NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
60



Bab 60.


 


Di pondok pasukan Belalang Sembah, kini Yuan mengantarkan Zeke kedalam barak. “Hei, nama mu Zeke kan? Sebelumnya kau menjadi pasukan dimana?” Yuan membuka pembicaraan, “sebelumnya saya bertugas menjaga pondok menteri di kota” jawab Zeke, “sepertinya kau dipindahkan diwaktu yang kurang tepat, akhir - akhir ini sering terjadi penyerangan di istana, merepotkan!” gerutu Yuan. Kini mereka sudah sampai disalah satu kamar “ini kamar mu, jika sudah merapikan barang, kembalilah ke lapangan untuk berlatih” kata Yuan kemudian beranjak pergi, Zeke hanya mengangguk.


Di lapangan pasukan Belalang Sembah, Roo sedang berlatih tarung dengan sepuluh orang pasukan, kesepuluh pasukan itu dijatuhkan dengan mudah oleh Roo, Roo tertawa “jika kalian selemah ini, pantas saja mudah untuk dihajar”. Zeke mulai memasuki lapangan, ia memperhatikan para pasukan yang sedang berlatih, “hei pasukan baru, berlatihlah denganku!” panggil Roo, Zeke hanya mengangguk, masuk kedalam lapangan. “Siapa nama mu? Aku lupa” tanya Roo, “Zeke” jawab Zeke singkat, “ahh iya, akan kuingat, mari bertarung” Roo tertawa kecil, seketika ia sudah berada dibelakang Zeke, Roo bergerak dengan sangat cepat, Roo bermaksud melayangkan hantaman, Zeke sedikit terkejut, tetapi ia bisa merasakan serangan Roo.


Zeke dengan sengaja menerima hantaman Roo, ia terjatuh menghantam tanah hingga retak, para pasukan terkejut melihat itu, “wah sepertinya aku terlalu serius ya, maafkan aku” kata Roo sembari membantu Zeke berdiri, Zeke tersenyum “tidak apa - apa”, Roo merasa ada yang aneh, ia yakin hantamannya telak, bahkan tanah disekitar retak, tetapi ia tidak melihat luka sedikit pun di tubuh Zeke, hanya serpihan debu.


Matahari kembali terbenam, hujan rintik mengguyur, disebuah bukit, tubuh Liang ditaruh diatas altar. Kara berdiri tak jauh, memperhatikan Liang sejenak “kau selalu menjadi tangan kanan yang paling setia” Kara menyambarkan api biru dari tangan kanannya, dalam sekejap api biru melahap altar itu, Kara mulai tertunduk “sekarang kau sudah bisa beristirahat”. Kara masih terdiam memperhatikan api biru melahap altar itu, tidak beberapa lama, Taka datang menghampiri “tuan, apa yang akan kita lakukan sekarang?”, Kara terdiam sejenak “mengisi kekuatan yang kosong”.


Malam semakin larut, hujan mengguyur semakin deras, disalah satu kota, Tsam sedang beristirahat bersama dengan Jiu disalah satu kedai. Beberapa botol arak terpampang di meja mereka, “kau belum sedikit pun memejamkan mata semenjak kemarin” Jiu membuka pembicaraan sembari meminum araknya, “tidur hanya membuang - buang waktu, saat hujan redah, kita akan melanjutkan perjalanan” jawab Tsam sembari menuang segelas arak, kemudian meminumnya.


Jiu tertawa kecil “jika boleh ku tahu, mengapa kau mencari bangau merah?” – “bangau merah? Apa kau yakin dengan julukan itu? aku tidak pernah mendengarnya sebelumnya” Tsam kembali meminum araknya, “sebagai bandit kota, telinga ku ada dimana - mana” Jiu mengeluarkan gulungan hitam “harga kepalanya lima ratus keping perak”, Tsam terdiam sejenak “namanya ada di gulungan hitam? Apa berarti dia dibawa ke istana sebagai tahanan?”, Jiu tertawa kecil “soal itu aku juga tak yakin”.


Tidak beberapa lama, seekor burung pengantar pesan hinggap di meja mereka, Tsam membaca pesan itu “sepertinya kita akan mengganti tujuan” Tsam meminum araknya hingga habis “kita berangkat sekarang” kemudian bangkit berdiri dan beranjak pergi, Jiu mengikutinya dengan bingung.


