NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
20



Bab 20.


 


Matahari telah sampai dipuncak, Kereta kuda Kulu baru saja memasuki gerbang benteng Laut Awan, Kulu turun dari kereta kudanya, para pasukan memberi hormat “selamat datang jendral!”. Jee sedang menikmati makan siangnya, pintu ruangan dibuka “apa aku mengganggu?” sapa Kulu, “jendral, aku sudah menunggumu, silahkan duduk” Jee kembali meneruskan makannya.


Kulu duduk dihadapan Jee “keadaan semakin melenceng dari rencana” – “aku sudah mendengarnya, keluarga Caka membuat masalah bukan?” jawab Jee sembari tetap makan, “dia mengundurkan diri dari aliansi, anak ketiganya baru saja meninggal” lanjut Kulu, “lalu apa yang ingin kau lakukan terlebih dahulu, meluruskan rencana atau menutup mulut Caka?” tanya Jee, “meluruskan rencana, aku khwatir para penasehat mulai curiga jika para jendral terlalu lama tidak kembali” jawab Kulu sembari memberikan sebuah gulungan, “aku mengerti, serahkan saja padaku” Jee kembali menyuap makanannya.


Jee membawa gulungan itu, masuk ke dalam salah satu ruangan, ruangan yang gelap dan penuh dengan kandang berisi ular. “Untuk apa ayah kemari?” sambut Valir yang sedang memberi makan seekor ular, Jee memberikan gulungan itu “tugas untukmu, jangan sampai mencoreng nama ayah”, Valir mengambil gulungan itu “aku mengerti”.


Disebuah pondok di pojok istana, pondok penasehat. Kini para penasehat sedang mengadakan pertemuan di pondok itu, pertemuan panjang untuk membahas masa depan kekaisaran. Seorang laki - laki paruh bayah sedang berjalan menuju pondok penasehat, ia adalah Tong, salah satu penasehat. “Penasehat!” hormat tiga orang pasukan yang berjaga didepan pondok, “kalian bertiga, jendral Kulu memanggil kalian” kata Tong, “kami mengerti!” para pasukan memberi hormat dan segera bergegas pergi, kini pondok penasehat tidak dijaga oleh seorang pasukan pun.


Tong memasuki pondok penasehat, “kau terlambat!” sambut Sung, salah satu penasehat, Tong hanya diam dan menutup pintu pondok rapat - rapat “aku membawakan pesan, kalian semua dibebas tugaskan!” Tong membuka jubahnya, selusin ular keluar dari dalam jubah dan langsung menyerang para penasehat, dalam sekejap para penasehat pun tewas karna bisa ular. Tong tersenyum, ia membuka topeng wajah yang ia kenakan, Valir wajah dibalik topeng itu.


Diruangan Kulu, ketiga pasukan yang dipanggilnya kini sudah tergeletak tidak bernyawa, begitu juga dengan Tong yang tergeletak tanpa wajah. Diujung ruangan, Sanji, penasehat termuda istana duduk terikat rantai, Kulu berdiri tidak jauh, ia sedang membersihkan pedangnya dari lumuran darah. “Sanji, kau adalah penasehat muda, masih banyak yang bisa kau capai dalam hidupmu, aku tidak membunuhmu karna ku pikir kau berbeda dengan penasehat tua bangka lainnya” Kulu menodongkan pedangnya dileher Sanji “jadi, apa kau mau bekerja untukku?”, Sanji terlihat sangat takut, ia hanyalah pemuda yang suka belajar ilmu pengetahuan, tidak pernah memegang pedang apalagi ditodongkan pedang dilehernya. “Baiklah” jawab Sanji gemetar, Kulu tersenyum “rencana ku sudah melenceng jauh, ku harap kau bisa diandalkan”.


Didalam hutan, Wen dan Su sedang dalam perjalanan, Kang juga ikut bersama dengan mereka. Mereka sedang beristirahat dibawah pohon, seekor burung pengantar pesan hinggap, Wen membaca pesan itu “para penasehat baru saja diserang” Wen memberitahu Su dan Kang, “bajingan! Kulu semakin bertindak diluar batas, aku harus segera kembali ke istana” Kang berusaha bangkit berdiri tetapi ia langsung terjatuh, tubuhnya belum pulih sepenuhnya. “Sebaiknya kita tetap pada rencana, sudah ada pasukan yang menunggu kita” kata Su sembari menyalakan cerutunya.


