NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
28



Bab 28.


 


Malam yang tenang di istana, hujan rintik membasahi. Mei baru saja keluar dari kamar Khan, ia menuju ke ruang bawah tanah, dari kejauhan Yamato mengamati, ia mengikuti Mei menuju ruang bawah tanah. Mei masuk ke ruang bawah tanah “Khan sudah meminumnya” Mei menaruh sebuah gelas kosong diatas meja, “kembali lagi besok untuk mengambil ramuan” kata Sada sembari meneruskan penelitiannya, “memangnya ini ramuan apa?” tanya Mei, “jika meminumnya setiap hari perlahan otak akan lumpuh, aku sendiri yang menemukan ramuan ini” Sada menjelaskan sembari tetap melanjutkan penelitiannya “sekarang kau boleh pergi” lanjut Sada.


Yamato mendengarkan itu semua dari ujung tangga, Mei mengangguk dan beranjak pergi, Yamato segera beranjak keluar dari sana. Di pemandian istana, Kulu sedang menikmati berendam air hangat, pintu pemandian dibuka, seorang laki - laki masuk, memakai jubah dan sarung tangan, ia adalah Shee, anggota pasukan bayangan. “Jendral memanggil saya?” Shee memberi hormat, Kulu bangkit berdiri dan mengeringkan tubuhnya “aku mengangkatmu menjadi ketua pasukan bayangan” Kulu memberikan sebuah gulungan “ini tugas pertamamu, jangan kecewakan aku”, Shee memberi hormat “jendral bisa mengandalkanku”.


Disalah satu kota, Yinsa dan Kiba sedang bertarung dengan para penjahat, sudah lusinan penjahat yang mereka lumpuhkan. Pada satu titik Kiba lengah, seorang penjahat akan menebasnya, tetapi tiba\-tiba sebuah anak panah menancap tepat ke tubuh penjahat itu, penjahat itu pun jatuh tergeletak. Pingping yang memanah dari atas atap, Pingping melompat turun, “kau berkembang dengan pesat” kata Kiba, Pingping tersenyum “aku tidak ingin selalu merepotkan”.


Pingping kini bergabung dengan pasukan naga dibawah bimbingan Kiba, ia ingin membantu, tidak hanya duduk diam didalam gua. Yinsa dan pasukannya pun sudah berkumpul “bawa penjahat - penjahat ini keluar dari kota, satu lagi kota sudah dibersihkan” Yinsa memasukan kembali pedang besarnya, Pingping masih melihat - lihat sekitar, matanya berhenti pada sebuah selembaran yang tertempel di bangunan, selembaran wajah Niki, Pingping tersenyum melihat itu dan mengambilnya.


Di kota lain, Rasa baru saja sampai di depan salah satu rumah bunga, ia masuk kedalam sana, “selamat datang tuan” sambut para perempuan, “kakak sudah datang rupanya” sambut Enel dari lantai atas, Enel turun ke bawah “selamat datang, kota ini sudah menjadi milikku, begitupula dengan rumah bunga ini” – “kau memang tidak pernah berubah” jawab Rasa. Kini mereka sedang duduk menikmati arak, beberapa gadis duduk menemani, “besok tengah malam Kulu akan melakukan pengiriman” Enel membuka pembicaraan, “sudah waktunya ya” Rasa meminum araknya.


Matahari mulai terbit, Yinsa dan pasukannya baru kembali ke gunung emas, “ketua sudah menunggu” sambut Vivian. Kini para petinggi pasukan naga sedang berdiri melingkari sebuah meja, peta kekaisaran terpampang disana, mereka sedang membahas langkah selanjutnya, “maaf saya terlambat” Yinsa dan Vivian ikut bergabung.


Fei membuka gulungan yang diberikan Sai “gulungan ini tertulis waktu dan tempat pengiriman, tetapi kita tidak tahu apa yang mereka kirim” – “jika kita bisa mengacaukan pengiriman mereka, mungkin kita bisa memancing Kulu keluar dari istana” usul Kang, “terlalu beresiko, kita tidak tahu siapa saja yang berada dipihaknya, sebaiknya kita mengirim pasukan untuk mengintai, menggali informasi lebih dalam” usul Su, Wen menghelas nafas “sejujurnya aku setuju dengan Su, tetapi apapun rencana Kulu, kita tidak bisa membiarkan pengiriman itu berjalan lancar, pengiriman itu pasti salah satu kunci rencananya”.


