NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
74



Bab 74.


 


Beberapa hari berlalu, para pasukan masih terus menggeleda istana, belum ada petunjuk tentang terowongan rahasia di dalam istana. Di pondok pasukan Naga, Niki sedang menikmati makan siang bersama Kin, “akhir - akhir ini pasukan istana selalu sibuk, banyak yang mengatakan terowongan di dalam istana hanyalah rumor, sejauh ini tidak ada yang menemukannya” Kin membuka pembicaraan, “tidak ada yang tahu, untunglah tugas merepotkan itu tidak diberikan kepada kita” jawab Niki sembari menyuap makanan. Tidak beberapa lama Kiba datang menghampiri “ternyata kalian disini” – “senior” sambut Niki dan juga Kin, “setelah makan, kalian ikutlah denganku” lanjut Kiba, “kemana senior?” tanya Kin, “tidak perlu banyak bertanya, aku akan menunggu di kandang kuda” jawab Kiba kemudian beranjak pergi, Niki dan Kin meneruskan makan mereka.


Matahari mulai sampai dipuncak, Kiba sedang mempersiapkan kudanya, “senior” Niki dan Kin datang menghampiri, “akhirnya kalian datang juga” sambut Kiba sembari naik keatas kuda “ambilah kuda kalian, kita akan berangkat sekarang” Kiba memakai tudung hitamnya. Kini Kiba, Kin, dan juga Niki berkuda meninggalkan istana, mereka memakai jubah hitam dan tudung menutupi wajah. “Senior, kau belom menjelaskan kita mau kemana?” Kin membuka pembicaraan sembari terus berkuda, “ketua Sai sudah menunggu kita, sebaiknya kita bergegas sebelum matahari terbenam” Kiba mempercepat kudanya, diikuti Kin dan juga Niki.


Di sisi lain, pasukan elang perak kini berkuda menuju air terjun Singa, Lam duduk terikat diatas kereta kuda, Lei dan juga Silvana duduk bersamanya, “jadi, berapa banyak bandit Mawar Merah yang datang kemari?” Lei membuka pembicaraan, Lam hanya diam gemetar, Silvana langsung mencabut pedangnya dan menodongkannya dileher Lam “jawab!”, Lam semakin gemetar “aku tidak tahu pasti, tapi komplotan bandit - bandit kecil sepertinya bergabung dengan Naga Biru, mereka sedang mengumpulkan kekuatan”. Lei berpikir sejenak “seberapa kuat Naga Biru sekarang?”, Lam masih gemetar “aku tidak tahu pasti, tetapi ketua Naga Biru, dia dianggap sangat kuat, bahkan menurut rumor dia sama kuatnya dengan Singa Putih, tetapi para bandit sendiri belum pernah ada yang melihatnya secara langsung” jawab Lam yang membuat Lei terdiam.


Matahari hampir terbenam, pasukan elang perak baru saja sampai di air terjun Singa, air terjun yang sangat besar, air terjun yang menyerupai auman singa. Lei turun dari kereta kuda diikuti Silvana “tempat apa ini?” – “air terjun Singa, menurut legenda, dibalik air terjun itu adalah makam para dewa terdahulu, tempat ini adalah tempat sakral” jawab Lei sembari bersiap dengan pedang dan tamengnya “selalu siaga, siapa tahu ada bandit yang berjaga disekitar sini”, para pasukan pun mulai bersiap dengan senjata mereka. Kini Lei berjalan menghampiri air terjun, “jendral hati-hati” celetuk Silvana, Lei tersenyum “menurut legenda, dahulu saat keturunan Kaisar lahir, ia akan dimandikan di air terjun ini agar mendapat kekuatan dari para dewa, tapi sayangnya, para dewa itu kini sudah ditinggalkan” Lei memasukan kembali pedangnya “kita buat perkemahan, kita akan bermalam disini”.


