
Bab 7.
Niki baru saja mengambil perlengkapan, ia sudah memakai pakaian resmi pasukan macan kumbang, dan tentu saja ikat kepala merah dikepala sebagai identitas. Niki dalam perjalanan ke ruang pasukan macan kumbang untuk melapor, didalam perjalanan ia berpapasan dengan Kin, “ternyata kau lolos juga ya” sapa Kin, “bagaimana denganmu?” tanya Niki, “aku dimasukan kedalam pasukan penyergap dan sepertinya dari kelompok hanya kita berdua yang lolos” Kin tersenyum “aku pergi dulu ya” Kin berjalan pergi, Niki pun melanjutkan perjalanannya.
Niki kini memasuki ruang pasukan macan kumbang, berjalan menghampiri Wu yang sedang bersantai diujung ruangan. “Saya Niki datang untuk melapor” Niki memberi hormat, “ternyata kau pemuda yang dibicarakan Sai, selamat datang, sudah siap untuk tugas pertamamu?” sambut Wu. Niki masuk kedalam ruangan, didalam sana Yinsa, Han, serta dua orang pasukan bernama Cao dan Kiba sedang bersiap.
“Jadi kau yang bernama Niki ya?” sambut Yinsa, Niki mengangguk, “perkenalkan aku Yinsa, aku yang akan memimpin tugas kali ini”. Pasukan macan kumbang sudah bersiap dan menaiki kuda mereka “dengarkan aku baik - baik, kita akan menyusul senior Sai di kota, aku dan Han akan memimpin perjalanan, Kiba kau berkuda paling belakang, dan Cao bersama Niki” Yinsa memberi instruksi, “baik!” jawab pasukan macan kumbang.
Di salah satu kota, di rumah bunga, Sai bertemu dengan Fei, hanya ada mereka berdua diruangan itu, duduk santai ditemani teh hangat. Fei memberikan sebuah gulungan “ini data - data tentang Kara dan Hibi, dari yang kudengar Hibi sudah dibunuh si kembar Taka - Taki, sedangkan Kara, semalam ia terlihat dikota ini”, Sai membaca isi gulungan “tuan Fei memang mempunyai telinga dimana - mana” – “Sai, apa benar keturunan bangau emas masuk kedalam pasukanmu?” tanya Fei, “dia ikut dalam tugas kali ini, seharusnya tidak lama lagi dia sampai” jawab Sai, Fei tersenyum “sudah lima belas tahun ya, aku jadi merindukan empat pendekar gerbang” Fei meminum tehnya. Pintu ruangan diketuk, seorang gadis masuk kedalam “permisi, tamu tuan sudah sampai”, Sai memasukan gulungan dan meminum tehnya “saya pergi dulu” Sai beranjak pergi.
Sai keluar dari rumah bunga, “senior” pasukan macan kumbang memberi hormat, “selamat datang Niki” sapa Sai. Pasukan macan kumbang kini berada disebuah gang, Sai mengeluarkan gulungan “target yang kita incar bernama Kara, dijuluki tanpa bayangan, dia mampu bergerak dengan cepat, menurut info ia berada dikota ini, kita akan berpencar dan mencari, jika melihatnya berikan sinyal, jangan ada pertarungan sampai aku datang, Niki bergerak bersamaku, kalian mengerti?” – “ya senior!” jawab pasukan macan kumbang.
Pasukan sudah menyebar, Sai dan Niki sedang mengitari kota, “senior, boleh aku bertanya, mengapa kita mencari Kara?” tanya Niki, Sai tersenyum “kau tau kan pasukan hanya menjalankan perintah tanpa mengetahui alasannya” – “aku hanya penasaran” – “baiklah akan ku beritahu, Kara menangkap salah satu orang kaya yang menjadi donatur untuk Tebing Langit, kita berhutang budi untuk mencarinya” Sai menjelaskan, “jadi ini hanya masalah perampok yang menginginkan tebusan?” tanya Niki lagi, Sai tersenyum “ku harap begitu”.
