NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
11



Bab 11.


 


Pagi itu turun gerimis hujan, sebuah batu nisan berdiri di kaki air terjun, Fei dan yang lainnya sedang berdiri memberi hormat, mengenang pasukan Tebing Langit yang gugur. Yuyu mulai mengeluarkan airmata, Niki memegang pundaknya “semua akan baik - baik saja”, Yuyu mengangguk dan menghapus airmatanya.


Di benteng Laut Awan, salah satu benteng kekaisaran Bulan Sabit. Jee ketua benteng Laut Awan, laki - laki paruh baya dengan jenggot tebal, duduk di singgasananya. Valir datang memberi hormat “ayah, aku telah pulang” – “jadi Wan sudah meninggal ya?” tanya Jee, “Shibaku sendiri yang memenggal kepalanya” jawab Valir, Jee tersenyum “orang sombong itu akhirnya runtuh juga”.


Kini Tebing Langit sudah menjadi sarang penjahat, para penjahat dari kota - kota datang kesana. Shibaku duduk diruangannya menikmati kemenangan, Kara masuk ke dalam “Zazu sudah akan pergi, dia menyampaikan untuk pamit”, Shibaku hanya mengangguk.


Kidan dan Lilia sedang mengangkat peti berisi kepingan emas yang cukup berat, tetapi wajah Kidan tampak murung, “kenapa dengan wajahmu? Didepanmu ini ada setumpuk emas” tanya Lilia, “aku tidak menemukan pasukan yang kemarin, sepertinya dia langsung kabur saat melihatku!” gerutu Kidan. “Kalian lama sekali!” oceh Zazu, “berat tau!” gerutu Kidan. Peti emas itu dimasukan kedalam kereta kuda, Zazu dan Lilia juga masuk kedalam, sedangkan Kidan yang mengendarai kereta kuda. “Ayu jalan!” perintah Zazu, mereka meninggalkan Tebing Langit.


Disebuah pedesaan di kaki gunung tiga jari. Seorang laki - laki paruh baya sedang bertapa disebuah gua diatas bukit, ia berbadan gemuk, beberapa rambutnya sudah memutih, ia bernama Bao, dijuluki panda merah.


Su baru saja sampai di desa itu, desa yang tenang, kebanyakan dari penduduknya bekerja sebagai petani. Su menghampiri seorang perempuan paruh baya bernama Ling “selamat pagi, aku mencari petapa Bao” sapa Su, Ling terkejut melihat Su, desa mereka jarang kedatangan orang luar. “Petapa Bao ya, dia selalu berada diatas bukit” jawab Ling dengan grogi, Su tersenyum “terima kasih” lalu berjalan pergi. Bao masih bertapa didalam gua, “lama tidak jumpa” sapa Su yang baru saja sampai diatas bukit, Bao membuka matanya “guru!” Bao terkejut Su datang. “Ada apa guru kemari, tumben sekali” Bao menyambut Su dengan segelas teh hangat, mereka berdua duduk berbincang layaknya guru dan murid.


“Bao, aku ingin membawakan kabar, Tebing Langit telah runtuh” kata Su yang membuat Bao terdiam, “siapa yang melakukan?” tanya Bao, “Shibaku” jawab Su, Bao menghela nafas panjang “kukira Tagatha sudah membunuhnya, padahal sampai berkorban nyawa, jadi guru kemari memintaku untuk mengalahkan Shibaku?”, Su menggeleng “tidak untuk sekarang, aku kemari ingin menitipkan seorang murid”.


Bao tertawa “guru bercanda kan? Aku tidak pernah punya murid, mengapa guru tidak menitipkannya pada Fei saja” – “tidak bisa, sekarang Fei sudah menjadi ketua Tebing Langit” jawab Su, Bao tersenyum “pendekar pengelana seperti dia mau juga diberi tugas merepotkan seperti itu” – “jangan mengalihkan pembicaraan, jadi kau mau tidak? Murid yang ingin kutitipkan padamu adalah keturunan Tagatha” Su menekan nada bicaranya, Bao terdiam mendengar itu.