Fei berpikir sejenak “bagaimana menurutmu Sai?” – “banyak dari anggota musuh yang belum kita ketahui kemampuannya, jika bergerak tanpa rencana matang mungkin lebih banyak lagi pasukan yang pulang dengan terluka parah” jawab Sai, “kalau begitu aku sendiri akan ikut dalam penyergapan, kita tidak bisa membiarkan Kulu bergerak bebas lebih lama” Kang menekan nada bicaranya “kumohon Fei, percaya padaku kali ini”, Fei menghela nafas “baiklah, mereka akan mengirim ke tiga lokasi dalam waktu bersamaan, bentuk tiga pasukan dan masing - masing pergi ke tempat pengiriman, jangan memaksakan pertarungan, mengacaukan satu sudah cukup daripada tidak sama sekali” – “siap laksanakan!” jawab para pasukan.


Matahari baru saja terbenam, hujan rintik kembali membasahi, Shee dan pasukan bayangan sudah berada di pelabuhan. Huang dan anak buahnya sedang menurunkan kotak - kotak dinamit dari kapal, memasukannya ke tiga kereta kuda. “Ini lokasi pengirimannya” Shee memberikan gulungan kepada dua pasukannya, Sora dan Hachi. “Kami akan mengawalnya dengan baik!” Sora dan Hachi memberi hormat kemudian naik ke atas kuda mereka, begitu pula dengan Shee “kita berangkat!” Shee memacu kudanya diikuti para pasukan dan ketiga kereta kuda.


Pasukan kedua diketuai Tang, ia juga membawa sepuluh orang pasukan, termasuk Kang didalamnya.


Pasukan ketiga, diketuai Yinsa, ia juga membawa sepuluh orang pasukan, termasuk Kiba didalamnya.


“Ku serahkan pada kalian bertiga” kata Fei kepada para ketua pasukan, “Kami mengerti!” jawab ketua pasukan serempak. Tugas kali ini Sai tidak ikut, ia masih memulihkan luka - lukanya, “senior” Pingping menghampiri “tolong berikan ini pada Niki saat ia sadar” Pingping memberikan secakir kertas, “baiklah” Sai mengambil kertas itu.


Malam semakin larut, lokasi pertama pengiriman, Jalur Lebah. Vivian dan pasukannya sudah bersiap, mengintai dari balik pepohonan. “Dengarkan aku, kita tidak akan menyerang sampai mengetahui orang yang menerima kiriman” Vivian memberikan arahan, “kami mengerti!” jawab para pasukan, “para pepanah naiklah keatas pepohonan, tunggu aba - abaku untuk menyerang” lanjut Vivian, Pingping dan dua pasukan lainnya mengangguk, kemudian memanjat ke atas pepohon.


Lokasi kedua pengiriman, Jembatan Merah, Tang


dan pasukannya juga sudah bersiap, bersembunyi di balik pepohonan, “saat mereka datang, kita akan kepung dari dua arah” perintah Tang, para pasukan mengangguk.


Lokasi ketiga, Kuil Matahari, Yinsa dan pasukannya mengintai dari luar tembok kuil, “aku tidak mengerti apa yang mereka lakukan dikuil, setelah melihat mereka kita akan masuk kedalam” perintah Yinsa, para pasukan mengangguk.


Di gunung emas, para petinggi pasukan naga sedang cemas, kali ini langkah yang mereka lakukan sangat beresiko. “Tidak perlu khwatir, mereka bukan pasukan sembarangan” Su menenangkan, Fei meminum tehnya “aku merasa langkah kita tidak matang” – “terkadang dalam perang langkah tanpa kematangan harus diambil, kalah dalam pertempuran kadang langkah untuk menang dalam peperangan” Wen menepuk pundak Fei, Fei menghela nafas “aku tahu itu”.


Di ujung gua Sai sedang bersantai menemani Niki yang belum sadarkan diri, ditemani seteko teh hangat sembari membaca gulungan cerita - cerita leluhur. Perlahan jari Niki mulai bergerak, ia mulai membuka matanya “senior Sai” panggil Niki dengan suara pelan, “ternyata kau sudah sadar” Sai membantu Niki untuk duduk, memberikan segelas teh hangat, Niki meminum teh itu “aku tidak ingat kejadian terakhir”, Sai tersenyum “kau menyelamatkanku” kemudian Sai memberikan kertas titipan dari Pingping “gadis itu memberikan ini padamu”, Niki melihat kertas itu, selembaran dengan wajah dan harga kepalanya, terdapat sebuah cacatan “julukan ini tidak sebagus julukan yang kuberikan – Pingping -” Niki tersenyum membacanya.