
Bab 34.
Matahari sudah sampai di puncak, Para aliansi berkumpul di kastil terbengkalai, mereka sudah menunggu cukup lama, tetapi tidak ada tanda - tanda dari Kulu. “Dimana dia? Aku sudah bosan menunggu” gerutu Kong, “kau selalu tidak sabaran ya” celetuk Jee, “kau tidak perlu selalu menyebalkan begitu, apa kau ingin bertarung denganku?!” Kong tampak kesal, Jee tertawa kecil “sudah ku bilang kau ini sangat primitif” – “cukup bicaranya! jika ingin bertarung kalian akan kulayani, aku juga butuh meregangkan badan” potong Enel. Xu bangkit berdiri “sepertinya Kulu tidak akan datang” – “kau tahu darimana?” tanya Kong, Xu menghela nafas “sepertinya negosiasi tidak berjalan lancar”.
Lembah Kabut, pasar malam sudah sepi. Kulu masih terbaring di pondok Zazu, Ann memberikan segelas ramuan kepada Kulu, Kulu meminumnya hingga habis, “ramuan itu akan menghilangkan luka jurus tapak es” kata Shee yang berdiri di ujung ruangan, “apa Zazu yang memberikan ini?” tanya Kulu, “kita membelinya” jawab Shee, “cih!” gerutu Kulu. “Jika sudah pulih tuan Zazu meminta kalian segera pergi” kata Ann sembari beranjak pergi, “memangnya siapa yang mau berlama - lama disini” gerutu Kulu lagi, Shee terdiam sejenak “sepertinya kita sudah tidak mempunyai muka karna mendapat bantuan dari Zazu”, Kulu tertawa kecil “jangan bercanda! jika bukan karnanya pasti Kang sudah kubunuh!” Kulu mengepalkan tangannya.
Ann baru saja keluar dari pondok Zazu, “setelah yang kau lakukan semalam, mengapa masih berada disini?” Vin sedang duduk diatas pohon, Ann terkejut melihat Vin, Vin melompat turun “jika ada bandit yang melapor pada Zazu , kau tidak akan aman disini, tidak ada yang bisa menghentikan tuan Zazu” – “kau tidak perlu menghiraukan aku” Ann beranjak pergi tanpa mempedulikan Vin.
Sai dan pasukannya kini sedang beristirahat di pinggir sungai. “Wah segar sekali” kata Kiba sembari meminum air sungai, “senior” Yeo menghampiri, Kiba terkejut, “maafkan saya!” Yeo memberi hormat, para pasukan memperhatikan itu, Kiba tersenyum “tidak apa, kau hanya sedang takut”. Setelah beristirahat Sai dan pasukannya kembali bersiap, Sai dan Wen sedang melihat peta kekaisaran untuk menentukan rute perjalanan, tiba - tiba darah menetes dari hidung Wen, Wen segera menghapus darahnya dan meminum sebotol obat, Sai memperhatikan itu, “jangan bicarakan hal ini” kata Wen, Sai hanya diam.
Matahari sudah hampir tenggelam, disalah satu kota, Enel baru saja kembali ke rumah bunga. “Bagaimana pertemuannya?” sambut Rasa, setengah tubuhnya dibalut perban, ia terkena luka bakar akibat ledakan. “Aku membawakan kau buah - buahan” Enel menaruh keranjang buah diatas meja, “tidak perlu, kau pikir karna luka seperti ini aku menjadi orang cacat” Rasa bangkit berdiri, keluar ke loteng dan menghirup nafas dalam - dalam “aku tidak akan mati sebelum bertarung dengan bangau merah”.
Di Tebing Langit, Shibaku sedang menikmati segelas teh di loteng benteng ditemani Liang. “Apa tidak apa - apa kita tidak datang ke pertemuan?” tanya Liang, “serahkan saja pada Kong, aku tidak memiliki waktu untuk mengurus hal sepele semacam itu” Shibaku meminum tehnya. Gerbang utama benteng dibuka, kereta kuda Kong memasuki benteng, “dia sudah kembali” Shibaku kembali meminum tehnya, “lalu bagaimana dengan Taka? Sudah cukup lama ia tidak kembali, apa Kuijin menjadikannya persembahan?” Liang ikut meminum tehnya, Shibaku tertawa kecil “penyihir sialan itu memang tidak bisa ditebak”.
