NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
85



Bab 85.


 


Musim dingin menyentuh kata akhir, salju mulai mencair. Niki sedang berlatih memenah bersama Pingping, lusinan anak panah sudah ditembakan, semuanya tepat sasaran. “Sudah terbiasa dengan kaki mu?” Sai datang menghampiri, Niki dan Pingping memberi hormat “ketua”, Sai memberikan sebuah kotak kepada Niki “bukalah”, Niki membuka kotak itu, sepasang kerambit terpampang didalam sana, Niki terdiam sejenak, Sai tertawa kecil “kau lebih handal menggunakan itu daripada pedang”, Niki mengambil kerambit itu, ikut tertawa kecil “terima kasih”.


 


Kini para jendral sedang mengadakan pertemuan, sebuah gulungan terpampang diatas meja, “Naga Biru telah menguasai salah satu kota, ia ingin menukarnya dengan Darius” Sun merobek gulungan itu, “Darius salah satu tangan kanannya, jika membutuhkannya, berarti Naga Biru sudah ingin menjalankan serangan” celetuk Silvana, “Darius ditukar dengan satu kota, apa itu sepadan?” celetuk Kumo “kita sudah menangkap salah satu tangan kanannya, mana mungkin kita lepaskan” – “satu kota? Terlalu banyak penduduk di kota, mereka tidak harus menjadi korban” celetuk Fei.


Sun terdiam sejenak “apa jendral Fei punya usul?”, Fei terdiam sejenak “kita adakan pertukaran, aku sendiri yang akan membawa Darius” – “tidak bisa!” potong Silvana “Darius tidak akan keluar dari ruang tahanan!” – “bagaimana jika kita bunuh saja Darius? Musuh kita berkurang satu” celetuk Kumo, “dengan begitu kita hanya akan menyulut Naga Biru untuk mengamuk dan membakar kota” potong Fei, “jika dia mengamuk, kita serang dia” jawab Kumo, “lalu berapa banyak penduduk yang akan menjadi korban?” potong Fei lagi.


“Sudah cukup hentikan!” Roku berjalan masuk kedalam ruangan, Roku mengambil tempat duduk “kita sama sekali belum mengetahui kemampuan Naga Biru, lalu untuk apa begitu takut padanya? Kita serang dia dengan kekuatan penuh!” Roku menghantam meja.


 


Tiga ribu pasukan bersiap di halaman istana, Sun, Kumo, dan juga Silvana akan memimpin pasukan menyerbu kota. Dari balkon istana, Fei memperhatikan itu semua, “apa menurut jendral ini langkah yang benar?” Vin datang menghampiri, berdiri disamping Fei, Fei terdiam sejenak “aku tidak tahu”.


 


Di salah satu kota, Kara duduk disebuah meja yang ditaruh dijalan utama kota, Enel datang menghampiri “ketua, pasukan istana telah bersiap untuk menyerang, sekitar tiga ribu pasukan”, Kara mulai tertawa “tiga ribu? Mereka benar-benar meremehkanku”.


Di kota Purnama, Kulu sedang bersiap, membawa trisula raja yang dibungkus kain di punggungnya, Mei datang menghampiri, mengecup pipi Kulu “hati-hati”.


Kini tiga ribu pasukan keluar dari istana, Sun, Kumo, dan juga Silvana berkuda memimpin para pasukan.


Kara masih duduk dengan santai, ia mulai tertawa kecil “aku bisa mendengar langkah mereka, sebentar lagi pertumpahan darah akan dimulai”.


Kini sedikit pasukan yang tersisa di istana, di ruang terbengkalai tempat penyimpanan, terdapat sebuah lemari tua diujung ruangan, lemari itu terbuka, Kulu berjalan keluar diikuti Akari dan juga para bandit, terowongan rahasia yang tidak pernah ditemukan.


Darius menutup mata, duduk terikat di ruang tahanan, tubuhnya diikat rantai, tiba-tiba terdengar suara langkah mendekat, Darius mulai membuka mata, ia tertawa kecil saat melihat siapa yang datang, tak lain adalah Akari.


