
Bab 43.
Matahari kembali terbit, hari itu ruang pertemuan istana ramai, para menteri dari kota - kota datang untuk melakukan protes. Diruangan itu hanya ada Sanji sebagai penasehat untuk berdiskusi dengan para menteri, “apa maksudnya ini? Dimana penasehat yang lain, mengapa hanya ada penasehat muda sepertimu? Apa ini penghinaan?” protes salah satu menteri, “apa istana telah melupakan rakyatnya? Semenjak musim dingin pasukan istana tidak lagi melakukan patroli, bandit - bandit berkeliaran bebas, apa maksud semua ini?” sambung menteri lain, “ya benar! Padahal kami selalu membayar upeti!” sambung menteri lainnya lagi, kericuhan pun terjadi di ruang pertemuan.
Masih melakukan protes, tiba - tiba pintu ruangan dibuka, Khan masuk kedalam, semua orang diruangan itu terdiam, tidak menyangka akan bertemu langsung dengan Kaisar, para menteri langsung memberi hormat “Kaisar!”. Khan masuk kedalam ruangan “berikan istana waktu tiga hari” kata Khan langsung pada intinya, para menteri masih terdiam tidak tahu harus berkata apa, “kalian semua pulanglah, kembali ke kota kalian masing - masing” lanjut Khan, para menteri langsung memberi hormat “baik Kaisar!” kemudian beranjak pergi meninggalkan ruang pertemuan. Kini hanya tersisa Sanji dan Khan di ruangan itu “kumpulkan para jendral” perintah Khan, Sanji memberi hormat kemudian beranjak pergi.
Khan dan para jendral berkumpul, mereka duduk mengitari meja bundar, Kulu, Roku, Kumo, dan juga Sun ada disana, termasuk Sanji sebagai penasehat. “Maaf tidak menyambut kepulangan jendral armada laut sebelumnya” Khan membuka pembicaraan, Roku memberi hormat “kami memaklumi”, Khan tersenyum “baiklah kalau begitu, aku telah mengambil keputusan, dan segera umumkan kepada seluruh pasukan”.
Kini seluruh pasukan istana berkumpul di halaman utama, Khan duduk di kursi takhta, para jendral duduk di kanan-kirinya, Toro berdiri dihadapan para pasukan, membawa gulungan pernyataan Kaisar. “Kaisar telah membuat pernyataan baru” Toro membuka gulungan pernyataan “dengan ini Kaisar Khan, memutuskan mengistirahatkan armada laut untuk sementara, jendral Kumo dan jendral Sun akan dipindahkan sebagai jendral pasukan berkuda, sementara jendral Roku akan diangkat menjadi jendral besar” (jendral besar \= wakil Kaisar). Kulu yang duduk tidak jauh mulai mengepalkan tangannya, kini ia semakin jauh dengan kursi takhta.
Ao sedang berjaga di tembok perbatasan, seekor burung pengantar pesan hinggap. Yao sedang diruangannya, menulis laporan sembari ditemani segelas teh, pintu ruangan diketuk, Ao masuk kedalam “permisi jendral, ada pesan dari istana”. Yao baru saja membaca gulungan itu, ia tersenyum, gulungan itu mengatakan jika Roku diangkat menjadi jendral besar. Yao pun segera memanggil Wen keruangannya “sepertinya Kaisar sudah bertindak” Yao memberikan gulungan pesan itu kepada Wen, Wen ikut tersenyum membacanya “aku akan memberi tahu yang lain” kemudian beranjak meninggalkan ruangan.
Matahari mulai sampai dipuncak, kini Roku berada di pondok tepi danau, berdiri memperhatikan danau sembari menghisap cerutu. Sun datang menghampiri “jendral besar memanggil saya” Sun memberi hormat, “aku akan memberikan tugas khusus untuk mu, cari tahu tentang hilangnya para jendral dan penasehat, aku merasakan hal yang janggal, perintah ini adalah rahasia, aku hanya mempercayai mu” kata Roku langsung pada intinya, Sun mengangguk “saya mengerti!” kemudian beranjak pergi.
Di halaman istana, lima ratus pasukan sedang bersiap, Khan sendiri yang memerintahkan mereka untuk mengurus masalah bandit di kota-kota, “para pasukan sudah siap untuk berangkat” salah seorang pasukan memberi laporan, ia adalah Lei, anggota pasukan berkuda kerajaan, ditunjuk langsung oleh Khan untuk memimpin tugas ini. Khan tersenyum, menepuk pundak Lei “mulai sekarang kau adalah seorang jendral”, Lei terkejut mendengar itu “baik Kaisar!” Lei memberi hormat.
Di tembok perbatasan utara, Fei sedang berdiri di atas tembok benteng bersama Wen “aku tidak menyangka Kaisar bisa melakukan hal seperti ini” celetuk Fei, Wen tersenyum “ini hal pertama yang dilakukannya semenjak duduk di kursi Kaisar”. Di dalam benteng, Niki hanya duduk merenung, masih memikirkan kepergian Su, “hei Niki” Pingping menghampiri, memberikan sepotong roti “kau belum makan dari pagi” – “aku tidak ingin makan” jawab Niki singkat.
