
Bab 37.
Kong baru saja selesai bermesraan dengan para gadis, para gadis itu memakaikan kembali pakaiannya. Kong keluar dari kamar lantai dua, ia sudah mabuk, wajahnya tersenyum puas, Taka masih menunggu di meja yang sama “tuan sudah selesai?” – “Taka? Apa yang kau lakukan disini?” Kong turun menghampiri Taka, Taka meminum araknya “maafkan aku tuan” kemudian membuka mata kirinya, bola mata bewarna hitam pekat, seketika Taka sudah berada dibelakang Kong dan bermaksud menebas pedang bermata duanya.
Kong terkejut, tetapi ia bisa menghindari tebasan Taka, tebasan Taka menghancurkan lantai kedai, “apa maksudmu Taka?!” bentak Kong, “aku sudah bersumpah, dan aku terpaksa melakukan ini” Taka mengeluarkan rantai apinya dan menyerang Kong, Kong menangkap rantai itu dengan tangan kirinya, tetapi tiba - tiba rantai itu mengeluarkan asap, Kong pun berteriak dan melepaskan rantai itu, seketika rantai itu menjadi panas.
“Ilmu hitam dan senjata terkutuk, apa yang terjadi padamu Taka?!” Kong menekan nada bicaranya, “aku hanya ingin membalaskan kematian Taki!” Taka kembali bersiap dengan senjatanya, Kong terdiam sejenak “kau sudah tersesat begitu jauh Taka, aku orang yang memungut mu dari jalanan, sekarang kau mau membunuhku?!”, Taka mulai gemetar, ia tidak yakin bisa meneruskan “maafkan aku..” Taka kembali membuka mata kirinya, seketika ia sudah berada di hadapan Kong dan melayangkan tusukan, pedang bermata duanya menembus tubuh Kong, Kong mulai memuntahkan darah.
“Terima kasih tuan, tetapi aku harus membalaskan dendam Taki” bisik Taka, Kong terdiam sejenak “kau sudah lama mengikutiku, tidak seharusnya kau meremehkan aku” tiba - tiba Kong mencengkram tubuh Taka, kemudian membantingnya menghantam tanah, menarik dan melemparnya hingga keluar rumah bunga, semua pasukan terkejut melihat itu, Kong mencabut pedang bermata dua yang menancap ditubuhnya, kemudian berjalan keluar.
Hujan deras masih mengguyur, “tuan apa yang terjadi?” para pasukan tampak bingung, “kalian semua diamlah, tidak usah ikut campur!” Kong menekan nada bicaranya, aura membunuh mulai terpampang dimatanya, Taka masih tergeletak, tubuhnya terasa remuk, ia berusaha bangkit berdiri.
“Taka, aku akan memberikan mu pemakaman yang layak” Kong maju menyerang, seketika ia sudah berada dihadapan Taka, Taka terkejut melihat kecepatan Kong, Kong mencekik leher Taka, kemudian membantingnya sekali lagi ke tanah, Taka memuntahkan darah, kemudian Kong menginjak tangan kanan Taka hingga remuk, Taka berteriak kesakitan. “Jika kau selemah ini, bagaimana membalaskan dendam Taki!” bentak Kong, Taka berteriak, ia membuka mata kirinya, seketika ilmu hitam merambat keluar menyelimuti tubuhnya, Kong terkejut melihat itu, ia melompat menjauh.
Taka bangkit berdiri, sekujur tubuhnya diselimuti ilmu hitam, ia telah berubah menjadi iblis, Taka mengeluarkan rantai apinya kemudian menyerang Kong, tebasan rantai menghujani, Kong terus menghindarinya hingga satu titik rantai itu tepat menghantam Kong, Kong pun terpental. “Bagaimana pak tua?” ejek Taka, ia mengambil pedang bermata duanya, para pasukan mulai bersiap dengan senjata mereka “jangan mendekat!”.
Taka tertawa “memangnya kalian bisa apa?” Taka mengikat salah satu pasukan dengan rantai apinya, seketika tubuh pasukan itu terbakar hingga menjadi abu, melihat itu para pasukan mulai ketakutan.