Cao tergeletak tak bernyawa, darah mengalir dari sayatan dilehernya, Kara memasukan kembali ceruritnya “ternyata sudah mengirim pasukan ya”. Matahari sudah terbenam, Han masih berkeliling untuk mencari, Kara tiba - tiba muncul dibelakang Han. Han bisa merasakan kehadiran Kara, ia langsung membalikan badan dan menembakan anak panahnya, tetapi Kara sudah tidak ada disana, Han terlihat panik, ia berusaha menyalakan petasan sebagai sinyal. Baru petasan diledakan, Kara muncul dibelakang Han dan menebas tubuh Han, Han langsung tergeletak.
Kara merasakan kehadiran seseorang, ia menengokkan wajahnya, Yinsa disana bersiap menebas dengan pedang besarnya, Karna berhasil menghindar. “Kita bertemu lagi ya” sapa Kara, “ternyata kau yang menyerang pengiriman obat ya, perampok seperti mu harus dihabisi!” Yinsa kembali menyerang, pertarungan terjadi, Yinsa dan Kara memiliki kemampuan yang setara. Yinsa dan Kara masih bertarung, tiba - tiba Sai muncul ditengah pertarungan, menebas tubuh Kara dengan pedang hitam, kemudian menendangnya hingga terpental.
“Kau tolong Han!” perintah Sai, Yinsa mengangguk dan membopong Han pergi, “mengganggu kesengan saja, anak iblis” Kara bangkit berdiri “aku tahu siapa dirimu, aku tidak akan menang melawanmu, sebaiknya aku pergi” baru Kara ingin beranjak, tiba - tiba Niki datang dan menendang wajah Kara hingga terjatuh, Sai terkejut melihat ketepatan waktu Niki untuk menyerang. Kiba langsung melemparkan jaring menangkap Kara “penangkapan berhasil!” Kiba tertawa.
Pasukan macan kumbang datang kesebuah rumah tua diujung kota, Kara dibawa bersama mereka, tangannya diikat dan dijaga oleh Kiba, ia dipaksa untuk memberitahu keberadaan Gema. Sai membuka pintu rumah, terlihat Gema yang diikat diujung ruangan, “bawa mereka ke Tebing Langit” perintah Sai.
Pasukan macan kumbang telah kembali ke Tebing Langit, “selamat datang tuan Gema, apa ada yang terluka” sambut hangat Wan lalu membawa Gema untuk berbincang di ruangannya. “Kiba, tolong kau bawa Kara ke ruang tahanan, sedangkan Yinsa bawa Han ke ruang pengobatan” perintah Sai, “baik senior!” mereka semua bergerak menjalankan tugas mereka masing - masing, “hey Niki, kau bisa pergi istirahat, aku akan pergi melapor” lanjut Sai, Niki mengangguk dan berjalan pergi.
Sai melaporkan tugasnya kepada Wu, “bisa melakukan penangkapan dalam waktu semalam ya, kerja bagus” puji Wu, “ya begitulah, tetapi kita harus kehilangan satu anggota” Sai terunduk. Di ruang pengobatan, luka Han sedang diobati oleh Chu, Yinsa disana menemani, “Kita harus kehilangan anggota lagi ya” Han terlihat murung, “sudahlah, tidak perlu dipikirkan, pasukan yang gugur dalam tugas adalah hal terhormat” Yinsa berusaha menghibur.
Malam semakin larut, Kong menikmati malam dari loteng benteng, Gema datang menghampiri. “Akhirnya aku bisa bertemu denganmu” sapa Gema, Kong tersenyum “ternyata ini wujud yang kau pilih, hebat juga operasi Sada”. Shibaku menyamar menjadi Gema dengan operasi ganti kulit yang dilakukan oleh Sada. “Lalu bagaimana dengan Kara, dibunuh saja agar tidak ada kebocoran informasi?” tanya Kong, “jangan, Kara terlalu berharga, masalah itu sudah di urus” jawab Gema, Kong mengangguk.
