
Bab 80.
Salju turun begitu lebat di Bulan Sabit. Kini Kazu berkuda keluar dari terowongan rahasia, berkuda memasuki pasar malam yang sudah tidak berpenghuni. Kazu turun dari kudanya, berjalan menghampiri makam Zazu, golok naga tertancap disana, Kazu mencabut golok naga itu “bahkan dengan golok peninggalan ayah, kau masih bisa terbunuh” Kazu menancapkan kembali golok naga “memang tidak ada senjata yang hebat, semua tergantung penggunanya”.
Tidak beberapa lama, seseorang datang menghampiri, Kazu merasakan kehadiran seseorang, ia langsung mencabut pedangnya dan menodongkannya, tak lain orang itu adalah Fei. Kazu tersenyum “lama tidak berjumpa ya Fei” – “ku kira kau akan membunuhku” sapa Fei, Kazu memasukan kembali pedangnya, ia melihat sekitar “kau hanya datang sendiri?”, Fei tersenyum “memangnya kau berharap aku membawa pasukan untuk menangkap mu?”, Kazu tertawa kecil “ku pikir aku bisa sedikit merenggangkan badan”.
Kini Fei dan Kazu duduk di dekat api unggun menghangatkan diri, “jadi apa tujuan mu datang kemari?” Fei membuka pembicaraan, “aku sedang memburu seseorang” jawab Kazu, “Kobra dan Naga Biru?” tanya Fei yang membuat Kazu terdiam sejenak “bagaimana kau mengetahuinya?”, Fei tersenyum “telingaku ada dimana-mana” – “kau tidak datang kemari untuk menghalangiku kan?” Kazu menekan nada bicaranya.
Fei kembali tersenyum “menghentikan mu memburu Kobra dan Naga Biru? tentu saja tidak, tetapi aku menghentikan penduduk yang akan menjadi korban pertarungan kalian”, Kazu terdiam sejenak “aku tetap harus memburu orang yang membunuh adikku” Kazu menekan nada bicaranya, Fei terdiam sejenak “mereka juga menjadi musuh istana, tadinya aku ingin mengajakmu bekerjasama dengan istana untuk melawan mereka, tetapi Roku tidak menyetujuhinya” – “aku juga tidak setuju bekerjasama dengan istana, kalau begitu istana mundur saja, biar aku yang membunuh mereka” – “lalu bagaimana dengan penduduk yang akan menjadi korban jiwa?” tanya Fei yang membuat Kazu terdiam.
“Seribu lima ratus bandit, kau pasti bisa membunuh mereka semua, tetapi Bulan Sabit juga akan hancur setelah pertarungan mu” lanjut Fei “kau sudah pernah berjanji pada Tagatha untuk tidak mengusik Bulan Sabit, ku harap kau menepati kata-kata mu”, Kazu masih terdiam, kemudian menghela nafas “baiklah kalau begitu, aku melakukan ini hanya karna menghormati Tagatha” Kazu bangkit berdiri “aku menyerahkan ini padamu, tetapi jika aku mendengar istana tidak bisa menghentikan mereka, aku akan langsung menyerbu bersama bandit-banditku”, Fei mengangguk, Kazu naik ke atas kuda, kemudian berkuda pergi darisana.
Kara terdiam sejenak “tidak bisa, setelah kita menguasai kota, istana pasti akan mengepung kota, para bandit tidak akan bisa melakukan perlawanan” – “Boleh aku memberi saran?” celetuk Kobra, kemudian menunjuk tembok perbatasan utara di peta “bagaimana jika meruntuhkan tembok ini, dengan begitu Bulan Sabit akan sangat rentan, setelah itu kita bisa menguasai kota perbatasan, istana tidak mungkin bisa mengepung kota itu” – “tidak bisa!” potong Kulu “tembok itu tidak pernah runtuh selama ratusan tahun”, Kobra tertawa kecil “ya, itu jika kita menyerangnya dari luar, kita bisa menyerangnya dari dalam”, Kulu terdiam sejenak, kemudian mulai tersenyum “ku rasa kau ada benarnya, baiklah kalau begitu, kita runtuhkan tembok utara” Kulu melingkari tembok perbatasan utara di peta.