“Kau yang paling mengenal Tagatha, bahkan sewaktu anak itu lahir kau juga ada disana kan, aku yakin Tagatha juga bersedia kau menjadi gurunya, kalian sama-sama pendekar gerbang kan, apa kau juga sudah membuang nama itu seperti Fei?” Su semakin menekan nada bicaranya, Bao meminum tehnya “guru masih saja galak seperti dulu”.


Para pengungsi dari Tebing Langit sangat repot hari itu, mereka sedang membangun tempat untuk menetap sementara, semua orang melakukan pekerjaan mereka masing - masing. Fei sedang berdiri di dekat air terjun, Sai datang memberi hormat “ketua mencariku?”, Fei memberikan sebuah gulungan “aku juga tidak yakin tentang hal ini, aku menulis pesan untuk Kaisar” – “ketua yakin meminta pertolongan pada Kaisar, bukankah nama ketua sendiri yang akan dipermalukan?” tanya Sai, Fei tersenyum “keselamatan kalian lebih penting dibandingkan sekedar nama”.


Tidak jauh darisana disebuah ladang, Niki sedang membantu Yuyu untuk memetik beberapa daun untuk obat - obatan, “anak muda!” teriak Bao yang sedang duduk diatas batang pohon, dia memakai topi caping, membawa sebotol arak dan sebatang bambu. Niki terlihat bingung “kau siapa?” – “aku ingin menantangmu” Bao langsung menyerang Niki, gerakannya sangat cepat, berbanding terbalik dengan bentuk tubuhnya.


Bao ingin memukul Niki dengan bambunya, Niki berhasil menghindar, ia mengeluarkan kerambitnya “Yuyu cepat pergi!” teriak Niki sembari maju menyerang. Pertarungan terjadi dan tentu saja Bao tidak serius untuk menyerang Niki, itu saja sudah membuat Niki kerepotan. Niki berhasil dijatuhkan oleh Bao, “kau payah anak muda, jika masih ingin menantangku, besok datang lagi kemari diwaktu yang sama” Bao berjalan pergi meninggalkan Niki yang masih terkapar.


Malam di istana kekaisaran, Kaisar Khan, pria paruh baya berambut putih sedang bermesraan dengan para permaisurinya. Kulu salah satu jendral masuk kedalam ruangan, para permaisuri tampak terkejut, Kulu memberi hormat “maaf menganggu, tetapi ada hal genting”.


Khan dan Kulu berada di loteng kekaisaran, Khan baru saja membaca pesan dari Fei, ia terdiam sejenak “tidak kusangka benteng terkuat bisa runtuh juga, cepat kirim bantuan!” perintah Khan, Kulu memberi hormat “laksanakan Kaisar!” lalu beranjak pergi.


Matahari sudah terbit kembali, Fei sedang duduk dipinggir air terjun, ia terjaga semalaman, Enma berlari menghampiri “lapor ketua! Pasukan dari istana telah datang” Enma memberi hormat, Fei langsung bangkit berdiri menyambut dengan antusias. Para pasukan berkuda istana datang, mereka membawa beberapa kereta kuda berisi persedian makanan dan obat - obatan, salah seorang jendral turun dari kudanya, ia bernama Fong, ketua pasukan.


“Kami datang atas perintah Kaisar” Fong memberi hormat kepada Fei, Fei tersenyum “terima kasih telah datang” Fei membalas hormat. Para pasukan istana langsung menurunkan persediaan dan membagikannya kepada para pengungsi, pengobatan lebih lanjut untuk pasukan yang terluka bisa dilakukan, termasuk pengobatan untuk Kin.


