NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
48



Bab 48.


 


Niki dan Zezu kini berdiri diatas arena, “apa boleh begini? Mengganggu jalannya ritual?” celetuk para pendeta, Lupu hanya diam memperhatikan, begitu pula dengan Tonraq. “Bukankah Niki tidak bisa bertarung?” celetuk Lung, sedangkan Yuyu hanya duduk diam meremas tangannya khwatir. Zezu kini mengambil sebilah pedang “pendeta Ing, jadikanlah pertarungan ini dengan senjata”, Ing mengangguk “baiklah, hei pengungsi! Pilihlah senjata mu” – “aku tidak perlu” jawab Niki singkat. Zezu mulai memasang kuda - kudanya “jangan salahkan aku jika kupotong lengan mu” – “mulai!” Ing memberi aba - aba untuk bertarung, Zezu langsung maju menyerang, ia bermaksud menebas Niki dengan pedangnya, Niki hanya berdiri dengan santai, ia mengalirkan tenaga dalam ke kaki kanannya, hanya bermaksud untuk mengeluarkan tenaga dalamnya sedikit. Niki pun melayangkan tendangan, tetapi tiba - tiba ingatan tentang api biru yang membakar gubuk terbayang di benaknya, Niki pun terkejut dan tidak bisa mengontrol tenaga dalamnya, tendangan Niki menghantam tubuh Zezu telak dengan kekuatan penuh, Zezu terpental hingga menembus dinding aula, semua orang terkejut melihat itu. Tiba - Tiba Niki jatuh berlutut, jantungnya berdetak dengan sangat kencang, keringat membasahi tubuhnya, ia tidak bisa mengatur nafasnya.


Perayaan ritual dihentikan karena kekacauan itu, aula juga sudah hancur akibat serangan Niki, Zezu sendiri masih terbaring di ruang pengobatan. Di depan ruang pengobatan, “tidak salah lagi, kita harus mengusir pengungsi itu!” kata salah satu pendeta dengan geram, ia adalah Oden, laki - laki berbadan gemuk, guru dari Zezu, “aku rasa dia bertarung dengan adil” potong Tonraq, “adil atau tidak, tetap saja dia mengacaukan ritual” timpal Ing, perdebatan panjang antar pendeta pun terjadi. Kini Niki melarikan diri ke sungai, ia membasuh wajahnya, mencoba menenangkan diri, ia masih sulit untuk bernafas. Ten berjalan menghampiri Niki, menotok punggung Niki, seketika Niki bisa bernafas dengan leluasa, “aliran tenaga dalam mu kacau” kata Ten sembari duduk disamping Niki “cobalah untuk bermeditasi” kemudian menutup matanya dan mulai bermeditasi, Niki pun mengikuti, ia menghirup nafas dalam - dalam dan menutup matanya.


Matahari mulai terbenam, hari itu istana ramai, Khan mengadakan pesta makan - makan merayakan pelantikan Jee, jendral dan para menteri hadir di acara itu. “Selamat ya penasehat” beberapa menteri mengucapkan selamat, Jee memberi hormat “terima kasih - terima kasih”, canda tawa memenuhi istana malam itu. Para pasukan naga sedang berjaga, saat itu Kiba dan Kin berjaga di bagian belakang istana, tidak ada hal yang mencurigakan, sama seperti malam - malam pada biasanya. Kang sedang berdiri sendiri di loteng istana, membawa sebotol arak ditangannya, “ada yang jendral sedang pikirkan?” Fei datang menghampiri, berdiri disamping Kang, Kang tersenyum “aku mulai berpikir untuk mengundurkan diri dari kursi jendral”, Fei sedikit terkejut mendengar itu “apa maksud jendral?”, Kang meminum araknya “ada bagian diriku yang senang kembali ke istana, tetapi juga ada bagian diriku yang tidak ingin menginjakan istana lagi” baru Kang selesai bicara, tiba - tiba sebuah anak panah ditembakan kearahnya, tepat mengenai dada Kang. Kang pun terjatuh dan mulai memuntahkan darah, “ada yang menyerang!” teriak Fei sembari memegangi luka Kang, para pasukan pun langsung berlari menghampiri “cepat bawa jendral ke ruang pengobatan!” perintah Fei, tubuh Kang mulai diangkat dan dibawa pergi darisana. Vivian dan Tang berlari menghampiri jendral “apa yang terjadi?” tanya Vivian, “siapkan pasukan, aku akan mengejar!” Fei melompat turun dari loteng, berlari kearah asal anak panah itu ditembakan. “Sial!” Vivian dan Tang segera beranjak pergi mengumpulkan pasukan naga.


Para pasukan kini berjaga disekitar istana, termasuk pasukan naga. “Sial!” gerutu Vivian, sebentar lagi matahari akan terbit, tetapi tidak ada tanda - tanda dari Fei, ia belum juga kembali. Kini Vivian memutuskan membawa pasukan naga untuk mencari Fei, ia mulai naik keatas kuda “hentikan!” teriak Lei “apa yang kalian lakukan?” – “mencari jendral!” jawab Vivian, “lalu siapa yang mengizinkan?” Roku berjalan keluar dari istana “kalian tetaplah di istana, jendral Lei dan pasukannya yang akan mencari, sebuah pasukan tanpa kepala sama saja dengan mati” – “tapi jendral besar..” belum selesai Vivian bicara, Tang menghentikan, memberi isyarat untuk menuruti perintah Roku, Tang memberi hormat “pasukan naga mengikuti perintah” – “cih!” gerutu Vivian.


Fei kini mulai sadarkan diri, lengan kirinya diikat rantai, ia berada disebuah ruangan bawah tanah, beberapa obor api biru menerangi ruangan itu. Diujung ruangan, Kuijin sedang duduk sembari memegangi pedang milik Fei “tidak kusangka pedang ini jatuh ke tangan mu” Kuijin bangkit berdiri, berjalan menghampiri Fei “apa kau tahu bagaimana mataku bisa buta? Pedang ini yang menebasnya!” Kuijin menebas mata kanan Fei, darah pun mengalir dengan deras, Fei menahan sakit, berusaha untuk tidak berteriak. Kini Kara berjalan menghampiri Fei “jendral Fei” Kara memegang wajah Fei “katakan padaku, dimana keturunan Tagatha?”, Fei terkejut mendengar itu, Kara tertawa kecil “tidak perlu terkejut begitu” Kara menghantam tubuh Fei hingga terjatuh, Fei memuntahkan darah, Kara kembali tertawa “aku menyukai ini” – “kuturunan Tagatha sudah mati” jawab Fei pelan, “sebelumnya aku juga berpikir hal yang sama” Kara menginjak tubuh Fei, Fei kembali memuntahkan darah, “pulangkan dia ke istana, dia terlalu cepat untuk mati disini” perintah Kara, Taka pun menghampiri Fei, menatap mata Fei dengan mata hitamnya, seketika Fei tidak sadarkan diri.