Seekor burung pengantar pesan hinggap di istana. “Naga Biru akan menyerang tembok perbatasan utara” Fei membawakan kabar, para jendral terkejut mendengar itu “kalau begitu, gandakan pasukan di tembok perbatasan!” perintah Sun, Lei mengambil pedangya “pasukan elang perak yang akan pergi, kami akan mengatasinya” – “aku juga akan ikut, pasukan kuda hitam akan membantu” Kang juga mengambil pedangnya, Sun mengangguk, Lei dan Kang langsung bergegas pergi.
Kini Kulu membawa seratus bandit, bersembunyi didalam hutan tak jauh dari tembok perbatasan utara. Dari atas pohon, Taka masih memperhatikan benteng utara melalui teropong, “bagaimana?” Tanya Kulu, Taka melompat turun “hanya ada selusin penjaga”, Kulu mulai bersiap dengan busur panahnya “Darius, bawa selusin bandit dan seranglah kota perbatasan, setelah pintu gerbang benteng terbuka, Taka mempimpin para bandit untuk menyerang, dan yang terakhir Dae, bakarlah tembok perbatasan itu, bakar sampai apinya bisa terlihat sampai istana”, para bandit mengangguk dan mulai bergerak.
Malam yang sunyi di benteng tembok perbatasan utara, para pasukan sedang menahan hawa dingin, Ao sedang memantau keadaan sekitar melalui mata elangnya, sementara Sin sedang bersantai diatas tembok sembari memakan sepotong apel. Tiba-tiba terdengar sebuah teriakan dari kota perbatasan, Darius dan para bandit sudah mulai menyerang, mendengar itu Ao segera melihat melalui mata elangnya “para bandit menyerang kota perbatasan” – “cih!” Sin mengambil sebilah tombak “aku akan mengurus mereka, kau panggil jendral Yao!”, Ao mengangguk dan segera beranjak pergi.
Sin melompat turun dari atas tembok perbatasan, melompat tepat keatas kuda “buka gerbangnya, pasukan kuda besi ikuti aku!”, pintu gerbang dibuka, Sin langsung berkuda menuju ke kota perbatasan diikuti selusin pasukan. Tidak beberapa lama, Taka melihat celah, ia langsung memimpin para bandit menerobos masuk kedalam benteng utara, para pasukan benteng pun segera bersiap dengan busur panah mereka, tetapi tiba-tiba satu persatu pasukan dilumpuhkan oleh anak panah, Kulu yang melakukan itu, ia bersembunyi diatas pohon didalam hutan.
Kini Sin berkuda menembus kota, ia melihat Darius yang sedang menghancurkan pondok-pondok, Sin langsung melemparkan tomboknya, melesat tepat menembus bahu kanan Darius, Darius pun berteriak kesakitan. Sin berkuda kearah Darius, Darius mulai bangkit berdiri, mencabut tombak yang menancap ditubuhnya, kemudian tertawa kecil “menarik! Datanglah padaku!” Darius menghantam kuda Sin hingga jatuh terpental, beserta dengan Sin. Belum sempat Sin bangkit berdiri, Darius langsung melayangkan serangan, sebuah pukulan yang sangat kuat, Sin berhasil menghindarinya, pukulan itu menghantam tanah hingga hancur, pertarungan pun terjadi.
Kini pertempuran pecah di kota dan benteng perbatasan utara, Yao mulai mengayunkan golok bertama duanya menebas para bandit yang menerobos masuk ke benteng utara “Ao kirimkan burung pengantar pesan ke istana!”, Ao mengangguk, tetapi kemudian ia terdiam sejenak “sepertinya tidak perlu” Ao menunjuk kearah kota perbatasan. Pasukan elang perak dan pasukan kuda hitam berkuda menerobos kota perbatasan, Lei mencabut pedangnya “kita usir para bandit!”, para pasukan mulai mengeluarkan senjata mereka, pasukan bantuan telah datang.