NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
44



Bab 44.


 


Malam semakin larut, Ao dan pasukan naga sudah kembali ke tembok perbatasan utara, membawa kereta kuda penuh dengan roti, hari itu para pasukan tampak bahagia, sudah lama mereka tidak makan sampai kenyang. Sedangkan Niki hanya berdiam diri di atas tembok benteng, berdiri memandangi gurun, luka tebasan ditubuhnya sudah dibalut perban.


Tidak beberapa lama Fei datang menghampiri, berdiri di samping Niki, “apa ketua kemari untuk menanyai kejadian di kedai barusan?” sambut Niki, Fei tersenyum “tidak, tetapi aku ingin berterima kasih” – “berterima kasih?” tanya Niki bingung, “berterima kasih karna telah membalaskan kematian sahabatku dan juga guruku” jawab Fei yang membuat Niki semakin bingung “saya tidak mengerti apa yang ketua katakan”, Fei kembali tersenyum “kau pasti mengerti maksudku” kemudian beranjak pergi meninggalkan Niki sendiri, “anakmu tumbuh menjadi sepertimu Tagatha” gumam Fei dalam hati.


Malam yang tenang di istana, Kulu sedang membereskan barang - barangnya, kemudian memakai jubahnya, berjalan tergesa - gesa keluar dari kamarnya. “Sedang terburu - buru jendral?” sambut Yamato yang berdiri di ujung lorong, Kulu tersenyum “seharusnya waktu itu aku membunuhmu” – “sepertinya sekarang sudah terlambat” Yamato mengeluarkan senjata cakarnya dan maju menyerang, Kulu langsung mencabut pedangnya menangkis serangan Yamato, tetapi tiba-tiba sebuah pedang menebasnya dari belakang, Shee yang melakukan itu.


Kulu terkejut saat melihat Shee “bajingan!” – “maaf ya tuan, ini bukan masalah pribadi” Shee tertawa kecil, tidak beberapa lama pasukan mulai mengepung, Sun memimpin para pasukan itu “menyeralah jendral, kami sudah mengetahui rencana busukmu” – “cih!” gerutu Kulu, kini ia telah terkepung, ia pun melemparkan bubuk asap, lalu pergi menghilang. Sun mengepalkan tangannya, ia tampak geram “dasar pengecut! kerahkan pasukan untuk mencarinya diseluruh istana!” perintah Sun, semua pasukan pun langsung menyebar mencari Kulu.


Sun dan pasukannya kini menuju ke ruang bawah tanah. Sun mendobrak pintu ruang bawah tanah, tetapi ruangan itu sudah kosong, hanya tersisa sisa - sia penelitian Sada. Tidak jauh dari istana, pintu terowongan rahasia baru saja dibuka, Sada keluar darisana, “terowongan ini berguna juga” sambut Kulu yang sudah menunggu, “tugasku sudah selesai, kau bisa memberikan bayaranku” kata Sada, “ramuan mu gagal, otak Khan tidak lumpuh, ia masih bisa mengangkat Roku sebagai jendral besar” jawab Kulu.


Sada kesal mendengar itu, ia mencabut belatinya dan menodongkannya ke leher Kulu “ramuan ku tidak pernah gagal, mungkin saja pelayan mu yang tidak memberikan ramuan itu kepada Kaisar”, Kulu tertawa kecil “ya apapun itu sekarang percuma” Kulu menjauhkan belati Sada dari lehernya, kemudian memberikan sekantung perak “rencanaku sudah gagal, sekarang aku akan menyusun ulang rencana, orang dengan kemampuan sepertimu sangat dibutuhkan” – “aku tidak tertarik” Sada mengambil kantung perak itu kemudian beranjak pergi meninggalkan Kulu.


Malam masih berlanjut, disalah satu kota. Lei dan pasukannya sedang bertarung melawan para bandit “cepat kita usir semua bandit - bandit ini!” kata Lei sembari bertarung dengan pedang dan tamengnya, para bandit tertekan saat itu, tetapi tiba - tiba sebuah palu besi menghantam kearah Lei, Lei menahan dengan tamengnya, tetapi ia tetap terpental cukup jauh, Enel yang melakukan itu. “Jadi rupanya sudah ada jendral baru ya” Enel bersiap dengan palu besinya, Lei juga bersiap dengan senjatanya “sepertinya malam ini masih panjang” Lei maju menyerang, pertarungan terjadi.


Enel menghujani Lei dengan hantaman - hantaman palu besinya, Lei terus menahan dengan tamengnya, hingga pada satu titik Enel mengayunkannya dengan sangat kencang, membuat Lei jatuh terpental cukup jauh. Enel tertawa melihat itu “sebaiknya kalian anjing - anjing istana cepat pergi dari kota ku!”, tetapi tiba - tiba sebuah tombak menusuk bahu kanan Enel dari belakang, seorang perempuan berambut kuning yang melakukan itu, ia adalah Silvana, anggota pasukan istana.