“Sampai kapan kau mau merenung?” Kin menghampiri “aku tahu ini berat bagimu, tetapi kita semua berharap padamu” lanjut Kin sembari duduk di samping Niki “dari awal aku mengikuti mu karna kau pendekar yang hebat, begitu pula dengan anggota kelompok yang lain, kau tidak mencari kekuatan, tetapi melindungi yang lemah, Ge pernah mengatakan itu padaku”, Niki masih terdiam tidak menjawab, Kin tersenyum “nanti malam beberapa pasukan akan pergi ke kota perbatasan, kau ikutlah, mencari udara segar” Kin menepuk pundak Niki kemudian beranjak pergi.
Matahari mulai terbenam, beberapa pasukan naga sudah bersiap untuk pergi ke kota, Wen menyuruh mereka untuk membeli bahan-bahan makanan. Wen memberikan sekantung perak kepada Vivian, “apa perlu penasehat?” celetuk Yao, Wen tersenyum “tidak apa jendral, anggap saja menggantikan makanan yang kami makan”, Yao memberi hormat “terima kasih banyak penasehat, biarkan anak buahku menemani, Ao!” panggil Yao, “apa jendral harus selalu berteriak?” Ao melompat turun dari atas tembok, Yao tertawa “temani pasukan naga ke kota perbatasan” – “baik jendral!” Ao memberi hormat.
Kini mereka berkuda memasuki kota perbatasan, Vivian membawa beberapa pasukan, termasuk Kin, Pingping, dan juga Niki. Malam itu kota tampak sepi, seperti tidak ada kehidupan, hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang, “bukan ini gambaran kota yang kubayangkan” celetuk Kin. “Ada apa? Kenapa kota ini sepi sekali?” tanya Vivian kepada Ao, Ao tersenyum “sepertinya kalian tidak pernah ke kota perbatasan ya? Semua kota perbatasan memang seperti ini, mereka selalu bersembunyi didalam rumah, takut jika ada yang menyerang tembok, beberapa dari mereka juga mungkin sudah pindah ke kota lain, kota perbatasan itu bagaikan kota mati” Ao menjelaskan.
“Bagaimana dengan mu? Apa kau berasal dari sini?” tanya Vivian lagi, “tidak, saat menjadi pasukan aku dipindah tugaskan kesini, dan belum pernah meninggalkan tembok setelah itu” jawab Ao, “mengapa tidak meminta libur?” tanya Vivian lagi, “ya, jendral juga sudah sering meminta hal itu, tetapi istana tidak pernah mengabulkan, tidak ada pasukan yang ingin berganti menjaga tembok, jadi kami terpaksa terus menjaga tembok ini” jawab Ao lagi “kita sudah sampai” Ao turun dari kudanya “itu kedainya” Ao menunjuk salah satu pondok yang cukup besar, Vivian sendiri masih terdiam memikirkan keadaan tembok perbatasan.
Ao dan pasukan naga masuk kedalam kedai, betapa terkejutnya mereka, saat itu kegaduhan sedang terjadi di kedai, dua orang mabuk sedang memeras pemilik kedai. “Cepat berikan daging yang kalian punya, aku sudah kelaparan!” ancam seorang laki-laki bernama Tobi, ia mencabut pedangnya dan menodongkan dileher laki-laki paruh baya pemilik kedai bernama Bapu.
“Maaf tuan, tetapi kami juga kekurangan makanan sejak beberapa hari, kami tidak ada makanan lain selain roti” kata Bapu memelas, “jangan berbohong!” bentak Al, teman dari Tobi.
“Wah-wah, ternyata datang diwaktu yang tepat ya” kata Ao, Al terkejut melihat Ao “pasukan tembok, kita harus lari!” – “cih! Jangan bercanda! Ini wilayahku!” Tobi maju menyerang, ia bermaksud melakukan tebasan, Ao dan pasukan naga menghindarinya, terkecuali Pingping, ia masih berdiri membeku, Tobi menebaskan pedangnya, tebasan itu akan telak mengenai Pingping, tetapi tiba-tiba Niki berdiri dihadapan Pingping, tebasan itu pun telak mengenai Niki, Niki hanya diam menerima tebasan itu, darah mulai mengalir keluar dengan deras.
Semua orang terkejut melihat itu, termasuk Pingping, “sial!” Kin langsung mencabut pedang tumpulnya dan menghantam Tobi hingga tidak sadarkan diri, Al terkejut melihat itu, ia pun memutuskan untuk melarikan diri melalui pintu belakang, baru Al beranjak, tiba-tiba sebuah tendangan menghantam kepalanya telak, Al terpental hingga tidak sadarkan diri, Sin yang melakukan itu “sepertinya nafsu makan ku jadi hilang, lalu siapa orang bodoh disana yang hanya diam menerima tebasan” Sin menenjuk kearah Niki, kini darah Niki sudah mengucur sangat banyak.