NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
47



Bab 47.


 


Hari yang tenang di kuil selatan, setiap hari Niki membantu Yuyu untuk mengobati orang - orang di pengungsian. Beberapa hari ini banyak sekali pengungsi yang minta diobati karna babak belur, hari itu Yuyu sedang membalut lengan salah seorang pengungsi bernama Lung, laki - laki berbadan gagah. “Apa yang terjadi? Mengapa akhir - akhir ini kau sering babak belur?” tanya Yuyu disela - sela membalut, Lung tertawa kecil “aku sedang mengumpulkan kepingan perak, ada sebuah arena pertarungan di kota, jika menang bisa mendapatkan perak, aku tidak ingin menetap disini terlalu lama” jawab Lung “oiya Niki, bagaimana jika kau ikut bertarung ke kota, jika menang akan mendapatkan perak yang cukup banyak” kata Lung kepada Niki yang sedang menyiapkan obat - obatan, Niki hanya tertawa kecil “aku tidak bisa bertarung” kemudian melanjutkan pekerjaannya. Kini Yuyu telah selesai membalut lengan Lung “terima kasih ya Yuyu, kapan - kapan ikutlah menonton pertarungan ku” kata Lung sembari beranjak pergi, Yuyu hanya tersenyum.


Di ruang latihan kuil, Zin sedang berlatih jurus menggunakan sebilah toya, tubuhnya sudah dipenuhi keringat. “Masih berlatih?” Tonraq datang menghampiri, “pendeta!” Zin memberi hormat, “apa kau sudah siap untuk pertarungan ritual?” tanya Tonraq, Zin tertunduk “aku akan melawan kakak, aku tidak tahu apa bisa menang”, Tonraq tersenyum kemudian menepuk pundak Zin “Zezu memang petarung yang hebat, tapi ditubuh kalian mengalir darah yang sama”, Zin mengangguk “terima kasih pendeta, aku akan melanjutkan latihanku”, Tonraq kembali tersenyum, bagaimana jika aku berlatih bersama mu?”, Zin pun tersenyum kemudian mengangguk.


Zezu tersenyum lebar “hanya segini kemampuan mu anak haram?!” Zezu pun kembali menyerang, bahkan Zin belum sempat bangkit berdiri, Zezu berniat untuk menghantam Zin lebih lagi, ia pun melompat dan melayangkan serangan. Tetapi tiba - tiba sebuah tendangan menghantam tubuh Zezu hingga terpental, Niki yang melakukan itu, semua orang terkejut melihatnya, bahkan para pendeta senior “apa maksud anak itu menganggu ritual?!” geram para pendeta. Niki membantu Zin berdiri “sudah cukup, pertarungan ini sudah selesai” – “apa maksud mu? Kau tidak boleh menganggu ritual!” potong Ing, “dia sudah tidak bisa melawan” Niki membopong Zin keluar dari arena, “sialan! Apa yang kau lakukan pengemis!” Zezu bangkit berdiri, Niki menengokan wajahnya “jika kau masih ingin bertarung, aku akan jadi lawan mu”.