
Bab 14.
Hari sudah semakin petang, Fei baru saja kembali ke pengungsian, “ketua!” para pasukan memberi hormat. Didalam tenda Fei sedang duduk minum teh, Sai masuk kedalam tenda “lapor ketua! Ini data-data kerusakan dan juga pasukan yang gugur” Sai memberikan sebuah gulungan. Fei membaca gulungan itu “mengapa disini tertulis nama Niki?” – “senior Bao yang memintanya, ia ingin tetap dirahasiakan, ia membawa Niki ke..” belum selesai Sai bicara, Fei memotongnya “tidak perlu memberitahu ku, simpan saja rahasia itu”.
Di kaki air terjun, Kin mengukir nama Niki di batu nisan, Yuyu juga ada disana, menangis tersedu - sedu. “Yuyu, aku pergi dulu” Kin memegang bahu Yuyu lalu pergi meninggalkannya duduk sendiri di kaki air terjun.
Beberapa hari kemudian di gunung tiga jari, Niki kini sudah mulai sadarkan diri, ia terkejut berada didalam gua. “Kau sudah bangun anak muda?” sapa Bao, “kau!” Niki bermaksud menyerang tetapi tubuhnya tidak bisa bergerak, “lukamu belum pulih, pulihkan dirimu, setelah itu kau bisa bertarung sepuasnya denganku” kata Bao sembari menyeduh teh, tetapi Niki tetap berusaha untuk berdiri, “jangan memaksakan diri, perempuan yang bersamamu sudah aman, ia berada di pengungsian, aku membawamu kemari hanya untuk pengobatan lebih lanjut, setelah kau pulih kau boleh pergi” lanjut Bao yang membuat Niki sedikit lebih tenang mendengar Yuyu sudah aman. Bao memberikan secangkir teh kepada Niki “lukamu cukup parah, bahkan sampai ada yang mengenai organ vital, pemulihan akan memerlukan waktu”, Niki meminum teh itu “terima kasih”.
Di kastil terbengkalai, kereta kuda Kong baru saja sampai, Taka-Taki membukakan pintu, Kong turun dari kereta kuda bersama Shibaku. “Akhirnya sampai juga, aku benci dengan perjalanan jauh” gerutu Shibaku sembari meregangkan badannya, “ternyata kalian sudah sampai, mari kuantar kedalam” sambut Oto lalu berjalan masuk kedalam kastil, Kong dan Shibaku mengikuti dari belakang sembari dikawal Taka-Taki.
Didalam kastil terdapat sebuah meja bundar berukuran besar yang terbuat dari batu, beberapa orang sudah duduk disana, termasuk Jee dan juga Valir. Kong mengambil tempat duduk “apa pertemuan ini sudah bisa dimulai?” – “kita masih menunggu satu orang lagi” jawab Caka, laki-laki dengan mata kanan yang ditutupi, ketua keluarga besar Wong, keluar terpandang kerajaan.
Kong menyalahkan cerutunya “Caka, sudah lama tidak bertemu, bagaimana keadaan matamu?” ejek Kong, “hentikan Kong, jangan kekanak-kanakan, sekarang kita ini aliansi” potong Xu, laki-laki tanpa sehelai rambut, ketua perserikatan dagang.
“Terima kasih sudah datang” seorang laki-laki bertudung hitam masuk kedalam ruangan, ia membuka tudungnya, laki-laki itu adalah Kulu. Jee tertawa “tidak kusangka ternyata salah satu jendral” – “alisansi ini tidak pandang bulu, bukan begitu? Tetapi sebelum itu..” Kulu memberi hormat “selamat datang tuan”.
Semua orang diruangan itu bingung, tidak tahu kepada siapa Kulu memberi hormat, Shibaku tersenyum “kau memang tidak melupakan hutang budi”. Semua orang semakin bingung, tidak mengenali sosok Shibaku, “kau? Bukankah kau Gema? Kau anggota serikat dagang, untuk apa kau kemari?” potong Xu, Shibaku tertawa, ia mencabut pedang milik Taki kemudian melompat keatas meja dan menodongkan pedangnya dileher Xu “mulai sekarang, kau harus mengingat nama Shibaku” Shibaku pun tertawa dengan kencang.
Matahari sudah tenggelam, Shibaku dan Kulu sedang minum teh diloteng kastil. “Tidak kusangka akhirnya bisa kembali bertemu dengan tuan, dan juga terima kasih telah mau bergabung dengan aliansi ini” Kulu membuka pembicaraan, “kau sendiri cukup hebat bisa mengumpulkan aliansi seperti ini” kata Shibaku sembari meminum tehnya, “sejujurnya kekuatan utama aliansi ini adalah nama besar tuan, bagaimanapun anda tetap salah satu pahlawan saat perang, bahkan anda menyelamatkanku waktu itu” jawab Kulu.
Shibaku tersenyum “jadi apa tujuan aliansi ini? menggulingkan kakakmu?”, Kulu sedikit terkejut “jadi tuan juga mengetahuinya?” – “kehadiran dirimu adalah cerita kelam yang ditutupi oleh Kaisar sebelumnya, mana mungkin ia mengakui anak haram dari perselingkuhan dengan pembantu istana” Shibaku memegang pundak Kulu “tetapi aku tidak peduli dengan masalah keluargamu, aku hanya ingin menghancurkan orang-orang yang sempat membuatku mati”, Kulu langsung memberi hormat “terima kasih tuan, saya akan mengabulkan ambisi anda”.