Hutan malam, dihalaman pondok, Kuijin sedang memberi makan burang - burung gagak, tiba - tiba terdengar terikan, Kuijin tersenyum. Taka bangkit dari kubur, tubuhnya diikat rantai, nafasnya terengah - engah, tubuhnya gemetar dibanjiri keringat, ia baru saja kembali dari kematian. “Kau berhasil melewati ujian gerbang neraka” Kuijin menghampiri Taka, Taka masih mengatur nafas “lepaskan rantai ini”, Kuijin tersenyum “rantai itu adalah rantai api, kau baru saja melewati kematian bersamanya, kini kau adalah tuan dari rantai itu”, Taka menghirup nafas dalam - dalam “lepas!” seketika rantai itu melepaskan ikatannya, Taka terkejut melihat itu.
Matahari mulai terbit, Taka berkuda memasuki Tebing Langit, kali ini tatapannya menjadi dingin, tatapan pembunuh terpancar dari mata kanannya. “Kau sudah kembali” sambut Shibaku dari loteng benteng, Taka langsung turun dari kudanya dan memberi hormat, Shibaku tersenyum “masuklah”. Pintu ruangan Shibaku dibuka, Taka masuk kedalam memberi hormat “sesuai janji, saya akan melayani tuan”, Shibaku tersenyum “aku menyukai orang yang menepati janji, ikut denganku” Shibaku beranjak pergi diikuti Taka.
Kini mereka memasuki ruang senjata Tebing Langit, “untuk apa membawaku kesini? Aku sudah mempunyai senjata” tanya Taka, “lihat saja” Shibaku menuju ke ujung ruangan, ia mendorong salah satu batu, sebuah pintu rahasia terbuka, Shibaku masuk kedalam diikuti Taka. Kini mereka memasuki sebuah ruangan yang cukup besar, terdapat beberapa senjata disana, senjata yang berbeda dari senjata biasanya, senjata peninggalan leluhur Tebing Langit.
Taka terdiam sejenak, selama ini ia tidak pernah tahu akan ruangan ini, “buang saja pedang mu dan pilih yang baru, dengan senjata ini ilmu hitam mu akan lebih kuat” kata Shibaku mempersilahkan Taka memilih senjata, Taka melihat - lihat sekitar, pandangannya jatuh kepada sebuah pedang bermata dua dengan lambang naga ditengahnya, ia mengambil senjata itu, Shibaku tersenyum “taring naga, kau memiliki selera yang bagus”, Taka mencoba menebas pedang itu, kemudian ia tersenyum “aku memilih senjata ini”.
Kereta kuda Kulu kini dalam perjalanan kembali ke istana, “apa jendral ingin mengirim pasukan untuk menghancurkan pasar malam?” tanya Shee ditengah perjalanan, “tidak perlu” jawab Kulu sembari melihat keluar jendela, “apa jendral tidak apa? Bukankah jendral seharusnya menunjukan kekuatan yang jendral punya? Jendral baru saja dipermalukan” lanjut Shee, Kulu terdiam sejenak “mungkin nanti, sekarang itu bukan hal yang penting, aku harus tetap pada ambisi awalku, jika tidak selamanya aku hanya menjadi anjing istana”.
Kini kereta kuda Kulu sudah memasuki istana, Kulu dan Shee turun dari kereta kuda “jendral!” hormat para pasukan, “Shee, besok kumpulkan para aliansi, hari ini aku ingin beristirahat” kata Kulu sembari beranjak pergi, Shee mengangguk. Pintu ruangan dibuka, Kulu masuk kedalam kamarnya, “pertemuan tidak berjalan dengan lancar, bukan begitu?” sambut Xu, Kulu terkejut melihat Xu berada didalam kamarnya “apa yang kau lakukan disini?”, Xu tersenyum “kau tidak perlu khwatir, aku baru saja memberikan upeti perdagangan pada Kaisar, lalu kupikir sebaik melihat kondisimu”.
Kulu membuka jubahnya “Zazu tidak berada dipihak kita”, Xu terdiam sejenak “lalu apa rencanamu selanjutnya?” – “besok aku mengadakan pertemuan aliansi, aku akan memberi tahu disana” jawab Kulu sembari menuang segelas teh, “jadi kau belum mengetahuinya ya?” tanya Xu, “apa?” Kulu meminum tehnya, “para aliansi mengundurkan diri” kata Xu yang membuat Kulu terdiam.