
Bab 45.
Musim silih berganti, musim dingin kembali datang dan berganti, musim panen mulai datang, satu tahun sudah berlalu semenjak Niki pulang, kini ia menjalani hidup sederhana layaknya seorang petani, ia pun sudah menginjak umurnya yang ke dua puluh. Hari yang terik, Niki sedang mencangkul di ladang, setelah itu ia membersihkan diri disungai dan kembali ke gubuk saat matahari terbenam. “Kau sudah kembali, bibi sudah memasakan sup” sambut Ni, istri dari Ji, banyak yang terjadi selama satu tahun terakhir, Ji sudah menikah dan bahkan sudah mempunyai bayi yang baru lahir. Malam itu mereka makan malam seperti biasanya, beberapa hidangan disajikan diatas meja, setelah makan Niki memutuskan untuk duduk di halaman dan menghisap cerutu, semenjak Niki pulang, Ji merasa Niki menjadi orang yang berbeda. Niki masih menghisap cerutunya, Ji menghampiri, duduk di samping Niki, memperhatikan padi - padi di ladang yang bergoyang tertiup angin “apa ini kehidupan yang kau inginkan?” Ji membuka perbicangan, “maksud paman?” tanya Niki, “sudah satu tahun kau kembali kesini, tetapi aku tidak pernah menanyakan alasan kau kembali” jawab Ji yang membuat Niki terdiam sejenak “aku tidak ingin membicarakan itu”. Ji menghela nafas “kau tahu kan gubuk jelek seperti ini tidak bisa dikatakan rumah, bahkan sebentar lagi aku akan menjual ladang ini dan pindah ke kota, membesarkan anakku, meneruskan kehidupan”, Niki kembali terdiam “kakek Su meninggal di depan mataku, bahkan aku sempat melawan orang yang membunuh kakek, tetapi semenjak itu aku kehilangan keinginan untuk bertarung”, Ji ikut terdiam mendengar itu, menepuk pundak Niki “seorang laki - laki akan menemukan jalannya sendiri”, Niki mengangguk “aku akan kembali tengah malam” kemudian beranjak pergi meninggalkan gubuk, pergi kedalam hutan untuk menenangkan diri, duduk di tepi sungai, suara aliran air sedikit membuat tenang.
Malam semakin larut, Ni dan juga bayi yang baru lahir itu sudah tertidur, sedangkan Ji masih tersadar menunggu Niki kembali. Pintu gubuk diketuk, Ji tersenyum, ia berpikir Niki sudah kembali, Ji membukakan pintu, ia terkejut melihat siapa yang datang, bukan Niki melainkan Liang “akhirnya kita bertemu lagi” Liang langsung menyerang Ji, pertarungan terjadi. Pertarungan itu menimbulkan kegaduhan dan membangunkan Ni, Ni terekjut saat melihat Ji sedang bertarung, “Ni pergilah!” teriak Ji yang masih bertarung dengan Liang. Ni pun segera menggendong bayinya dan melompat keluar jendela, tetapi Taka sudah menunggu disana “mau pergi kemana?” Taka menghantam Ni hingga tidak sadarkan diri. Liang masih bertarung dengan Ji, Ji bukanlah lawan sembarangan, “hentikan!” teriak Taka sembari menggendong bayi Ji, Ji terdiam melihat itu, Liang melihat celah dan menghantam Ji dengan cakar elangnya hingga terjatuh. Bayi Ji mulai menangis dengan kencang “berisik sekali!” Taka melempar bayi itu, “hentikan!” Ji berusaha bangkit berdiri, Liang langsung menginjak tubuh Ji “urusan mu belum selesai”. Tidak beberapa lama Kara datang, berjalan menghampiri Ji “Ji, lama tidak berjumpa, kukira waktu itu tidak ada yang tersisa dari rumah obat, dimana keturunan Tagatha?” Kara mengeluarkan api biru dan menodongkannya ke Ji, Ji terkejut mendengar Kara mengetahui soal keturunan Tagatha, “siapa kau?” tanya Ji sembari menahan sakit, Kara tersenyum “Shibaku belum mati” bisik Kara, Ji semakin terkejut mendengar itu, “masukan dia dan keluarganya kedalam gubuk, mereka akan menyusul Tagatha” perintah Kara, Liang pun langsung menyeret Ji dan melemparkannya masuk kedalam gubuk. Kini Ji terkapar didalam gubuk tidak berdaya, ia memeluk Ni dan bayinya yang sudah tidak sadarkan diri, di luar gubuk, Kara mulai mengeluarkan api birunya dan membakar gubuk, Kara tertawa kemudian beranjak pergi darisana.
