
Bab 30.
Jalur lebah, Sora terus mengejar kedalam hutan, hingga ia kehilangan jejak, matanya terus berusaha mencari sekililing. Hingga tiba - tiba sebuah batu berukuran cukup besar dijatuhkan dari atas pepohonan dan menghantam tepat ke kepalanya, kini Sora tergeletak tidak sadarkan diri, darah mengalir keluar dari kepalanya. Melihat Sora yang sudah tidak sadarkan diri, Pingping melompat turun, berlari kecil kembali ke pasukan.
Para pasukan naga berhasil ditekan, pasukan bayangan bukanlah pasukan sembarangan, Vivian sendiri sudah dipenuhi luka - luka akibat pertarungan dengan Oto, “bagaimana kilat merah, sudah kehabisan akal?” ejek Oto, Oto kini kembali bersiap dengan cambuknya dan akan menyerang saat Vivian lengah.
Kin masih bertarung dengan Kara, beberapa luka - luka sudah memenuhi tubuh mereka, “pertarungan ini tidak akan ada habisnya” ejek Kara, “ya kita lihat saja” Kin kembali menyerang. Kini Vivian sudah kehabisan akal “siapapun, hancurkan kereta kuda itu!” teriak Vivian, Oto melihat celah dan langsung menyerang, cambuk itu tepat menebas tubuh Vivian, Vivian pun terjatuh.
Mendengar perintah Vivian, Pingping pun segera mengeluarkan pemantik dan membakar anak panahnya, menembakan busur panahnya dari dalam hutan, anak panah itu melesat menancap tepat ke kereta kuda, api pun mulai menjalar membakar kereta kuda termasuk dinamit didalamnya, seketika ledakan besar terjadi.
Jembatan Merah, Kang kewalahan melawan Shee, tubuhnya sudah dipenuhi luka - luka. Kang masih berusaha untuk melawan, hingga pada satu titik Shee berhasil menusuk bahu kirinya, Kang pun beteriak kesakitan, “bagaimana jendral? sebenarnya aku tidak berniat untuk menangkapmu” Shee menendang Kang hingga terjatuh dari jembatan.
Tang terkejut melihat itu “jendral!”, Valir melihat celah dan langsung naik ke atas kuda melarikan diri darisana, “sial!” Tang mulai memikirkan langkah selanjutnya, pasukannya pun sudah mulai tertekan oleh pasukan bayangan, Tang melihat kearah kereta kuda, ia memutuskan untuk mendorong kereta kuda itu ke pinggir jembatan, Tang mengerahkan semua tenaganya untuk mendorong. Shee bermaksud menghentikan, tetapi Tang terlanjur menjatuhkan kereta kuda itu dari jembatan beserta dengan dirinya.
Kuil Matahari, Rasa memasukan kembali pedangnya, pasukan naga baru saja dikalahkan olehnya, termasuk Kiba didalamnya. Yinsa sendiri sudah terkapar, tubuhnya babak belur, Enel baru saja menghajarnya habis - habisan “apa hebatnya seorang pemenggal tanpa pedang”, Yinsa masih tergeletak, ia sudah kehabisan tenaga. Kiba bangkit berdiri dan menghampiri Yinsa “senior” Kiba membantu Yinsa berdiri “kita bukan tandingan mereka” – “ya aku tahu” Yinsa masih terengah - engah, ia mulai memikirkan langkah selanjutnya “jika disituasi ini, apa yang akan kau lakukan senior Sai?” gumam Yinsa dalam hati.
“Apa kalian ingin memelas untuk nyawa kalian?” ejek Enel, “Kiba dengarkan aku, aku punya rencana” bisik Yinsa. Kiba terdiam setelah mendengar rencana itu, “baiklah, sekarang!” Yinsa menerjang kearah Enel, “dasar bodoh, mau mati ya?” Enel menghindari terjangan Yinsa, tetapi bukan Enel yang diincar Yinsa, Yinsa menerjang kereta kuda, kereta kuda itu pun terbalik, dinamit mulai berserakan keluar, “dinamit! isinya dinamit! Cepat pergi!” teriak Yinsa, Kiba terdiam sejenak “maafkan aku!” kemudian berlari melarikan diri.
“Dasar merpotkan!” Rasa bermaksud mengejar, tetapi Yinsa melemparkan bubuk asap kearah Rasa untuk menghalangi pandangannya, “kalian tidak akan bisa mengejarnya” Yinsa bangkit berdiri “aku akan melawan kalian”, seketika Rasa mencabut pedang tipisnya dan menebas tubuh Yinsa, darah mengalir keluar, Yinsa masih berusaha untuk berdiri “pasukan naga akan menyelamatkan kekaisaran ini!” ia menyalakan pemantik dan menjatuhkannya, membakar dinamit yang berserakan, seketika ledakan besar terjadi.