 


 


Sun mulai bersiap, kemudian maju menyerang, menghujani Kara dengan hantaman-hantaman gadah kembar, Kara menghidarinya dengan mudah, ayunan gadah kembar menghantam tanah hingga retak, Kara melakukan serangan balik, menebas kaki kanan Sun, Sun pun terjatuh. Dari kejauhan Kumo dan Silvana memperhatikan itu, Silvana sudah bersiap melempar tombaknya jika terjadi sesuatu.


Sun masih bertarung dengan Kara, ia bukan lawan yang sebanding, semua serangan Sun tidak ada yang berarti, Kara terus mempermainkan Sun. Sun terus mengayunkan gadah kembarnya, hingga satu titik Kara menangkis gadah kembar Sun hingga terpental, Sun terkejut melihat itu, Kara langsung mencekik leher Sun. Melihat itu, Silvana langsung melemparkan tombaknya, tepat mengarah kepada Kara, Kara mengangkat Sun dan menjadikannya tameng, tombak itu menusuk menembus tubuh Sun, Sun mulai memuntahkan darah, Silvana terkejut melihat itu.


Darah mengalir dengan deras, Kara menjatuhkan tubuh Sun, dalam sekejap Sun sudah tidak bernyawa, “kita sudahi saja permainan ini” Kara menjentikan jarinya, seketika kobaran api biru menyambar mengelilingi kota, mengurung para pasukan, para pasukan terkejut melihat itu.


Kobaran api biru terlihat sampai istana, “itu tandanya!” kata Akari, Kulu mengangguk, berjalan memasuki ruang bawah tanah, ia membuka sebuah kain penutup, tumpukan kotak dinamit terpampang, Kulu tersenyum “akhirnya aku menggunakan ini” Kulu menyalakan pemantik, membakar sumbu dinamit “kita pergi darisini!” Kulu beranjak pergi. Seketika ledakan besar terjadi dihalaman istana. Ledakan itu terlihat hingga kota, Kara tertawa puas, para pasukan terdiam melihat itu.


 


Kobaran api melahap halaman istana, sebagian gedung istana hancur terkena imbas ledakan. Kepanikan terjadi di istana, para bandit memanfaat keadaan untuk menyerang, pasukan istana tidak siap, pembantaian pun terjadi di istana.


 


Pingping kini terjepit direruntuhan, beberapa bandit datang menyerang, bandit itu bermaksud menusuk Pingping dengan pedang, tetapi tiba-tiba sebuah anak panah melesat mengenai para bandit, Niki yang melakukan itu. Kin juga berada disana, maju menyerang menebas para bandit dengan pedang tumpulnya, Niki segera menolong Pingping keluar dari reruntuhan “kita harus segera pergi” Niki membantu Pingping berdiri.


Sementara itu di sisi lain istana, Khan masih bersembunyi di kamarnya, beberapa pasukan berjaga, termasuk Yamato. Pintu kamar Khan dibuka, Fei masuk kedalam “cepat bawa Kaisar pergi dari istana!”, Yamato mengangguk dan bermaksud beranjak pergi membawa Khan, “tidak!” potong Khan “aku akan mempertahankan istana”.


Fei terdiam sejenak “Kaisar pergilah, saya yang akan mempertahankan istana” – “saya setuju dengan jendral, saya mohon Kaisar” timpal Yamato, Khan terdiam sejenak, melihat keluar jendela, halaman istana yang sudah hancur terpampang disana, dengan berat hati Khan mengangguk, Yamato dan para pasukan langsung beranjak mengawal Khan pergi darisana.


Di halaman istana, Vin sedang bertarung dengan para bandit, Tang datang untuk membantu, Tang mengayunkan kapaknya menebas para bandit, lalu Vivian juga datang, melemparkan pisau-pisaunya melumpuhkan para bandit, pertempuran terjadi di istana.


 


Kobaran api biru masih menyambar mengelilingi kota, mengepung para pasukan istana. Silvana mulai geram “tidak ada pilihan lain, kita harus membunuhnya” Silvana mencabut pedangnya, berkuda menyerang kearah Kara, tetapi tiba\-tiba Enel muncul dari dalam tanah, menerjang kuda Silvana hingga terjatuh, Silvana pun jatuh terpental.


 


Seketika seribu bandit keluar dari dalam tanah, Kara mengangkat sepasang ceruritnya “tumpahkan darah mereka!”, para bandit bersorak dan maju menyerang, pertempuran terjadi di kota.