Kulu datang menghampiri Khan “Kaisar memanggil?” Kulu memberi hormat, “ah kau sudah datang Kulu” sambut Khan yang sedang melukis di loteng istana “begini Kulu, aku sedang membutuhkan kuda baru untuk berburu, besok pergilah mencari kuda terbaik diseluruh kekaisaran, pastikan kuda itu bewarna putih” – “apapun untuk Kaisar, kuda putih terbaik!” Kulu memberi hormat, Khan tersenyum “kau memang jendral yang bisa diandalkan”.
Tidak beberapa lama Kulu kembali ke tempat pemandian dengan wajah kesal, “ada apa?” tanya Mei yang dari tadi masih berendam, “Kaisar sialan! Aku ini jendral! Lagi-lagi dia menyuruhku dengan pekerjaan bodoh!” gerutu Kulu, “sudah-sudah” Mei mengusap-ngusap tubuh Kulu agar lebih tenang, “aku sudah tidak tahan lagi, hari pertama musim dingin, berikan racun itu pada Kaisar, dan pastikan racun itu memberi waktu yang cukup lama untuk memulai pemberontakan” Kulu tersenyum lebar.
Hari pertama musim dingin, salju mulai turun memenuhi jalan. Pagi itu pagi yang tenang di istana, tetapi tiba - tiba terdengar teriakan kencang dari kamar Khan, teriakan dari seorang pelayan yang bertugas mengantarkan sarapan. Tubuh Khan sudah tergeletak di lantai dengan kamar yang berantakan, mulutnya juga mengeluarkan busa yang cukup banyak. Kepanikan terjadi di istana.
Kulu sedang pergi berburu, ia sedang membidik seekor harimau, busur panah ditembakan, anak panah itu mengarah tepat ketubuh harimau. “Jendral memang pemanah yang sangat hebat” puji pasukan Kulu, tiba - tiba Toro berkuda menghampiri “maaf jendral, ada musibah yang terjadi pada Kaisar, harap jendral segera kembali ke istana” Toro membawakan kabar.
Kulu kini memasuki istana “dimana Kaisar?” tanya Kulu sembari turun dari kudanya. Kulu dan beberapa pasukan pun bergegas menuju ke ruang pengobatan istana, “akhirnya kau datang juga” sambut Kil, salah satu jendral, “bagaimana keadaannya?” tanya Kulu, “aku sudah menyuruh pasukanku untuk mencari di seluruh istana” sambung Gong, salah satu jendral.
“Sebaiknya kalian tenang terlebih dahulu, yang terpenting sekarang adalah keselamatan Kaisar” potong seorang kakek yang baru saja datang, ia bernama Wen, penasehat Kaisar. “Penasehat Wen!” para jendral memberi hormat, “dimana kepala tabib? aku ingin bicara dengannya” tanya Wen, “akan saya panggilkan” Kil berjalan masuk ke ruang pengobatan.
Kini Wen sedang berbicara dengan kepala tabib, laki - laki paruh baya bernama Guan. “Kami sudah mencoba beberapa ramuan, tetapi sepertinya racun ini belum bisa dinetralisir sepenuhnya” Guan menjelaskan, “tetap lakukan semua yang kau bisa” kata Wen, Guan mengangguk dan kembali masuk ke ruang pengobatan.
“Jadi bagaimana penasehat?” Kulu dan para jendral menghampiri, “untuk sekarang belum bisa dipastikan, Kil kau cari semua tabib terbaik di kekaisaran ini, Kulu sebarkan berita ini kepada petinggi - petinggi kekaisaran, dan Gong tingkatkan keamanan di istana, jangan melakukan pergerakan apapun, aku tidak ingin ada kepanikan di kekaisaran” perintah Wen, “laksanakan!” hormat para jendral.
Salju pun sudah memenuhi pengungsian, “sial aku benci musim dingin!” gerutu Yinsa yang sedang berjaga. Seorang pasukan istana berkuda menghampiri “apa benar ini pengungsian Tebing Langit?” tanya pasukan itu, “memangnya ini terlihat seperti pasar?” jawab Yinsa yang masih kedinginan, “kalau begitu berikan ini kepada ketua kalian, pesan dari istana” pasukan itu memberikan gulungan kepada Yinsa lalu berkuda pergi.
Fei baru saja membaca isi gulungan, “ada apa ketua?” tanya Vivian, “bukan apa - apa” Fei menggulung kembali gulungan itu.
Di pegunungan tiga jari, Niki sudah mulai pulih, tetapi salju tebal menutupi jalan untuk turun gunung. “Sayang sekali, sepertinya kau tidak ditakdirkan untuk pergi” kata Bao yang sedang memasak teh, tiba - tiba Niki bersujud “kumohon, latihlah aku, aku harus menjadi lebih kuat untuk melindungi teman - temanku”, Bao tersenyum dan membantu Niki berdiri.