Di Laut Awan, gerbang utama dibuka, Valir berkuda memasuki gerbang kemudian terjatuh dari kudanya, ia kehabisan darah, “cepat bawa ke ruang pengobatan!” para pasukan mulai mengangkat tubuh Valir.
Di dalam istana, Kulu menghantam mejanya “apa katamu?!”, Shee disana tertunduk takut, ia baru saja melaporkan kegagalan pengiriman, Kulu menarik nafas panjang dan menghantam mejanya sekali lagi hingga hancur “dasar tidak berguna!” kemudian ia memakai jubahnya “aku akan menanganinya sendiri” ia beranjak pergi diikuti Shee.
Matahari sudah sampai di puncak, di gunung emas, Vivian dan pasukannya baru saja kembali, hanya empat orang yang selamat, termasuk Kin dan Pingping. “Obati luka-luka kalian” perintah Vivian, para pasukan mengangguk dan membubarkan diri, “jadi siapa yang menolong mu?” sapa Niki kepada Pingping, Pingping tersenyum “aku tidak merepotkan” – “kau tidak menanyakan keadaanku?” canda Kin, Niki dan Pingping tertawa kecil.
Vivian kini sedang memberi laporan kepada para petinggi, Fei meminum tehnya “sepertinya hanya pasukan Tang yang belum kembali” – “dua pengiriman berhasil digagalkan, kita juga sudah tahu isi dari pengiriman itu , sekarang hanya perlu menunggu pasukan Tang” lanjut Su, “bagaimana jika mereka gagal dan terpojok, kita harus memikirkan kemungkinan terburuk” potong Wen.
Vivian memberi hormat “mohon izin ketua! Biar saya pergi mencari pasukan Tang” – “tidak! Kau baru saja kembali, sebaiknya kau segera obati luka-lukamu” Fei menekan nada bicaranya, “maafkan saya ketua” Vivian memberi hormat kemudian beranjak pergi. “Biar saya yang mencari pasukan Tang” Sai memberi usul, “apa tubuhmu sudah pulih sepenuhnya?” tanya Su, “saya hanya tidak bisa melihat ada pasukan yang gugur lagi” jawab Sai, “aku akan menemani” timpal Wen “jendral Kang ada bersama mereka, aku tidak bisa membiarkan jendral terakhir juga mati”, Fei mengangguk “baiklah kalau begitu, kuserahkan padamu Sai”, Sai mengangguk.
Di hulu sungai, Tang mulai sadarkan diri, ia terdampar disana, tubuhnya luka-luka akibat jatuh dari jembatan, kereta kuda yang didorongnya sudah tenggelam ke dasar sungai. Tidak jauh darisana, Kang juga terdampar di Hulu sungai, luka tusukan dipundaknya semakin besar, darah mengalir keluar dengan deras “ada orang disana?!” teriak Kang sembari memegangi lukanya “sial!” gerutu Kang sembari menahan sakit.
Di gunung emas, Niki sedang beristirahat, Sai datang menghampiri “apa tubuhmu sudah pulih?” tanya Sai, “sepertinya begitu” jawab Niki, “kalau begitu kau ikut denganku, bersiaplah” lanjut Sai, Niki mengangguk. Sai mengumpulkan pasukan untuk ikut dalam perjalanan, kini ia sedang mempersiapkan peralatan, “senior” Kiba menghampiri, “ada apa?” tanya Sai, Kiba memberi hormat “senior Yinsa mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanku, izinkan aku ikut dalam perjalanan, jika berdiam diri disini aku akan merasa semakin bersalah”, Sai tersenyum “aku memang ingin mengajakmu, bersiaplah”, Kiba tersenyum mendengar itu.
Kini Sai sudah bersiap dengan kudanya, ia membawa tujuh orang pasukan, termasuk Niki, Kiba, dan juga Wen didalamnya. “Baiklah semua dengarkan aku” Sai mengeluarkan sebuah gulungan “kita akan mencari pasukan yang hilang, lokasi terakhir mereka adalah Jembatan Merah, kita akan kesana terlebih dahulu, kita akan berkuda sesuai formasi, aku dan Kiba akan didepan, lalu penasehat Wen, Niki kau kutugaskan menjaga penasehat, sisanya menjaga bagian belakang” Sai menjelaskan, semua pasukan mengangguk, “baiklah kalau begitu, kita berangkat” Sai naik keatas kudanya diikuti para pasukan, kini mereka berkuda menuju Jembatan Merah.