 


Kiba membawa Niki ke tempat tinggalnya “kau bisa beristirahat disini” Kiba masuk kedalam sebuah pondok yang tidak begitu besar dan juga berantakan, Niki sempat bingung apa yang terjadi dengan Kiba. Kiba menyediakan teh untuk Niki dan Pingping, mereka pun mulai duduk berbincang. “Senior, apa yang sebenarnya terjadi, mengapa senior bisa ada di kota ini?” tanya Niki sembari meminum tehnya, “ya aku sendiri terkejut melihatmu, batu nisan dengan namamu masih berdiri di kaki air terjun” Kiba meminum tehnya “jadi kau tidak tahu sama sekali ya? Tebing Langit sudah tidak ada” jawab Kiba yang membuat Niki terdiam “dari wajahmu sepertinya kau memang tidak tahu ya” lanjut Kiba.


“Apa pengungsian kembali diserang? Apa yang lain selamat?” tanya Niki dengan gemetar, “kami tidak diserang, tetapi ketua Fei membubarkan Tebing Langit dan menyuruh kita semua untuk pergi ke kota, saat itu musim dingin, kita sudah tidak memiliki persediaan, istana juga menutup diri dan tidak memberikan bantuan lagi, itulah alasan Tebing Langit sudah tidak ada” Kiba menjelaskan, “apa senior mengetahui dimana ketua Fei sekarang? Aku harus bertemu dengannya” tanya Niki lagi, “aku mendengar kabar jika ketua Fei berada di kaki gunung emas, tetapi aku tidak yakin, itu hanya kabar angin” jawab Kiba yang membuat Niki berpikir sejenak “terima kasih atas bantuan senior” Niki memberi hormat.


Matahari mulai terbenam, Niki sedang duduk sembari menghisap cerutunya di depan pondok. “Ternyata kau disini” Pingping menghampiri, ia mengetahui jika Niki sedang memikirkan sesuatu, terpampang jelas dari raut wajah Niki. “Besok saat matahari baru terbit, aku akan melanjutkan perjalanan, kau bisa menetap dikota ini” kata Niki sembari menghembuskan asap cerutunya, Pingping terdiam sejenak “aku tidak mau menjadi wanita penghibur lagi”, Niki pun terdiam tidak tahu harus mengatakan apa, hanya meneruskan menghisap cerutunya, Pingping masuk kedalam pondok tanpa mengatakan sepatah - katapun.


Matahari baru saja terbit, pondok itu sudah kosong, Pingping sudah tidak ada disana. Kini Pingping sedang dikejar - kejar dikota, ia baru saja mencuri makanan, “cepat hentikan gadis itu!” teriak orang - orang yang mengejar Pingping. Pingping berlari masuk kesalah satu jalan, tetapi ternyata jalan itu buntu, Pingping pun terpojok. Salah seorang laki - laki memukul Pingping hingga terjatuh “dasar pencuri!”, orang - orang meninggalkan Pingping yang masih terkapar. Pingping mulai mengeluarkan airmata, ia menghapusnya dan bangkit berdiri, berjalan keluar dari jalan buntu itu.


Ketika Pingping keluar, ia melihat orang - orang yang mengejarnya tadi tergeletak tidak berdaya, “kau ini tidak bisa jauh dari masalah ya” Niki berdiri disana, ia yang menghajar orang - orang itu, Pingping langsung menghampiri Niki dan memeluknya. Tidak jauh darisana Kiba berkuda menghampiri mereka, ia juga membawa dua kuda lainnya, “ayu naik! Aku berhasil mencurinya” kata Kiba, terdengar suara teriakan orang - orang yang mengejar dibelakang, Niki dan Pingping langsung menaiki kuda itu dan berkuda pergi meninggalkan kota bersama dengan Kiba, kini mereka menuju ke gunung emas.


Hari yang tenang di istana, Guan sedang meramu obat di ruangannya. Pintu ruangan dibuka, Kulu masuk ke ruangan itu, “kau sudah siapkan makanan untuk Kaisar?” tanya Guan tanpa memalingkan pandangan, ia mengira yang datang adalah anak buahnya. Kulu mengeluarkan pedangnya dan menusuk Guan dari belakang, Kulu menutup mulut Guan agar tidak berteriak “jasa mu sudah tidak diperlukan” Kulu mencabut pedangnya, Guan jatuh tergeletak, darah mengalir dengan deras.


Kulu sudah meninggalkan ruangan Guan, Guan masih tergeletak menunggu kehabisan darah, pintu ruangan dibuka, Yamato masuk kedalam ruangan “bertahanlah!” Yamato menekan luka Guan dan mulai mengobatinya.