NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
38



Bab 38.


 


Matahari sangat terik hari itu, Yim sedang mengurus rumah dagangnya. “Hari yang sibuk?” Xu berjalan masuk kedalam rumah dagang diikuti anak buahnya, Yim terkejut melihat Xu “tuan Xu? Saya tidak menyangka tuan akan datang” Yim memberi hormat dan mempersilahkan Xu duduk. Yim menuangkan segelas teh “ada keperluan apa tuan Xu kemari? Bukankah baru beberapa hari yang lalu saya memberikan upeti? Apakah kurang?”, Xu tertawa “tidak perlu tegang begitu, aku kemari bukan karna upeti” Xu meminum tehnya kemudian menyalakan cerutu “aku kemari ingin mencari perempuan dari panti itu, dia sangat cantik, aku ingin menikahinya” kata Xu sembari menghembuskan asap cerutu.


Yim ikut tertawa “baguslah jika tidak ada masalah dengan upeti” – “aku tidak suka basa - basi, kapan perempuan itu akan kemari lagi?” tanya Xu langsung pada intinya, Yim berpikir sejenak “seharusnya tidak lama, mungkin dalam beberapa hari”.


Xu menghembuskan asap cerutunya “Yim, kau salah satu pedagang yang aku suka, penjualan mu bagus, upeti tidak pernah bermasalah, sangat disayangkan jika aku harus kehilangan salah satu anggota serikat dagang”, mendengar itu Yim mulai mengeluarkan keringat “apa maksud tuan Xu?”, Xu tersenyum “tidak ada” kemudian memberikan isyarat kepada Huang, Huang segera mengeluarkan pisau dan menusuk leher Xu dari belakang, darah mengalir dengan deras, dalam sekejap Yim sudah tidak bernyawa “aku akan merawat keluarga mu” Xu menepuk pipi Yim.


Malam semakin larut, Xu baru saja selesai bermesraan dengan Lan, istri dari Yim. Lan masih tertidur tanpa sehelai pakaian, sementara Xu sedang memakai kembali pakaiannya “seharusnya sejak lama aku membunuh mu Yim” Xu tertawa, tiba - tiba pintu kamar diketuk. Xu membukakan pintu “ada apa?” tanya Xu, “tuan Shibaku sudah sampai” Huang membawakan kabar.


Di pintu gerbang rumah dagang, kereta kuda Shibaku baru saja sampai bersama pasukan bandit, Kara membukakan pintu, Shibaku turun dari kereta kuda, “selamat datang tuan Shibaku” sambut Xu, “dimana Kulu?” tanya Shibaku, “jendral akan segera sampai, ia sedang mengurus urusan lain, mari..” jawab Xu mempersilahkan Shibaku masuk kedalam.


Di kota lain, di rumah bunga, Rasa sedang bersiap - siap, “kak, biarkan aku ikut” kata Enel yang berdiri tak jauh, “kali ini bukan urusan mu, aku hanya menepati janji” Rasa memasukan pedang tipisnya kemudian beranjak pergi. Di luar rumah bunga, kereta kuda Kulu sudah menunggu bersama pasukan bayangan istana, Shee membukakan pintu, Rasa naik ke dalam kereta kuda, “akhirnya kau ikut” sambut Kulu, “aku hanya menepati janjiku, setelah ini kita sudah tidak ada urusan lagi” jawab Rasa, Kulu tersenyum “sesuai dengan perjanjian”.


Beberapa hari telah berlalu, matahari baru sampai di puncak, kini Vivian dan pasukannya berkuda memasuki salah satu kota, mereka datang untuk membeli bahan - bahan kebutuhan, hari itu kota sangat sepi. “Senior, apa boleh saya izin pergi mengambil pedang?” tanya Kin sembari berkuda, “baiklah, kita bertemu di rumah dagang” jawab Vivian, Kin mengangguk kemudian memacu kudanya menuju rumah pandai besi.


“Paman Jung!” panggil Kin sembari turun dari kudanya, Kin masuk kedalam rumah pandai besi “paman!” – “ahh kau sudah datang” Jung sedang meminum beberapa botol arak, “merayakan sesuatu?” tanya Kin, “ya, seorang kaya baru saja membeli kota ini” jawab Jung yang sudah mabuk, “membeli kota ini?” tanya Kin bingung, “ya, mereka memberikan kami perak” Jung menunjukan sekantung perak “kami hanya disuruh untuk tidak keluar rumah” lanjut Jung sembari meminum araknya.


“Paman dimana pedang ku?” tanya Kin langsung pada intinya, “ahh..benar juga, kau kemari untuk mengambil pedang” Jung mengambilkan sebuah pedang dan memberikannya kepada Kin, Kin membuka sarung pedang itu, ia tampak bingung dengan pedang yang diberikan Jung, pedang itu tumpul.