Dibagian lain benteng, Oto sudah berhasil menyusup kedalam, menyalahkan api dan membakar jerami kandang kuda. Seketika api menjadi besar, kepanikan terjadi didalam benteng. Mendekar kepanikan diluar Kara tersenyum, ia mulai melepaskan ikatannya satu persatu, dan berlari pergi dalam kerumunan. Saat itu Niki keluar dari kamarnya, naik ke atas tembok benteng untuk melihat apa yang terjadi, ia melihat Kara dan Oto yang berlari keluar benteng, ia langsung melompat turun dan berinisiatif untuk mengejar mereka.
Kara dan Oto sudah berlari cukup jauh, “ada yang mengikuti!” Oto melempar pisau kebelakang, Niki menangkis dengan kerambitnya, “ternyata kau lagi ya, Oto kau pergi duluan saja, aku ada urusan dengan dia” Kara mencabut ceruritnya, “selesaikan dengan cepat” Oto berlari pergi. Niki sudah terengah-engah, nafasnya habis saat mengejar, pendekar berbakat seperti Niki juga memiliki kelemahan.
Kara tersenyum, tiba-tiba ia sudah berada dibelakang Niki dan siap menebas, Niki berhasil menghindarinya dan mendaratkan tendangan ke tubuh Kara. “Kita lihat berapa lama kau bisa bertahan” Kara tersenyum dan mulai menyerang Niki, pertarungan terjadi. Kara menyerang dengan cepat tetapi Niki dapat mengimbanginya.
Niki semakin terengah-engah, Kara tersenyum melihat itu “sekarang kau tidak bisa menghindar” Kara kembali menyerang, Niki sudah kehabisan nafas, serangan kali ini pasti mengenainya. Sai tiba-tiba muncul dihadapan Niki dan menahan serangan Kara dengan pedang hitamnya, “penganggu!” Kara menyerang Sai, semua serangannya berhasil dihindari dengan mudah. “Ternyata memang beda kemampuan ya” Kara melemparkan bubuk asap, lalu pergi menghilang. Sai melihat Niki yang masih terengah-engah “kau tidak apa-apa?”.
Sai dan Niki datang ke ruangan pasukan macan kumbang, didalam sana sudah ada Wu dan Yinsa. “Apa yang kau pikirkan, melakukan pengejaran sia - sia!” Wu memarahi Niki, “Oto, dia yang membakar kandang kuda dan membuat pengalihan agar tahanan bisa kabur” jawab Niki, Wu terkejut mendengar nama Oto, ia seperti pernah mendengar nama itu.
“Ketua mohon izin bicara, perampok obat dan penculik Gema bisa dipastikan adalah orang yang sama, saat merampok obat mereka berjumlah tiga orang, satu orang dikalahkan senior Sai, dan satu orang lagi dibunuh Taka - Taki, hanya tersisa satu orang, bukankah lebih baik kita melakukan pengejaran sekarang juga?” usul Yinsa.
Wu berpikir sejenak “jangan, terlalu berbahaya jika sudah sampai melibatkan Oto, dia bagaikan hantu, belum pernah ada yang berhadapan secara langsung dengannya”. Wu tampak gentar, baru saja Sada kembali ke Tebing Langit, dan sekarang Oto menampakan diri, “ketua jadi bagaimana?” Sai membuyarkan lamunan Wu.
Wu menghela nafas panjang “Yinsa, kau bawa pasukan penyergap dan segera kejar mereka ke kota terdekat” – “baik ketua!” Yinsa memberi hormat dan beranjak pergi, “sedangkan kau Sai, cari tahu lebih dalam tentang racun timur, minta bantuan pada ketua Fei” perintah Wu, Sai mengangguk dan beranjak pergi. Wu merasa jika situasinya semakin gawat