NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
31



Bab 31.


Kereta kuda Kulu baru saja sampai di pelabuhan, Kulu turun dari kereta kuda, kemudian naik ke salah satu kapal milik Xu. “Jendral” sambut Xu, “antarkan aku ke gudang senjata” kata Kulu langsung pada intinya. Kini mereka memasuki ruang terbawa kapal, ruangan itu sudah kosong, “apa tidak ada dinamit yang tersisa?” tanya Kulu, “aku sudah mengirimnya semua” jawab Xu, Kulu mengepalkan tangannya, ia tampak geram, “memangnya ada apa?” tanya Xu, “memangnya ada apa katamu?! Pengiriman diserang dan semua dinamit yang dikirimkan hancur!” Kulu membentak, Xu pun terdiam.


Kulu mengatur nafasnya, ia menghela nafas panjang “lagi-lagi rencanaku tertunda, seharusnya sekarang aku sudah menduduki takhta” – “sebaiknya kau tenangkan pikiran mu dahulu, secangkir teh mungkin membantu, mari..” Xu mempersilahkan Kulu untuk naik ke dek kapal.


Kini Kulu dan Xu sedang bersantai di dek kapal, seteko teh hangat menemani, “kau sudah membunuh para jendral dan juga penasehat, mengapa kau tidak sekalian saja membunuh Kaisar” Xu membuka pembicaraan sembari menyalakan cerutunya, “tidak semudah itu, aku memang menginginkan takhta, tetapi aku juga ingin melihat Khan menderita” Kulu meminum tehnya, Xu tersenyum “kau memang punya ambisi yang besar”.


Kulu berpikir sejenak “mungkin sekarang aku membutuhkan pasukan dalam bayangan, aku membutuhkan orang untuk menyelesaikan masalah yang melenceng”, Xu kembali tersenyum “mungkin aku bisa memberikan usul” – “katakan” – “Zazu” kata Xu sembari menghisap cerutunya. Kulu sedikit terkejut mendengar nama Zazu “Zazu? Dari rumor yang kudengar dia kalah dalam pertarungan dan tidak pernah terlihat lagi” – “kalah bukan berarti mati bukan?” Xu meminum tehnya “kau bisa mencarinya di pasar malam” – “pasar malam ya..” Kulu berpikir sejenak “dalam tiga hari kumpulkan aliansi, aku akan datang dengan rencana baru”, Xu mengangguk, Kulu pun bangkit berdiri dan beranjak pergi meninggalkan kapal.


Matahari sudah hampir terbenam, Sai dan pasukannya baru saja sampai di Jembatan Merah. Mayat-mayat berserakan di Jembatan Merah, Sai memperhatikan sekitar, ia melihat kapak milik Tang tergeletak disana, ia pun mengambilnya. Niki melihat pinggir jembatan yang hancur “senior Sai, apa mungkin kereta kuda itu jatuh kebawah?”, Sai melihat kebawah jembatan, begitu pula dengan Kiba “jurang ini sangat dalam, kita tidak tahu apa yang ada dibawah sana” – “aku akan memeriksanya, ini satu-satunya petunjuk” Sai mengeluarkan sebuah tali dan mengikatkannya pada jembatan “kalian kumpulkan mayat-mayat ini dan berikan penguburan yang layak” kemudian ia melompat turun kedalam jurang.


Kiba menghela nafas “baiklah kalian sudah mendengarnya, kita kuburkan mayat-mayat ini” kata Kiba kepada para pasukan. Matahari mulai terbenam, para pasukan mulai cemas menunggu, “hei kalian, dari pada diam saja, buatkan api unggun” perintah Kiba, “tapi senior, keadaan sedang tidak aman, bagaimana jika ada yang menyerang kita?” kata Hin, salah satu pasukan, “kita tidak akan kemana-mana, kita akan menunggu senior Sai disini” jawab Kiba yang membuat para pasukan terdiam. Wen tersenyum kecil melihat itu “jadi kalian adalah pasukan macan kumbang ya” kata Wen kepada Niki yang berdiri tidak jauh, “pasukan macan kumbang tidak meninggalkan anggotanya” jawab Niki sembari menyalakan cerutunya, Wen kembali tersenyum.


Tidak beberapa lama, Sai akhirnya kembali, “senior!” Kiba menghampiri, para pasukan bernafas lega, “ada apa dibawah sana?” tanya Kiba, “sungai, sungai itu mengalir kearah barat, sebaiknya kita ikuti aliran sungai ini, mungkin akan mendapatkan petunjuk” jawab Sai, “apa kita akan melanjutkan perjalanan sekarang? Hari sudah gelap, dan para pasukan mulai ketakutan” lanjut Kiba, “jika terlalu lama kita akan kehilangan jejak, tetapi terlalu berbahaya bekuda dalam jumlah banyak dimalam hari” Sai berpikir sejenak “baiklah kalau begitu, semua dengarkan aku”.