“Jangan besar kepala dulu” kata Silvana kemudian mencabut tombaknya dan kembali menusukannya kearah Enel, Enel membalikan badannya dan menangkis tombak itu dengan palu besinya, tetapi tiba - tiba Lei menebas Enel dari belakang, Enel pun terjatuh, Silvana tidak membiarkan Enel bernafas, ia langsung menusukan lagi tombaknya ke tubuh Enel, Enel memuntah darah.


“Sepertinya dia pemimpin bandit - bandit di kota ini” kata Silvana, Enel sendiri sudah tidak bisa bergerak, tombok Silvana menusuk menembus tubuhnya, “terima kasih” kata Lei, Silvana tersenyum “kau selalu saja membutuhkan pertolonganku, bukan begitu Lei, maaf maksudku jendral” canda Silvana, Lei tertawa kecil “waktunya membawa mereka ke penjara” Lei menghantam kepala Enel dengan tamengnya hingga tidak sadarkan diri.


Kara tertawa kecil “terlalu banyak pengkhianat di dalam aliansi mu, pada detik - detik terakhir mereka semua menusuk mu dari belakang” – “tutup mulut mu! kau hanyalah pelayan Shibaku!” jawab Kulu, Kara kesal mendengar itu, ia bangkit berdiri, mengeluarkan api biru dari tangan kanannya dan melemparnya ke tanah, seketika api biru berkobar membakar sekelilingnya “apa ini terlihat seperti kekuatan seorang pelayan?!”.


Kulu terkejut melihat kekuatan api biru, ia tersenyum “apa kalian masih tertarik untuk menjatuhkan kekaisaran ini?”, Kara tersenyum “aku sudah menunggu kau menanyakan itu, aku masih punya urusan yang belum selesai, membunuh keturunan dari sahabat lamaku” kemudian ia mengeluarkan api biru dari tangan kanannya “dengan ini Tebing Langit tinggalah nama” kemudian melemparkan api birunya, dalam sekejap api biru melahap benteng Tebing Langit.


Matahari kembali terbit, tetapi hari itu menjadi hari yang berbeda, kota - kota di Bulan Sabit sudah kembali aman, para bandit berhasil di pukul mundur. Di tembok perbatasan utara, kereta kuda Roku baru saja sampai di depan pintu gerbang, pintu gerbang dibuka, Yao dan pasukannya menyambut, Roku turun dari kereta kuda, “jendral besar!” Yao memberi hormat, “dimana penasehat Wen?” tanya Roku langsung pada intinya.


Di ruang makan, pasukan naga sedang menikmati sarapan mereka, Yao masuk kedalam ruangan diikuti Roku, semua orang terkejut melihat itu, bangkit berdiri dan memberi hormat. Roku langsung berjalan menghampiri Wen, kemudian berlutut memberi hormat “terima kasih telah menyelamatkan kekaisaran ini”, semua orang terkejut melihat itu, termasuk Wen.


Matahari sudah sampai di puncak, kereta kuda Roku kembali ke istana, para pasukan menyambut. Roku turun dari kereta kuda, Wen, Kang, dan Fei juga turun dari kereta kuda itu, Khan meminta Roku untuk menjemput mereka. Di aula istana, Khan duduk di singgasananya menunggu, Roku masuk kedalam ruangan diikuti Wen, Kang, dan juga Fei.


“Selamat datang” Khan bangkit berdiri menyambut kedatangan mereka, “Kaisar!” semua orang diruangan itu langsung berlutut memberi hormat, Khan tersenyum “bangunlah” lalu membantu Wen berdiri “jika bukan karna kau menaruh Yamato disisiku, mungkin sekarang aku sudah mati”, Wen memberi hormat “sudah menjadi tugas saya untuk melindungi Kaisar”.


Kemudian Khan menghampiri Kang, menepuk pundaknya “kini kau bisa kembali menjadi jendral istana”, Kang memberi hormat “suatu kehormatan untukku”.


Khan tersenyum kemudian menghampiri Fei “aku sudah mendengar apa yang terjadi pada gurumu, aku turut berduka cita”, Fei memberi hormat “guru Su mati demi menyelamatkan kami semua” – “dan juga kekaisaran ini” Khan menepuk pundak Fei “Tebing Langit sudah runtuh, istana sangat membutuhkan orang sepertimu, bagaimana jika kau menjadi jendral?”, Fei terkejut mendengar itu, ia terdiam sejenak, kemudian memberi hormat “permintaan terakhir guru adalah untuk mengakhiri perang ini, jika dengan menjadi jendral saya bisa melakukan itu, saya akan menerima tawaran Kaisar”, Khan tersenyum mendengar itu “dengan ini semua sudah diputuskan”.


Beberapa hari berlalu. Hari yang sangat terik, Ji sedang mencangkul di ladangnya, menjalani hari - harinya seperti biasa, hingga ia terdiam sejenak saat melihat seseorang datang, orang itu adalah Niki, ia memutuskan untuk pulang.