Kong jatuh tergeletak, darah mengalir deras dari lengan kanannya, “bajingan kau Shibaku! kau ingin mengusai Tebing Langit seorang diri!” gumam Kong “tetapi kau lebih ********! kau mengkhianatiku Taka!” teriak Kong, kemudian ia berusaha bangkit berdiri dan maju menyerang, sebuah hantaman dilayangkan, Taka berusaha menghindarinya, tetapi pukulan itu terlanjur menghantam wajahnya hingga terjatuh ke tanah, Kong kembali melayangkan pukulan menghantam Taka, pukulan yang sangat kuat hingga membuat tanah disekelilingnya retak, Taka mulai memuntahkan darah.
“Dasar tidak tahu diri!” Kong terus menghujani Taka dengan hantaman, hingga ia kehabisan tenaga dan terjatuh, tubuh Taka babak belur, ia merasa sekujur tubuhnya remuk, mata kirinya juga sudah mengeluarkan darah, terlalu banyak menggunakan ilmu hitam.
Taka bangkit berdiri dan menutup mata kirinya, Kong yang sudah kehabisan tenaga juga berusaha untuk berdiri “aku tidak sudi jika harus mati ditangan mu!” ia bersiap kembali menyerang “aku tidak akan membiarkan mu hidup lebih lama!” – “pak tua, aku akan mengantar mu beristirahat dengan tenang” Taka bersiap dengan pedang bermata duanya, baru Taka ingin menyerang, tetapi tiba-tiba Kong terjatuh, ia kehilangan kesadaran, terlalu banyak darah yang terbuang.
Taka berjalan mendekat, ia bermaksud menebas kepala Kong dan membawanya sebagai bukti, para pasukan menodongkan senjata mereka “pergilah, tuan kalian sudah mati, untuk apa masih melawan” kata Taka, “jangan bercanda!” para pasukan maju menyerang, dengan beberapa tebasan pedang bermata dua, para pasukan itu dilumpuhkan.
“Apa harus sampai segitunya?” Oto duduk di atas atap rumah bunga, ia sudah memperhatikan dari tadi, “untuk apa kau kemari?” tanya Taka, Oto melompat turun “Kong juga tuanku, izinkan aku memakamkannya dengan layak” Oto menendang lengan kanan Kong yang putus kearah Taka “kau bisa membawa itu sebagai bukti pada Shibaku” – “cih!” Taka bermaksud menyerang Oto, tetapi ia sudah kehabisan tenaga, ia juga sudah tidak bisa menggunakan mata kirinya.
Taka memutuskan mengambil lengan kanan Kong, kemudian naik ke atas kudanya dan berkuda pergi tanpa berkata apa-apa. Oto memperhatikan Kong yang tergeletak “pengkhianat yang dikhianati”.
Matahari mulai terbit, disalah satu kota, dikamar penginapan. Tubuh Linlin terikat tanpa sehelai pakaian, lebam disekujur tubuh, lemas tidak bisa melakukan apa-apa. Dikamar yang sama, Kulu sedang memakai pakaiannya “terima kasih untuk semalam ya gadis cantik” Kulu menghampiri Linlin yang masih tergeletak, mengusap wajahnya “tetapi sepertinya kau sudah tidak cantik lagi” Kulu mengambil pisau dan menyayat wajah Linlin hingga berdarah, Linlin tidak bisa melakukan apa-apa, ia hanya bisa meneteskan airmata.
Pintu gerbang Tebing Langit dibuka, Taka baru saja kembali, “kau sudah kembali” sambut Shibaku dari loteng benteng, Taka melemparkan lengan kanan Kong kehadapan Shibaku, Shibaku tersenyum melihat itu, kemudian beranjak masuk kedalam.
Matahari sudah sampai dipuncak, Oto membawa mayat Kong ke Laut Awan, Jee memberikan pemakaman yang layak untuk Kong. “Padahal aku yang ingin membunuh orang primitif ini, tidak kusangka ternyata tangan kanannya sendiri” kata Jee didepan makam Kong, “sepertinya tugasku sudah selesai di Tebing Langit” timpal Oto, “ternyata kalian sudah berkumpul ya” Shee menghampiri “tuan Jee” kemudian memberi hormat. “Kau membawa kabar apa?” tanya Jee, “Shibaku dan Kulu akan menyerang Wen dan pasukannya” jawab Shee, “kalau begitu kita biarkan saja mereka saling bunuh terlebih dahulu” Jee tersenyum “kalian berdua memang mata-mata yang bisa diandalkan”, Oto dan Shee memberi hormat.