
Bab 68.
Hari - hari berlalu, pagi yang cerah di kuil empat mata angin, Guo sedang membersihkan halaman kuil, dibantu seorang laki - laki, tak lain adalah Rasa. Bekas luka memenuhi setengah wajah Rasa, bekas luka saat ia terjatuh dari tebing, Guo merawatnya hingga ia pulih, dan kini Rasa memutuskan untuk menetap dan membantu di kuil empat mata angin sebagai ucapan terima kasih. Rasa masih membersihkan halaman kuil, “Rasa” panggil Guo “setelah selesai, datanglah ke ruang pengobatan, kau masih butuh untuk meminum ramuan” – “baik biksu” jawab Rasa sembari tetap membersihkan halaman kuil.
Matahari mulai sampai dipuncak, hari yang sibuk di istana, para pasukan sedang melakukan latihan gabungan antara Bulan Sabit dan juga Cahaya Fajar, kini mereka telah sepakat untuk beraliansi melawan pergerakan Naga Biru. Dari loteng istana Roku memperhatikan itu semua ditemani Sun, “kau sudah berkembang jauh ya Sun” Roku membuka pembicaraan, “maaf jika keputusan saya tidak sesuai dengan keinginan jendral besar” jawab Sun, Roku tersenyum kecil “tidak, bukan begitu, saat kau masih menjadi bawahan ku, kau selalu mengikuti kemauanku, tetapi sekarang, kau sudah bisa menentukan jalan sendiri, jalan yang menurut mu baik untuk masa depan kekaisaran ini, berakhir baik ataupun buruk, aku tetap bangga padamu Sun, kau sudah kuanggap seperti anakku sendiri” Roku menepuk pundak Sun, kemudian beranjak pergi, sementar Sun masih terdiam, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Sementara itu disisi lain istana, Jee sedang bekerja di ruangannya, tidak beberapa lama, pintu ruangan diketuk, Mei masuk kedalam ruangan, membawakan seteko teh hangat, kemudian menuangkannya. “Terima kasih” kata Jee sembari menyalakan cerutunya, “maaf jika saya lancang, sepertinya akhir - akhir ini penasehat jarang keluar ruangan” Mei membuka pembicaraan, Jee menghembuskan asap cerutu “pekerjaan sedang menumpuk, apa lagi sekarang kita mengadakan aliansi dengan kekaisaran lain, banyak berkas yang harus diurus” Jee kemudian meminum tehnya “oiya Mei, apa setiap malam kau masih sering melayani Kaisar?”, Mei sedikit terkejut mendengar itu “ehh..tidak setiap malam”, Jee kembali menghisap cerutunya “baiklah kalau begitu, malam ini temani aku berendam”, Mei terdiam sejenak, kemudian mengangguk “baik penasehat” kemudian beranjak pergi.
Matahari mulai terbenam, Sai sedang membersihkan diri di tempat pemandian, begitu juga Tang. “Sai, kudengar kau belum bertemu dengan Niki” Tang membuka pembicaraan, “ya, aku berencana untuk menemuinya saat aku sudah terdaftar menjadi pasukan istana” jawab Sai sembari masih memejamkan matanya menikmati air hangat. Tang tertawa kecil “dia sudah sangat berbeda dengan saat pertama datang ke Tebing Langit, kudengar saat latihan tarung dengan pangeran Cahaya Fajar, ia hampir membunuhnya, seluruh pasukan langsung mengenalnya, bahkan jendral besar menghadiakan kenaikan pangkat, menjadi pasukan kelas satu”, Sai terdiam sejenak, kemudian menghela nafas “hanya menunggu waktu, ia akan melampaui kita, aku akan menunggu saat itu” kemudian Sai tersenyum.
