehormatan bertemu denganmu” – “banyak bicara!” Vivian mengeluarkan pisau dan maju menyerang.


Kin mencabut pedangnya dan menyerang kearah Kara, Kara menangkis serangan Kin, “ingat denganku?” Kin terus menghujani Kara dengan tebasan, Kara terus menangkis serangan Kin.


Pingping terus menghujani Sora dengan anak panah, tetapi Sora berhasil menghindarinya dan melompat menaiki pepohonan, kini ia berada dihadapan Pingping, mencekiknya kemudian mendorong Pingping, Pingping terjatuh dari pepohonan, tubuhnya terasa sakit, belum sempat ia bangkit berdiri, Sora sudah melompat turun dan kembali mencekik Pingping.


Jembatan Merah, baru Valir ingin membuka kereta kuda, tiba - tiba sebuah kapak dilemparkan dan mencancap tepat disamping Valir, Tang yang melemparnya. Kini Tang dan pasukannya mulai mengepung jembatan, Valir mulai mengeluarkan pisaunya, melihat kearah Kang “ku kira semua jendral sudah mati” – “jangan bercanda!” Kang maju menyerang, Shee mencabut pedangnya dan menangkis tebasan Kang, “cih!” gerutu Kang.


Kuil Matahari, Enel menghantam Hachi dengan palu besinya, Hachi terpental cukup jauh hingga menghantam tembok kuil, Rasa memasukan kembali pedangnya, ia baru saja menebas pasukan bayangan lainnya, “mereka cuma kecoa - kecoa tidak berguna” Enel tertawa.


Yinsa mencabut pedang besarnya “ini saatnya, alihkan perhatian mereka, aku akan menghancurkan kiriman itu” Yinsa melompati tembok kuil diikuti para pasukan, “lagi - lagi datang kecoa” Enel bersiap dengan palu besinya, Kiba melemparkan jaring untuk menangkap Enel dan Rasa, Rasa mencabut pedangnya dan menebas jaring itu dengan mudah.


Sementara Yinsa berlari menuju kereta kuda dan bermaksud menebasnya, tetapi Enel datang dan menghantam Yinsa dengan palu besinya, Yinsa pun terpental cukup jauh, Enel tertawa “sepertinya aku mengingat wajahmu”, Yinsa memuntahkan darah, ia berusaha bangkit berdiri, hantaman palu besi Enel sangat kuat.


Hujan turun semakin deras, di Jalur Lebah, Vivian sudah berlumuran darah, tubuhnya dipenuhi luka - luka, begitu pula dengan Oto beberapa pisau menancap ditubuhnya “harus kuakui kecepatanmu, kau pantas menyandang julukan kilat merah” Oto mulai memikirkan cara, ia bukanlah tipe yang bertarung secara terang - terangan, jika begini terus maka ia akan kalah.


Di sisi lain Kin dan Kara bertarung dengan sengit, kini mereka lawan yang seimbang, “sekarang aku mulai ingat, temanku pernah mengalahkanmu dengan mudah” Kara menahan tebasan Kin, “sepertinya kali ini tidak akan semudah itu” Kin kembali menyerang.


Dibawah pepohonan, Sora masih mencekik Pingping, Pingping mulai kehabisan nafas, ia memikirkan cara, mengeluarkan pisau dan menusuk tubuh Sora, Sora terkejut dengan itu, Pingping menendang tubuh Sora menjauh, ia mengambil busur panahnya dan menembakan anak panah, anak panah itu tepat mengenai kaki kanan Sora, Sora berteriak. Pingping kini berlari masuk kedalam hutan, “sialan!” Sora mencabut anak panah itu dan mengejar Pingping dengan tertatih-tatih.


Jembatan Merah, Kang masih bertarung dengan Shee, “apa yang kau lakukan?! Seharusnya pasukan bayangan melindungi Kaisar!” Kang mulai terengah - engah, “aku diperintahkan untuk menangkap pengkhianat seperti anda” Shee masih bersiap dengan pedangnya, “jangan bercanda!” Kang maju menyerang, Shee menahan serangan itu.


Kini Kang bertarung dengan Valir, Valir menghujani dengan lemparan pisaunya, Tang terus menangkis pisau - pisau itu dengan kampaknya, hingga satu titik Valir kehabisan pisau, Tang tersenyum “kau sudah kalah!” Tang melemparkan kapaknya, Valir bermaksud menghindarinya, tetapi terlambat, kapak itu mengenai lengan kanannya. Valir terjatuh, ia menahan sakit berusaha tidak berteriak, lengan kananya baru saja terpotong.


Kuil Matahari, Yinsa masih bertarung dengan Enel, Enel mengayunkan palu besinya dengan membabi buta, Yinsa terus berusaha menahan dengan pedang besarnya, Enel kini sudah jauh lebih kuat dari sebelumnya, ini akibat ramuan yang diminumnya. Hingga satu titik Enel mengayunkan palu besinya dengan sangat kencang hingga mematahkan pedang besar Yinsa, Yinsa terkejut melihat itu, Enel kembali mengayunkan palu besinya menghantam telak tubuh Yinsa hingga terpental masuk kedalam kuil, Yinsa jatuh tergeletak.