
Bab 51.
Beberapa hari berlalu, istana layaknya seperti biasa, Jee sedang duduk ruangannya, membaca gulungan - gulungan laporan istana. Pintu ruangan diketuk, Kumo masuk kedalam “penasehat mencariku?” – “jendral, silahkan..” Jee mempersilahkan Kumo duduk, menuangkan segelas teh, “penasehat tidak perlu repot - repot” kata Kumo kemudian meminum tehnya “jadi ada apa?” tanya Kumo langsung pada intinya. Jee berjalan ke meja kerjanya, mengambil sebuah gulungan “aku akan membentuk pasukan baru dibawah perintahku, pasukan pedang emas, dan aku ingin jendral yang memimpin pasukan ini” Jee memberikan gulungan itu, Kumo mulai membacanya “menarik” – “jika jendral setuju, jendral juga bisa memilih pasukannya, tetapi aku mempunyai rekomendasi” kata Jee sembari meminum tehnya, Kumo tersenyum “katakan saja, tidak akan jadi masalah”.
Sementara itu, Niki masih melanjutkan perjalanannya, setelah beberapa hari berjalan, akhirnya ia menemukan sebuah desa. Niki memasuki desa itu, tetapi desa itu sepi, tidak ada orang sama sekali, “wah - wah ternyata ada pengembara ya” sambut seorang laki - laki, berambut ikal, dan berbadan gagah, ia adalah Dae, dijuluki pemburu, salah satu bandit. “Kau datang ketempat yang salah, desa ini sudah menjadi milikku!” Dae berjalan menghampiri Niki, mengambil goloknya, menaruhnya di bahu “sebaiknya angkat kaki mu dari sini!” seketika lusinan bandit keluar dari balik - balik pondok mengepung Niki, Dae tertawa “sudah kubilang kan, kau jatuh ditempat yang salah, atau mungkin kau mau bergabung dengan ku? Bergabung dengan Naga Biru!”. Niki tertawa kecil “sepertinya kau yang datang ke tempat yang salah”, Dae kesal mendengar itu “kubunuh kau!” Dae mengayunkan goloknya menyerang Niki, Niki menghindari serangan - serangan Dae, Niki pun melihat celah dan melayangkan tendangan ke tubuh Dae, Dae jatuh terpental. Melihat itu lusinan bandit pun langsung menyerang Niki, Niki mengalirkan tenaga dalam ke kaki kanannya, kemudian menghentakan tanah, seketika getaran besar terjadi, para bandit pun langsung berjatuhan, Dae terkejut melihat itu. Dae mulai bangkit berdiri “jangan besar kepala dulu!” Dae kembali maju menyerang, ia menebaskan goloknya dengan sangat kencang, Niki menghindarinya, golok itu menghantam tanah, seketika tanah itu hancur. Niki mengambil pedang salah satu bandit, Dae kembali menyerang, pertarungan pun terjadi. Sebuah tebasan telak mengenai tubuh Dae, Dae pun terjatuh, darah mengalir keluar, Dae mulai memuntahkan darah “ketua tidak akan suka ini” – “pergilah, jangan ganggu desa ini” Niki melemparkan pedangnya, para bandit pun mulai berdiri, membopong Dae dan beranjak pergi darisana. Seketika penduduk desa itu keluar dari pondok - pondok mereka “terima kasih” kata seorang kakek bernama Liu, kepala desa itu.
Matahari mulai terbenam, Niki disambut makan malam oleh Liu dipondoknya. “Sudah cukup lama bandit - bandit itu menguasai desa kami, mengambil hasil panen kami, bahkan mengambil beberapa anak perempuan kami dan menjualnya ke kota” kata Liu sembari meminum segelas teh hangat, “jadi Naga Biru itu apa?” tanya Niki sembari meminum tehnya, “Naga biru ya, mereka komplotan baru, sebenarnya awalnya Dae bukanlah bagian dari mereka, tetapi sepertinya Dae ditaklukan dengan kekuatan yang lebih besar darinya, Naga Biru” Liu menjelaskan “Dae pernah beberapa kali menyebut ketua, tetapi aku tidak pernah melihat bandit lain selain komplotan Dae” – “apa pasukan istana tidak pernah bertindak?” tanya Niki lagi. Liu menghela nafas “menteri kota terdekat hanyalah orang yang serakah, yang dipedulikan hanyalah kepingan emas, ada juga rumor yang mengatakan jika Dae bekerja sama dengan menteri, sehingga masalah ini tidak pernah sampai ke istana”, Niki terdiam mendengar itu, “hei anak muda, hari sudah gelap, bagaimana jika kau bermalam disini?” lanjut Liu, “terima kasih banyak kek” jawab Niki, Liu tersenyum “kami yang berterima kasih padamu”.
