NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
61



Bab 61.


 


Lautan tenang hari itu, Jee membawa lima kapal armada laut, bersama dengan pasukan pedang emas. Kumo sedang bersantai sembari memancing, entah sudah berapa banyak ikan yang berhasil ia tangkap, masih asik memancing, tiba - tiba salah seorang pasukan datang menghampiri “lapor jendral! ada kapal yang mendekat” lapor pasukan itu sembari masih terengah - engah.


“Kenapa kau ini? Sudah jelas itu kapal delegasi yang kita jemput” jawab Kumo santai sembari tetap memancing, “tapi jendral..hanya ada satu kapal nelayan” kata pasukan itu yang membuat Kumo sedikit terkejut. Sebuah kapal nelayan mulai mendekat, Kumo mulai melihat menggunakan teropongnya, terlihat hanya ada satu orang dikapal itu, seorang laki - laki dengan jenggot tipis, memakai jubah hitam.


Kapal nelayan itu semakin mendekat, “jendral bagaimana ini? apa dia hanya nelayan yang tersesat?” para pasukan mulai bingung, tetapi tiba - tiba laki - laki berjubah hitam itu melompat keatas kapal Kumo, sontak para pasukan pun langsung mencabut pedang mereka “lindungi jendral!”. Laki - laki berjubah hitam itu kini duduk dengan santai diatas dek kapal Kumo “apa kalian tahu jika menodongkan pedang bisa memicu perang?” laki - laki berjubah hitam itu tertawa kecil “maaf - maaf, aku lupa memperkenalkan diri, namaku Cilion Honora, utusan dari kekaisaran Cahaya Fajar" Honora adalah gelar bangsawan di kekaisaran Cahaya Fajar.


“Turunkan senjata kalian!” perintah Kumo “Cilion ya, jadi kau orang yang dijuluki anjing hitam?”, Cilion tertawa kecil “ternyata aku terkenal juga ya”, Kumo memperhatikan kapal nelayan yang dipakai Cilion “mengapa kau memakai kapal nelayan? Di surat mu mengatakan akan datang dengan sepuluh armada kapal”, Cilion kembali tertawa kecil “oh masalah itu ya, aku hanya ingin memastikan terlebih dahulu, ini jebakan atau bukan, kekaisaran kita tidak pernah akur sebelumnya, harap kalian memaklumi” Cilion bangkit berdiri “kau pasti jendral Kumo kan? Salah satu pemimpin armada laut terkuat di kekaisaran Bulan Sabit, sebuah kehormatan bertemu dengan mu” Cilion membungkukan tubuhnya memberi hormat.


Kini Cilion disambut makan oleh Kumo, Cilion makan dengan lahapnya, entah sudah berapa banyak mangkuk nasi yang ia habiskan, dan juga beberapa botol arak sudah diminumnya hingga kosong, “berapa lama orang itu terombang - ambing di lautan? Ia sudah menghabiskan jatah makan kita untuk dua hari” celetuk salah satu pasukan kepada pasukan lainnya.


Tidak beberapa lama, Kumo masuk kedalam ruangan “bagaimana? Kau suka makanan kami?” – “yah, tidak terlalu buruk” jawab Cilion sembari meminum sebotol arak, “sebentar lagi penasehat Jee akan menyambut mu” kata Kumo sembari menyalakan cerutu “kau mau?” – “apa kau tahu jika cerutu merusak tubuh mu?” canda Cilion sembari kembali meminum botol araknya.


Kini kapal Jee mulai merapat, para pasukan menurukan jembatan, Jee mulai menyeberang ke kapal Kumo, Lou mengikuti untuk mengawal. Cilion masih menikmati sebotol arak, tidak beberapa lama Jee masuk kedalam ruangan diikuti Lou, “jendral Cilion” Jee memberi hormat, Cilion bangkit berdiri “terima kasih sudah menyambut kedatangan kami” Cilion membalas hormat, “bisa tolong tinggalkan kami berdua” kata Jee, Kumo dan Lou pun meninggalkan ruangan.


Kini hanya ada Jee dan juga Cilion, “silahkan duduk” Jee mempersilahkan Cilion duduk, “terima kasih” Cilion kembali duduk, Jee menyalakan cerutu “jadi siapa yang datang?” – “pangeran, ia sedang menunggu di armada kapal” jawab Cilion, “sepertinya Kaisar kalian sudah cukup tua ya untuk melakukan perjalanan jauh” Jee menghembuskan asap cerutu, Cilion tertawa kecil “jika delegasi ini berhasil, maka pangeran akan diangkat menjadi Kaisar menggantikan pamannya”, Jee tersenyum kecil “izinkan saya untuk bertemu dengan pangeran”.