Niki baru saja kembali dari sungai, ia sedang berjalan kembali ke gubuk, tetapi ia sangat terkejut saat melihat gubuknya terbakar, dilahap dengan api biru. Niki segera berlari masuk kedalam gubuk, Ji, Ni, dan juga bayi mereka sudah tidak sadarkan diri, Niki segera mengalirkan tenaga dalam ke tinju kirinya, ia bermaksud menghembuskan api biru itu hingga padam. Niki pun mengayunkan tinju kirinya menghantam udara, tetapi api biru itu tidak padam melainkan bertambah besar dan membakar lengan kiri Niki, Niki pun berteriak kesakitan, tiba - tiba atap gubuk runtuh dan menghantam Niki hingga tidak sadarkan diri. Matahari kembali terbit, Niki mulai sadarkan diri, ia membuka matanya perlahan, seketika ia teringat dengan kejadian semalam. “Paman!” Niki segera bangkit duduk, sekelilingnya sudah ramai, warga desa sekitar yang menolong, Niki terdiam sesaat melihat Ji, Ni, dan juga bayi mereka tergeletak, tubuh mereka mulai ditutupi kain, Niki pun bermaksud menghampiri, ia bangkit berdiri, menopang dengan lengan kirinya, tetapi lengan kirinya terasa sakit, ia pun kembali terjatuh, ia melihat lengan kirinya, kini lengan kirinya sudah dipenuhi luka bakar.
Kini semua jendral berkumpul disebuah ruangan, Khan meminta mengadakan pertemuan untuk membahas kekosongan kursi yang ditinggalkan Wen, hanya tersisa satu jendral yang belum datang, Fei. “Dimana Fei?” tanya Khan kepada Yamato, kini Yamato ditunjuk sebagai pengawal pribadi Kaisar. Belum sempat Yamato menjawab, pintu ruangan dibuka, Fei masuk kedalam diikuti Vivian dan juga Tang, kini Vivian dan Tang ditunjuk sebagai tangan kanan dan kiri Fei. “Maaf membuat Kaisar menunggu” Fei memberi hormat kemudian mengambil tempat duduk, kini semua kursi telah terisi, lima jendral, satu jendral besar, satu penasehat, dan juga Kaisar. “Sepertinya pertemuan kali ini sudah bisa kita mulai” Khan membuka pembicaraan “aku sudah menunjuk seseorang yang menurutku layak untuk menjadi penasehat istana” Khan memberi aba - aba kepada Toro, Toro pun mengangguk dan membukakan pintu, mempersilahkan seseorang masuk, orang itu adalah Jee. Semua orang di ruangan itu terkejut melihat Jee, Sun bangkit berdiri “maaf Kaisar, tetapi Valir anak dari Jee terlibat dalam pemberontakan, kumohon Kaisar memikirkannya kembali” Sun memberi hormat, Jee berjalan menghampiri, mengambil tempat duduk “mungkin anakku memang berkhianat, tetapi ia sudah mendapat ganjarannya, ia dibunuh oleh Tang” Jee melihat kearah Tang. Roku memberi hormat, kumohon Kaisar memikirkan kembali”, Khan meminum tehnya “aku sudah memikirkan ini berulang kali, kurasa Jee adalah orang yang paling tepat, ia sudah cukup lama mengabdi pada kekaisaran ini” – “tapi jendral..” belum selesai Roku bicara, Khan menghentikan “aku sudah memutuskan, kita akan mengadakan pelantikan dalam beberapa hari” – “cih!” Roku kesal mendengar itu, Jee tersenyum.
Kini pertemuan telah usai, Khan masih duduk berbincang dengan Jee. Toro datang memberi hormat “pondok penasehat sudah disiapkan”, Khan meminum tehnya “baiklah kalau begitu, kau antar Jee ke kamarnya” Khan bangkit berdiri “aku pergi dulu, aku ingin melanjutkan melukis” lalu beranjak pergi, Jee dan Toro memberi hormat. Satu tahun terakhir kekaisaran dalam keadaan tenang, semenjak pemberontakan berhasil ditekan, tidak ada hal - hal yang menganggu istana, setelah ratusan tahun, untuk pertama kalinya rakyat kembali mempercayai istana.