Malam semakin larut, kini Sai berkuda mengikuti arus sungai bersama dengan Kiba, ia telah membagi menjadi dua regu, regu pertama berisi ia dan Kiba, mereka akan mengikuti arus sungai, sedangkan sisanya akan berkuda menuju desa terdekat. Regu kedua kini berkuda memasuki salah satu desa, Sai menunjuk Niki sebagai ketua regu.


Kini Niki sudah menemukan pondok kosong “penasehat bisa beristirahat disini”, Wen tersenyum “terima kasih” kemudian masuk kedalam pondok, kini hanya tersisa Niki dan Cuo, salah satu pasukan. “Senior Cuo bisa beristirahat terlebih dahulu, aku yang akan berjaga” kata Niki, “kau tidak perlu memanggilku senior, kau ketua regu ini” jawab Cuo sembari beranjak masuk kedalam “aku akan membuatkan api unggun”.


Di hulu sungai, Sai dan Kiba masih berkuda menyusuri arus, penerangan hanya berasal dari obor yang mereka bawa, saat itu mereka sangat retan dengan serangan, bisa diserang kapan pun dan darimana pun. Sejauh ini belum ada tanda-tanda kehidupan, “senior, apa tidak sebaiknya kita beristirahat terlebih dahulu?” tanya Kiba, “aku juga menginginkan begitu, tetapi arus sungai ini cukup kencang, jika kita berhenti mungkin Tang dan pasukannya sudah hanyut lebih jauh” jawab Sai sembari matanya menyusuri setiap sudut jalan, hingga matanya berhenti pada sebuah batu dengan bercak darah.


Sai bergegas turun dari kudanya dan melihat bercak darah itu lebih dekat “sial! Mereka pasti benar-benar jatuh kesini” – “senior aku melihat sesuatu!” Kiba langsung berlari menghampiri, ia seperti melihat bayangan manusia. Kiba pun terkejut dengan apa yang ia lihat “senior ketemu!” teriak Kiba, Tang tergeletak tidak sadarkan diri, “segera angkut keatas kuda, kita akan menyusul regu Niki” perintah Sai.


Matahari hampir terbit, kini Sai dan Kiba berkuda memasuki desa, Tang mulai sadarkan diri “Sai?” kata Tang pelan, “bertahanlah, sebentar lagi kita sampai” Sai memacu kudanya lebih cepat. “Senior telah datang!” teriak Hin yang sedang berjaga didepan pondok, para pasukan pun bergegas keluar menyambut “senior!” hormat para pasukan, “cepat segera obati luka-lukanya” perintah Sai, para pasukan mengangkat Tang masuk kedalam pondok. “Dimana jendral?” tanya Wen, “disana hanya ada Tang, setelah ia sadarkan diri kita bisa menanyainya” jawab Sai.


Matahari mulai sampai dipuncak, Tang kini sudah sadarkan diri, sekujur tubuhnya dibalut perban, kaki kanannya juga patah akibat terjatuh, kapaknya yang tertinggal sudah ditaruh disampingnya. “Sepertinya lukamu cukup serius” Sai masuk kedalam pondok, “kirimannya berhasil dihancurkan” Tang memberi laporan, “lalu dimana jendral?” tanya Wen, Tang tertunduk “jendral terdampar tidak jauh dariku, tetapi kemudian beberapa bandit muncul, mereka mengenali jendral dan membawanya bersama dengan mereka, maafkan saya tidak bisa menolong” Tang memberi hormat, “jangan menyalahkan diri, untuk berdiri saja senior tidak bisa, apa lagi harus bertarung” celetuk Kiba, “tetapi aku tahu kemana mereka membawa jendral, pasar malam” lanjut Tang, Wen terdiam mendengar itu.


Disebuah hutan, Kang duduk lemas terikat di sebuah kandang bersama dengan beberapa perempuan lainnya, mereka semua adalah tangkapan para bandit. “Sepertinya hari ini hari keberuntungan ku, bisa menangkap seorang jendral” kata seorang lelaki, ia adalah Chung, ketua para bandit itu. “Gadis-gadis ini sangat menggiyurkan, tidak bisakah kita menikmatinya terlebih dahulu?” celetuk salah satu bandit, “aku juga ingin berpesta, tetapi Zazu tidak akan mau menerima gadis yang sudah ternodai” jawab Chung sembari meminum sebotol arak.


“Ternyata kalian sudah datang ya” seorang laki-laki duduk diatas pepohonan, laki-laki dengan rambut bewarna kuning panjang diikat, memakai syal dileher, dan membawa pedang kembar di punggungnya, ia adalah Vin, dijuluki daun kuning, salah anak buah Zazu. “Tuan Zazu sudah menunggu, mari kuantar” Vin beranjak pergi, melompat dari satu pohon ke pohon lainnya, “orang yang aneh” Chung dan para bandit memacu kudanya mengikuti Vin dari belakang.