NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
35



Bab 35.


 


Matahari sudah di puncak, Sai dan pasukannya baru saja sampai ke gunung emas. Kini Niki dan para pasukan sedang beristirahat, mereka makan dengan lahap, perjalanan panjang telah menguras tenaga mereka. “Ini makan lagi” Pingping membawakan beberapa potong roti, “terima kasih” kata Niki dengan mulut yang penuh dengan makanan.


Sai sedang melapor kepada Fei, “sepertinya untuk pertama kali pasukan naga mendapatkan kemenangan” Fei meminum tehnya, “mungkin kita berhasil menggagalkan rencana musuh, tetapi kita juga kehilangan cukup banyak pasukan” Sai tertunduk, “kau masih memikirkan Yinsa ya?” tanya Fei, Sai mengangguk “bahkan kita tidak bisa memberikan pemakaman yang layak untuknya”, Fei menepuk pundak Sai “perang kita masih panjang, selama istana belum kembali seperti semula, perang kita belum berakhir”, Sai mengangguk “aku mengerti”.


Disebuah rumah dagang yang cukup besar di tengah kota, Vivian dan pasukannya sedang pergi untuk membeli bahan - bahan kebutuhan, Kin juga ikut dalam pasukan itu. Beberapa kereta kuda sudah terisi penuh dengan obat - obatan dan juga makanan, “terima kasih paman” Vivian memberikan sekantung perak, “sama - sama” jawab seorang laki - laki paruh baya dengan perut bulat, ia adalah Yim, pemilik rumah dagang di kota itu.


“Aku tidak pernah melihat kalian sebelumnya, apa kalian baru di kota ini?” tanya Yim, “kami tidak dari kota ini, kami memiliki panti di desa dekat sini” jawab Vivian, “wah - wah sepertinya rumah dagang mu masih ramai ya Yim” Xu berjalan masuk kedalam rumah dagang bersama Huang dan beberapa anak buah, “tuan Xu” Yim memberi hormat “silahkan masuk tuan, upetinya sudah saya siapkan” Yim mempersilahkan Xu masuk kedalam.


Xu memperhatikan kereta - kereta kuda yang terisi penuh dengan bahan - bahan kebutuhan “wah banyak sekali yang membeli” kata Xu, “oh benar sekali tuan Xu, perkenalkan..” Yim memperkenalkan Vivian kepada Xu “dia memiliki panti di desa dekat sini”, Vivian memberi hormat “salam kenal”, Xu tersenyum “panti? Aku belum pernah mendengarnya, mungkin suatu hari aku bisa mengunjunginya” – “tuan sangat murah hati” jawab Vivian, “apa disetiap panti memiliki perempuan secantik ini?” Xu mengelus wajah Vivian, Vivian lansgung menurunkan tangan Xu “saya harus segera pergi” lalu beranjak pergi.


Kini Vivian dan pasukannya telah pergi membawa kereta - kereta kuda itu, “sejak kapan mereka sering kemari?” tanya Xu, “semenjak musim dingin” jawab Yim, Xu berpikir sejenak “aku ingin melihat daftar barang - barang yang mereka beli” – “akan segera saya ambilkan” Yim beranjak pergi. Kini Xu sedang duduk membaca gulungan daftar barang ditemani segelas teh, Xu tersenyum “barang - barang ini terlalu janggal untuk panti, Huang, bawa beberapa anak buah, periksa ke desa terdekat, aku yakin tidak akan ada panti disana” – “saya mengerti” Huang memberi hormat kemudian beranjak pergi.


Disebuah hutan, Kulu membawa beberapa pasukan untuk menemaninya berburu. Kulu sedang membidik seekor rusa dengan busur panahnya, Kulu menembakan anak panah, melesat tepat ke tubuh rusa, para pasukan bertepuk tangan “jendral memang sangat hebat, sekarang aku mengerti mengapa jendral dijuluki mata tiga” – “julukan itu sudah tidak terpakai semenjak aku menjadi jendral, sebaiknya kau angkat rusa itu” perintah Kulu, hari itu entah sudah berapa hewan yang diburu Kulu. Masih asik berburu, Toro berkuda menghampiri, turun dari kudanya dan memberi hormat “lapor jendral, armada laut kekaisaran telah kembali”, Kulu mengangguk “aku akan kesana”.


Dermaga istana, seratus kapal baru saja berlabuh, Kulu dan Toro sudah berada disana menyambut. Tiga orang jendral turun dari kapal, jendral pertama, seorang laki - laki berumur, rambutnya sudah mulai memutih, ia adalah Roku, komandan tertinggi armada laut.


Jendral kedua, laki - laki paruh baya, ia adalah Kumo, tangan kanan dari Roku.