Didalam penjara batu, Enel duduk terikat dengan rantai, sudah cukup lama ia menghabiskan waktunya disana, tidak pernah melihat cahaya matahari lagi. Di pintu gerbang penjara batu, mayat para penjaga berserakan, Tsam yang melakukan itu. Kini Tsam memasuki penjara batu lebih dalam, para tahanan mulai memperhatikannya dari dalam sel, Tsam melemparkan kunci sel dan juga sebilah pedang “Naga Biru sedang mencari anggota, saling bunuhlah, kami hanya menerima yang terkuat” kemudian Tsam beranjak pergi, dalam sekejap kegilaan mulai terjadi didalam penjara batu.


Matahari kembali terbit, Tsam duduk menunggu didepan gerbang penjara batu, sudah cukup lama ia menunggu. Tidak beberapa lama, Enel berjalan keluar, lengannya dipenuhi darah “aku tidak membutuhkan pedang mu”, Tsam tertawa kecil “seperti tidak salah ketua mencari mu”, Enel mulai menghirup udara dalam - dalam “sudah lama aku tidak merasakan ini”.


Hari yang tenang di istana, kini Khan mengadakan pertemuan dengan para jendral dan juga penasehat. “Saran saya, kita melanjutkan delegasi dengan kekaisaran tetangga, dengan begitu mungkin bisa meningkatkan kemampuan prajurit kita dan juga persenjataan kita” Jee membuka pembicaraan, “Cih! Jangan bodoh, mengizinkan mereka masuk kewilayah kita, itu hanya akan memberikan mereka celah untuk menyerang” potong Roku, “maaf jika saya lancang, tetapi kita bisa menghindari itu dengan menentukan jumlah pasukan yang bisa mereka bawa masuk kedalam wilayah kita” usul Sanji, perdebatan panjang pun terjadi.


“Kaisar, saya tahu delegasi ini sangatlah penting, tetapi melihat beberapa kali istana mendapat serangan, bukankah lebih baik menunda pertemuan dengan kekaisaran lain?” usul Kang, “saya rasa itu tidak mungkin Kaisar, utusan delegasi telah melakukan perjalanan laut untuk datang kemari, bukan hal yang baik untuk meminta mereka memutar haluan” potong Jee.


Khan pun berpikir sejenak, meminum segelas teh hangat “Sanji, bagaimana menurut mu?”, Sanji berpikir sejenak “menurut saya, kita tidak boleh merusak delegasi ini, apa lagi ini untuk pertama kalinya kita kembali berhubungan setelah perang usai, sepertinya kita harus membuka gerbang istana lebih luas, menyebarkan pasukan istana untuk melakukan penjagaan diseluruh kekaisan” – “cih! Tahu apa kau soal perang? kau bahkan belum lahir saat perang itu terjadi!” potong Roku, “membatalkan perjanjian delegasi sama saja dengan memicu perang, bukankah begitu?” jawab Sanji, Roku pun geram dan memukul meja “jangan berani - beraninya kau mendikte ku!”.


Khan mengehela nafas “sudah - sudah, tidak perlu diperdebatkan lagi, aku sudah memutuskan, kita akan membuka lebar - lebar gerbang istana, delegasi ini harus tetap dilanjutkan, Jee, pergilah untuk menjemput mereka di perbatasan perairan kita”, Jee pun mengangguk “akan saya laksanakan”.


Matahari sampai di puncak, di gua markas Naga Biru, Tsam baru saja sampai, ia membawa Enel dan juga Jiu bersamanya. “Lama tidak berjumpa ya, Enel” sambut Kulu, “dimana kakak?” tanya Enel, “kakak mu sudah meninggal saat pertempuran terakhir” jawab Kulu yang membuat Enel terdiam sejenak, ia mulai mengepalkan tangannya “siapa yang membunuhnya?” – “orang yang sama yang membunuh adikmu” jawab Kulu yang membuat Enel semakin geram “terima kasih telah membebaskan ku, waktunya balas dendam”. Tidak beberapa lama, seekor burung pengantar pesan hinggap, Kulu membaca pesan itu, kemudian ia tersenyum kecil “delegasi ya”.