Vivian dan pasukannya baru saja sampai di rumah dagang, Vivian merasakan sesuatu yang mencurigakan, kota begitu sepi, rumah dagang juga tampak tidak ada kehidupan. Pintu gerbang rumah dagang dibuka, Vivian dan pasukannya masuk kedalam “paman Yim!” panggil Vivian, tetapi tidak ada yang menyambut.


Hingga beberapa lama “ternyata ada tamu” Xu keluar dari rumah dagang menyambut, “dimana paman Yim?” tanya Vivian, “dia sedang berlibur, ada yang bisa kubantu?” tanya Xu, “kami kemari untuk membeli bahan - bahan kebutuhan” jawab Vivian, “ahh..aku ingat, kau perempuan panti itu ya, mari kita bicarakan didalam..” Xu mempersilahkan Vivian masuk, “kalian semua tunggu disini, jangan lengah” Vivian pun mengikuti Xu masuk kedalam rumah dagang.


Xu menuangkan segelas teh “silahkan diminum” Xu duduk dan menyalakan cerutunya “barang - barang apa yang kau butuhkan?”, Vivian memberikan sebuah gulungan berisi daftar bahan - bahan, Xu membaca gulungan itu “baiklah, akan segera disiapkan, Huang!” panggil Xu, “ya tuan?” Huang datang menghampiri, “segera siapkan” Xu memberikan gulungan bahan - bahan itu, Huang mengangguk dan beranjak pergi.


“Jadi bagaimana panti mu?” Xu membuka pembicaraan, “maaf jika saya lancang, tetapi paman siapa?” tanya Vivian, “saya Xu, ketua serikat dagang, Yim adalah anggota ku” Xu menghisap cerutunya “bagimana dengan mu? Kau belum menjawab pertanyaan ku” Xu menghembuskan asap cerutu, “saya hanya pelayan, panti itu bukan punya saya” jawab Vivian, Xu tertawa “tidak perlu kaku begitu, wanita secantik mu tidak seharusnya kaku begitu” Xu bangkit berdiri menghampiri Vivian dan mengelus pipinya, Vivian menurunkan tangan Xu “saya akan menunggu diluar” kemudian bangkit berdiri dan beranjak pergi.


Vivian berjalan keluar dari rumah dagang, tetapi ia terkejut dengan apa yang ia lihat, pasukannya sudah terkapar dengan luka - luka. “Lama tidak berjumpa ya Vivian” tiba - tiba Taka berada dibelakang Vivian, Vivian pun terkejut, ia segera mengeluarkan pisaunya, membalikan badan menyerang Taka, Taka membuka mata kirinya, serangan Vivian menembus tubuhnya begitu saja, Vivian terkejut, kemudian Taka menghilang.


Kini Taka sudah berada diatas atap rumah dagang, “cih!” Vivian mengeluarkan pisau - pisaunya dan melemparkannya kearah Taka, lagi - lagi pisau - pisau itu menembus tubuh Taka begitu saja, Taka tertawa “kau sudah terkejut Vivian?” seketika Taka sudah berada dibelakang Vivian, Vivian langsung membalikan badannya bermaksud menyerang, tetapi tiba - tiba Taka sudah tidak berada disana.


Taka kini berdiri didekat para pasukan yang sudah terkapar, “cih! Lawan aku!” Vivian tampak geram, “ya mungkin setelah ini” Taka mengeluarkan rantai api kemudian mengikatkannya kepada salah satu pasukan, rantai api itu mulai mengeluarkan asap, pasukan itu berteriak kesakitan, “dimana persembunyian kalian?” tanya Taka, pasukan itu berusaha menahan rasa panas rantai api, “katakan, akan kulepaskan rantai ini” kata Taka, pasukan itu masih berusaha bertahan, tetapi rantai api terlalu panas “gunung emas!” teriak pasukan itu yang sudah tidak kuat, Taka tersenyum “kalian sudah mendengarnya kan?”.


Xu berjalan keluar dari rumah dagang, ia mulai bertepuk tangan “tidak ku sangka rencananya berjalan semulus ini, perempuan ini milikku” Xu tersenyum lebar. Taka tertawa “baiklah kalau begitu, aku masih ada urusan lain” rantai api membakar pasukan itu hingga menjadi abu “kau bisa memakamkan abunya” ejek Taka kepada Vivian. Vivian tampak geram, ia berusaha berpikir langkah selanjutnya, dia sudah masuk jebakan musuh, Vivian pun menyalakan petasan asap, asap warna hijau terlihat sampai ke atas langit.