Ketiga jendral armada laut kekaisaran Bulan Sabit, mereka dijuluki tiga kepala naga, mereka baru saja kembali dari ekspedisi laut. “Selamat datang, bagaimana pelayaran kalian” sambut Kulu, “Kulu, lama tidak berjumpa dengan mu, aku heran mengapa kau belum ditendang dari istana” jawab Roku ketus sembari tetap berjalan tanpa melihat kearah Kulu, Kulu hanya terdiam, “tidak perlu dimasukan kehati, jendral Roku tidak bertemu dengan wanita cukup lama, kau mengerti maksudku kan” Kumo menepuk pundak Kulu dan tertawa kecil, Kulu ikut tertawa “jendral memang tidak pernah berubah”.


Tidak berapa lama, kereta kuda Xu sampai di dermaga istana, Huang membukakan pintu, Xu turun dari kereta kuda “selamat datang kembali jendral” Xu memberi hormat kepada Roku, “aku butuh istirahat, kau urus saja dengan mereka” jawab Ruko sembari tetap berjalan, Xu hanya mengangguk.


“Wah tuan Xu sudah datang” sambut Kumo, “jendral” Xu memberi hormat, “sebaiknya kau segera naik ke kapal, banyak barang - barang yang harus diurus, saya permisi jendral Kulu” kata Kumo sembari beranjak naik keatas kapal diikuti Xu, “sebaiknya saya juga permisi” Toro beranjak pergi, kini tersisa Kulu disana. Shee menghampiri “ruang bawah tanah dan ruang arsip sudah tertutup rapat” Shee memberikan dua buah kunci, Kulu mengangguk dan menyimpan kedua kunci itu.


Kini Xu sedang berada di ruang jendral armada laut, ia dan Kumo sedang membicarakan barang - barang yang bisa dijual kepada rumah - rumah dagang di kota. “Mungkin beberapa barang ini akan laku di kota” kata Xu sembari membaca gulungan daftar barang, “yah, kami membelinya dari kapal asing” Kumo menyalakan cerutunya “bahkan sekarang armada laut membeli meriam dari kapal asing, jangan beritahu jendral yang lain, mereka akan iri” canda Kumo, Xu hanya tertawa.


Matahari mulai terbenam, Xu baru saja keluar dari ruang jendral armada laut, Shee sudah menunggu disana “selamat malam tuan, jendral Kulu mengundang anda untuk makan malam” Shee memberi hormat, “antarkan aku” kata Xu. Hidangan disajikan di meja makan, diruangan itu hanya ada Kulu dan Xu, beserta Shee berjaga di ujung ruangan, “bagaimana pembicaraan mu dengan Kumo? apa mereka akan segera kembali berlayar?” Kulu membuka pembicaraan, “apa kau tidak bisa bersantai sedikit dan menikmati makan malam?” jawab Xu sembari tetap makan.


“Bagaimana aku bisa bersantai, aliansiku baru saja menusuk dari belakang” Kulu menekan nada bicaranya, “aku masih tetap disini” jawab Xu “aku juga yakin Shibaku dan Rasa masih tetap berada disisimu, aku belum mendengar apa - apa dari mulut mereka” Xu meminum tehnya “aku juga memiliki kabar baik, sepertinya aku menemukan pasukan Wen”, Kulu terdiam sejenak, kemudian mulai tersenyum “sudah waktunya kita memusnahkan kecoa - kecoa itu”.


Di gunung emas, para pasukan sedang mengangkut barang - barang kebutuhan dari kereta kuda. Tidak jauh dari sana, Niki dan Pingping sedang duduk diatas pepohonan, sinar bulan menerangi mereka. Pingping mulai meniup serulingnya dengan merdu, Niki memejamkan matanya menikmati alunan musik yang keluar dari seruling itu. “Aku tidak menyangka kau bisa memainkan seruling” kata Niki setelah Pingping selesai meniup serulingnya, Pingping tersenyum “perempuan penghibur harus bisa menari dan juga bermain musik” – “dan juga memanah” canda Niki dibalas tawa oleh Pingping.


Tidak jauh dari sana, Kin sedang berlatih, tubuhnya sudah dipenuhi keringat, ia sedang berusaha untuk menebas sebuah batu besar. Kin menarik nafasnya dalam - dalam dan melakukan tebasan, batu itu tidak menimbulkan retak sedikitpun, melainkan pedang Kin patah. Kin sudah terengah - engah, semenjak matahari terbenam ia sudah memulai latihannya, dan hingga kini belum menunjukan hasil yang memuaskan.


“Kau baru saja kembali dari tugas, mengapa tidak istirahat?” Vivian berdiri dibawah pepohonan, ia sudah memperhatikan Kin dari tadi, “maaf kan saya senior, tetapi saya harus mempergunakan waktu dengan baik” jawab Kin terengah - engah, “kau sudah bisa melakukan tebasan dengan baik, tetapi pedang mu tidak memungkinkan untuk melakukan itu, istirahatlah, besok aku akan mengantar mu ke kota untuk membuat pedang” kata Vivian kemudian beranjak pergi, Kin terdiam tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.