Matahari kembali terbit, hujan baru saja redah, hari itu penduduk desa akhirnya bisa melakukan aktivitas seperti sediakala. Tetapi tiba - tiba Tsam berjalan memasuki desa sembari membawa golok ditangan kanannya, seketika penduduk desa berlarian masuk kedalam pondok mereka, Liu pun langsung menutup pondoknya, “ada apa?” tanya Niki yang ingin melihat keluar, “sebaiknya kau tidak keluar, cepat lari lewat pintu belakang!” Liu menahan Niki, wajahnya pucat, “ada apa?” Niki semakin bingung, “kepala besi, dia adalah pembunuh berdarah dingin, kau bisa mati jika melawannya” – “jika tidak melawan kalian lah yang akan mati” Niki beranjak keluar dari pondok, Liu hanya bisa melihat dengan khwatir. “Ternyata kau bukan pengecut ya” sapa Tsam, “sudah ku katakan pada teman mu untuk tidak mengganggu desa ini” jawab Niki, Tsam tertawa kecil “aku berbeda dengannya” Tsam maju menyerang, mengayunkan goloknya, Niki menghindari serangan Tsam, Tsam terus menghujani Niki dengan tebasan - tebasan, Tsam jauh lebih kuat dibandingkan Dae, pertarungan pun terjadi.
Pertarungan berjalan dengan sengit, hingga satu titik Niki lengah, Tsam pun langsung melayangkan kepala besinya menghantam tubuh Niki, seketika Niki jatuh terpental. “Sudah cukup hentikan!” Liu berlari mendekat, berdiri didepan Niki “anak ini hanyalah pengembara, tidak ada urusannya, kami akan memberikan hasil panen dua kali lipat”, Tsam tertawa kecil “menarik, kau pandai bernegoisasi ya kepala desa, baiklah siapkan hasil panennya, besok aku akan kembali kesini..” – “tidak!” potong Niki, ia mulai bangkit berdiri “hasil panen itu bukan milik mu!”, Liu pun terkejut “apa yang kau lakukan?! ini bukan urusan mu!” – “kau sudah memberi ku tempat untuk bermalam, aku berhutang budi” Niki berjalan menghampiri Tsam “pertarungan kita belum selesai” Niki mulai mengalirkan tenaga dalam ke tinju kanannya dan maju menyerang. Tsam tertawa kecil “menyerang secara langsung ya, sepertinya sudah kehabisan akal” Tsam mulai bersiap dengan goloknya, bermaksud menebas Niki saat mendekat. Niki mulai mendekat, Tsam mengayunkan goloknya, tebasan itu akan telak menganai Niki, tetapi tiba-tiba Niki menghindarinya, golok itu menebas sedikit rambut Niki, kini pertahanan Tsam terbuka, Niki melayangkan tinju kanannya, kini hantaman telak ke tubuh Tsam, Tsam pun terpental cukup jauh. Tsam mulai memuntahkan darah, ia berusaha bangkit berdiri “sial! Aku lengah”, Niki masih bersiap dengan kuda-kudanya, ia tahu jika Tsam masih sanggup melawan. Kini Tsam mulai memasang kuda-kuda “sepertinya kau tidak bisa diremehkan” Tsam maju menyerang, pertarungan kembali terjadi, pertarungan yang sengit, hingga satu titik kepala besi Tsam beradu dengan tinju kanan Niki, getaran besar pun terjadi, kini mereka berdua terpental cukup jauh.
Niki mulai memuntahkan darah, sekujur tubuhnya mulai terasa sakit, sudah cukup lama ia tidak mengeluarkan tenaga dalam, Niki mulai berpikir, sepertinya tidak ada cara lain selain memakai api biru, ia pun mulai membuka balutan di lengan kirinya. Tsam mulai bangkit berdiri “kita lihat apa lagi rencanamu!” ia mulai memasang kuda-kudanya, Niki juga mulai bangkit berdiri, mengalirkan tenaga dalam ke lengan kirinya, seketika api biru menyambar keluar, Tsam terkejut melihat itu “tidak mungkin..” kata Tsam pelan, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Kita mulai!” Niki mulai maju menyerang, kini kecepatannya bertambah, begitu pula dengan kekuatannya, ia melayangkan hantaman dengan lengan api birunya, Tsam mencoba menahan hantaman itu, tetapi ia tetap terpental cukup jauh. Baru Tsam berusaha bangkit berdiri, seketika Niki sudah berada di sampingnya, melayangkan tendangan, tendangan telak mengenai kepala Tsam, Tsam pun kembali terpental, Kini Niki melompat, melayangkan hantaman dengan api birunya, menghantam Tsam yang masih terkapar, hantaman yang sangat kencang, membuat tanah disekitar hancur, Tsam mulai memuntahkan darah.