Di tempat pemandian lain, Jee sedang berendam, sementara Mei sedang menggosok punggung Jee “apa penasehat menikmatinya?”, Jee tersenyum “tentu”, Mei terdiam sejenak “maaf jika saya lancang, tetapi bukankah ini pertama kalinya penasehat meminta pelayan untuk menemani penasehat berendam?”, Jee tertawa kecil “ya, begitulah, sebenarnya ada yang perlu kubicarakan padamu”, Mei terdiam sejenak mendengar itu. “Aku tahu hubungan mu dengan Kulu” kata Jee yang membuat Mei terkejut, Jee tertawa kecil “kau tidak perlu khwatir, aku bisa menjaga rahasia, asalkan kau bisa berguna untukku”, tubuh Mei mulai gemetar.
Sementara itu di barak pondok pasukan naga, Kin terbangun dari tidurnya, Niki tidak ada disana, Kin pun beranjak bangun, bermaksud mencari Niki. Suara pertarungan terdengar dari ruang latihan, Kin pun menuju ke asal suara, Niki disana sedang berlatih tarung menggunakan boneka kayu, “ku pikir kau hanya bisa malas - malasan” celetuk Kin, Niki pun menengokan wajahnya “ku kira siapa” kemudian melanjutkan latihannya, “belum lama di istana, kau sudah naik pangkat menjadi pasukan kelas satu, yah..walaupun dari awal kau memang sudah pantas si” Kin duduk tak jauh. Niki terdiam sejenak “menjadi pasukan kelas satu hanya merepotkan” kemudian melanjutkan latihannya.
Pagi - pagi buta, para pasukan yang berjaga sudah mulai mengantuk, sebentar lagi matahari baru akan terbit. Yuan mulai menyelinap masuk kedalam istana diikuti Jiu, Jiu menghilangkan dirinya agar tak terlihat, berjalan dibelakang Yuan sembari menodongkan belati dileher Yuan, Yuan hanya bisa mengikuti perintah sembari gemetar. Kini Yuan berjalan memasuki ruang peralatan, mengambil beberapa pakaian pasukan istana, Jiu mulai memunculkan dirinya dan memakai pakaian pasukan istana, kemudian menodongkan kembali belatinya “berikan pakaian ini pada Tsam, jika kau berkhianat, akan kucari kau sampai ke liang kubur”, Yuan hanya mengangguk gemetar.
Matahari mulai terbit, Tsam masih menunggu didalam hutan bersama Enel, Enel sedang meregangkan tubuhnya “aku sudah tidak sabar untuk membunuh bangau merah”, sedangkan Tsam sedang mengasah pedangnya “tidak perlu terburu - buru, jika kita sudah berhasil masuk, kita punya waktu selama yang kita butuhkan”. Tidak beberapa lama, Yuan akhirnya datang, membawakan pakaian pasukan istana untuk Tsam dan juga Enel, “akhirnya tiba juga” Enel bangkit berdiri “apa sekarang kita sudah boleh membunuhnya?”, Yuan kembali gemetar mendengar itu, Tsam tertawa kecil “belum saatnya, kita masih membutuhkannya”.
Jiu kini sedang mengawasi sekitar dari kandang kuda, tidak beberapa lama, Tsam, Enel, dan juga Yuan menghampiri, Tsam sudah mengenakan pakaian pasukan istana, begitu juga dengan Enel. “Kau sudah menemukannya?” tanya Tsam, Jiu menggeleng, Tsam mengeluarkan selembaran wajah Niki “apa kau tahu dimana dia?” tanya Tsam kepada Yuan, Yuan mengangguk gemetar “seharusnya dia berada di pondok pasukan naga” – “antarkan kami” Tsam menarik pakaian Yuan.
Di pondok pasukan naga, para pasukan masih bersantai, beberapa pasukan masih mengantri untuk membersihkan diri. Kini Jiu mulai menghilangkan dirinya, kemudian memanjat atap pondok, dan mulai mengintip, sementara Tsam, Enel dan juga Yuan menunggu tak jauh darisana. Jiu masih mengintip, tidak beberapa lama, ia melihat Niki yang baru saja keluar dari tempat pemandian, Jiu pun tertawa kecil.