Matahari mulai terbenam, Kiba berkuda menuju ke Tebing Langit, Niki dan Kin seperti mengenali tujuan mereka “senior, bukankah ini menuju ke..” – “ya aku tahu, kita memang menuju kesana”. Malam semakin larut, sebuah api unggun mulai terlihat dari kejuahan, Sai sudah disana, menuggu bersama Vivian dan juga Buza yang terikat di batang pohon. Kiba, Kin, dan juga Niki berkuda mendekat “ketua!” mereka turun dari kuda kemudian memberi hormat, “akhirnya kalian sampai juga” sambut Sai, “ketua, siapa dia?” tanya Kiba, Sai tersenyum “baiklah akan kujelaskan” Sai membuka peta Tebing Langit “menurut informasi yang didapat dari bandit ini, terdapat terowongan rahasia di ruang senjata Tebing Langit, malam ini kita akan menyusup kedalam, aku memanggil kalian karna kalian sudah mengenal medan yang akan kita masuki” – “lalu satu hal lagi, ada beberapa bandit yang berjaga bergantian, aku yang akan mengurus mereka, kalian masuklah kedalam” timpal Vivian, Sai menggulung kembali peta Tebing Langit “kami serahkan padamu”, Vivian mengangguk.


Vivian mulai bangkit berdiri, Buza tersenyum melihat itu “waktu itu aku sedang mabuk, sekarang waktunya bersenang - senang” Buza maju menyerang, pertarungan pun terjadi. Kini Kili berlari memasuki ruang senjata, tiba - tiba sebuah temang langsung menghajarnya, Kiba yang melakukan itu “kalian bertiga pergilah, aku akan berjaga disini”, Sai mengangguk kemudian ia membuka terowongan rahasia itu, berjalan masuk kedalam diikuti Niki dan juga Kin. Terowongan yang sangat gelap, Sai membawa obor sebagai penerangan, “ketua, boleh aku bertanya, untuk apa kita memasuki terowongan ini?” tanya Kin, “apa maksud mu?” tanya Sai, “kita sudah menemukan terowongannya, lalu untuk apa kita menjelajah kedalam?” tanya Kin lagi, Sai tersenyum “tugas kita berbeda dengan pasukan istana lainnya”.


Malam yang tenang di istana, Fei sedang menikmati seteko teh hangat di loteng istana, “jendral” Tang datang menghampiri “kudengar jendral mengutus Sai untuk masuk kedalam kota purnama?”, Fei meminum tehnya “ya, itu benar” – “lalu bagaimana dengan Niki, bukankah justru mereka mengincar Niki?” tanya Tang lagi. Fei terdiam sejenak “terowongan didalam istana belum juga temukan, jika itu memang ada, berarti istana bukan lagi tempat yang aman, lagi pula membawa Niki masuk ke kota Purnama, itu akan menjadi tempat terakhir yang mereka cari”.


Di Tebing Langit, Buza masih bertarung dengan Vivian, Vivian menghujani Buza dengan lemparan pisau, Buza berhasil menghindarinya, meskipun beberapa pisau menancap ditubuhnya “Aku benci dengan pisau mu” Buza mencabut pisau - pisau yang menancap ditubuhnya, “sayang sekali, pisau ku masih banyak” Vivian kembali melemparkan pisau - pisaunya, tetapi Buza terlanjur melemparkan bola asap, lalu pegi menghilang, “cih!” gerutu Vivian. Di ruang senjata Tebing Langit, Kiba baru saja selesai mengikat tubuh Kili, ia masih tidak sadarkan diri.


Matahari mulai terbit, kini Lei sedang bersiap, ia akan memasuki air terjun Singa, Lam juga akan ikut bersamanya. “Jendral, hati - hati” Silvana memberikan sebuah lentera, “terima kasih” Lei mengambil lentera itu. Lei membawa lentera ditangan kananya, tameng di tangan kirinya, berjalan perlahan memasuki air terjun Singa diikuti Lam dibelakangnya. Di sisi lain, Sai, Kin, dan juga Niki baru saja memasuki kota Purnama, “berhati - hatilah, kita akan berbaur” kata Sai sembari mematikan obornya, Kin dan Niki mengangguk. Sai, Kin, dan juga Niki mulai menjelajah kota Purnama lebih dalam lagi, para bandit tersebar luas didalam kota bawah tanah itu, ada yang sedang minum - minum, berjudi, bermesraan dengan perempuan yang baru saja mereka ambil dari kota, kini Sai, Kin, dan juga Niki harus bebaur di tengah - tengah mereka.