“Bagaimana keadaanya?” tanya Niki kepada Yuyu yang sedang membalut tubuh Kin dengan perban, “lima sampai sepuluh hari lagi ia sudah bisa beraktivitas normal, tetapi masih butuh banyak istirahat” jawab Yuyu sembari melakukan pekerjaannya “aku pergi dulu, masih banyak yang harus diobati” kata Yuyu dengan senyum manisnya lalu beranjak pergi, Niki membalasnya dengan senyum. “Jadi sekarang kau menyukainya?” canda Kin membuyarkan lamunan Niki, “bicara apa kau, sudah istirahat sana, aku pergi dulu” jawab Niki dengan wajah memerah sembari berjalan pergi.


Matahari sudah hampir terbenam, Niki sedang berlatih sendiri di ladang, Bao datang menghampiri “wah wah wah, datang lagi rupanya”. Niki langsung memasang kuda - kuda “kau terlambat”, Bao tersenyum, Niki langsung menyerang Bao, sore itu pertarungan kembali terjadi.


Hari sudah mulai gelap, sekujur tubuh Niki sudah babak belur, ia tergeletak terengah - engah, ia masih berusaha untuk bangkit berdiri tetapi sudah tidak memiliki tenaga dan kembali terjatuh. Bao tersenyum “aku mengagumi kegigihanmu, mengingatkan pada teman lama, pulanglah, besok kita bertemu lagi” Bao berjalan pergi meninggalkan Niki yang masih terkapar.


Niki kembali ke tempat pengungsian, ia berjalan dengan tertatih - tatih, Yuyu memperhatikan itu semua dari balik tenda pengobatan, tidak berani menghampiri. Matahari sudah hampir sampai dipuncak, Niki baru terbangun ditendanya, ia tidur dengan sangat pulas, beberapa lebam ditubuhnya sudah dibalut dengan perban, ia kebingungan dan langsung beranjak keluar, Yuyu disana sedang memasakan bubur hangat. Niki terdiam ketika melihat Yuyu, Yuyu hanya tersenyum dan memberikan semangkuk bubur, Niki mulai memakan bubur itu.


 


Matahari sudah sampai dipuncak, para pasukan istana sedang bersiap-siap untuk kembali ke istana, Fei sedang berbincang dengan Fong. “Saya ingin mengucapkan terima kasih atas bantuannya” Fei memberi hormat, “saya hanya menjalankan perintah” Fong membalas hormat, “beri tahu kaisar, dalam tiga hari aku akan berkunjung ke istana sebagai itikat baik” lanjut Fei, “akan aku sampaikan” Fong memberi hormat dan menaiki kudanya.


Pasukan istana hari itu berkuda kembali ke istana, “benteng sekuat Tebing Langit juga bisa runtuh ya” celetuk Kao salah satu pasukan, “tidak pernah ada yang tahu, diatas langit masih ada langit” jawab Fong sembari tetap berkuda. Hari sudah semakin gelap, pasukan istana masih setengah perjalanan, mereka memutuskan untuk berkemah malam itu.


Semua pasukan sedang tertidur dengan pulas, Kao duduk didekat api unggun sembari menulis pesan dan menerbangkannya bersama burung pengantar pesan. “Mengirim pesan untuk siapa?” tanya Fong sembari berjalan mendekat, “ketua belum tidur?” Kao tampak terkejut, Fong duduk disamping Kao “aku tidak bisa tidur, kau merindukan kekasihmu ya? sampai-sampai harus mengirim pesan”, Kao tersenyum “ya begitula” – “Kao, dalam beberapa hari aku akan berhenti dari pasukan istana, anakku sudah lahir beberapa bulan yang lalu, tetapi aku belum sempat menemuinya, setelah aku pergi, kau gantikan aku memimpin pasukan ini” Fong menekan nada bicaranya, “ketua serius mengatakan ini?” tanya Kao bingung, Fong mengangguk.


Seekor burung pengantar pesan hinggap di salah satu jendela Tebing Langit, Oto mengambil burung itu dan membaca pesan yang berisi “Fei akan ke istana dalam tiga hari” Oto tersenyum.