 


Disalah satu ruangan, ruangan yang sangat megah, kamar pangeran, seorang laki-laki baru saja selesai bermesraan dengan tiga orang perempuan tanpa sehelai pakaian, laki-laki berbadan gagah dengan brewok coklat diwajahnya, ia adalah Harl, pangeran kekaisaran Cahaya Fajar. Salah seorang perempuan mulai memakaikan kembali pakaian Harl, sedangkan kedua perempuan lainnya menyuapi Harl anggur, tidak beberapa lama pintu ruangan dibuka “pangeran, utusan Bulan Sabit sudah datang” lapor salah satu pasukan, “aku akan kesana” jawab Harl sembari masih mengunyah anggur dimulutnya.


Disebuah ruangan, Jee duduk menunggu bersama Cilion, tidak beberapa lama, pintu ruangan dibuka, Harl masuk kedalam, Cilion dan Jee segera bangkit berdiri dan memberi hormat “pangeran”. Harl menatap Jee tajam, kemudian ia mencabut pedangnya, pedang yang tebal dan juga berat, mengacungkannya kearah Jee “jadi kau utusan dari Bulan Sabit? apa yang membuat mu berpikir jika aku ingin melakukan delegasi dengan kekaisaran yang menebas kepala ayahku?” tatapan Harl sangat tajam, seakan ia sangat yakin untuk melakukan tebasan, seketika ketegangan terjadi di ruangan itu.


Harl mulai tertawa “aku hanya bercanda” kemudian memasukan kembali pedangnya, Jee pun ikut tersenyum “pangeran memiliki pedang yang bagus” – “tidak perlu terlalu memuji, pedang ini hadiah kekaisaran Sakura kepada ayahku sebagai hadiah perdamaian” Harl mengambil tempat duduk “Cilion, bawakan hidangan laut dan juga arak”, Cilion mengangguk kemudian beranjak pergi.


Hidangan laut disajikan diatas meja, Harl menyambut Jee dan juga Kumo untuk makan bersama, para pelayan perempuan mulai menuangkan arak, dan mereka tidak mengenakan sehelai pakaian pun. Mata Kumo terus memperhatikan tubuh para pelayan, Harl mulai tertawa “sepertinya kau sangat tertarik, setelah makan, bawalah mereka ke kamar untuk melayani mu” – “wah pangeran sangat berbaik hati” jawab Kumo dengan wajah senang, “penasehat Jee, kau juga bisa memilih” lanjut Harl, Jee hanya tersenyum “tidak perlu, mereka milik pangeran” kemudian meminum araknya, Harl kembali tertawa “kau orang yang menarik penasehat”.


Diatas dek kapal, Cilion sedang duduk bersama dengan seorang laki - laki memakai jubah hitam, berambut pirang dan juga brewok memenuhi wajahnya, ia adalah Khel, pendeta pribadi pangeran. Khel menghisap cerutunya sembari memandangi lautan luas, “apa ini pertama kalinya kau keluar dari kekaisaran?” tanya Cilion, Khel hanya mengangguk sembari menghisap cerutunya, Cilion tertawa kecil “aku sudah sering berlayar, menaklukan wilayah untuk kekaisaran, sampai - sampai aku lupa dimana rumahku sebenarnya”, Khel menghembuskan asap cerutu “kau tahu kan, manusia hanya sementara di dunia ini, seluruh dunia ini bukan rumah kita” Khel kembali menghisap cerutunya.


Di istana, para jendral sedang mengadakan pertemuan, mereka akan membahas masalah keamanan selama delegasi berjalan. “Dalam tiga hari delegasi kita akan sampai, dalam tiga hari juga seluruh pasukan sudah menyebar ke seluruh kekaisaran” Sun membuka pembicaraan, kemudian Sun mulai membagikan beberapa gulungan “saya sudah mendata seluruh pasukan, saya sudah membaginya merata agar tidak ada ketimpangan saat bertugas, dengan ini pertemuan bisa dibubarkan”.


Kini Fei berjalan keluar dari ruang pertemuan diikuti Vivian, Fei baru saja selesai membaca gulungan yang diberikan Sun, “bagaimana jendral? ingin menempatkan Niki dimana?” tanya Vivian, “Niki akan tetap disampingku” Fei menggulung kembali gulungan itu.