NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
72



Bab 72.


 


Matahari baru saja terbit, di kuil empat mata angin. Rasa sedang melakukan kegiatan sehari - harinya, menyapu halaman kuil, hingga tiba - tiba seseorang berkuda datang, menghentikan Rasa saat melihat siapa yang datang, tak lain adalah Enel. Enel terdiam sejenak saat melihat Rasa, ia turun dari kudanya “kakak?” Enel segera berlari kearah Rasa dan memeluknya “ku kira kau sudah mati kak” Enel memeluk Rasa dengan sangat erat.


Hujan rintik mulai membasahi kuil empat mata angin, kini Rasa duduk berbincang dengan Enel, ditemani seteko teh hangat dan juga beberapa hidangan makan. “Maafkan aku terlambat untuk mencari kakak, aku mengira kakak tak selamat setelah pertempuran waktu itu” Enel membuka pembicaraan, “tidak apa, biksu Guo merawat ku disini” jawab Rasa sembari menyantap makanan, “kak.. aku sudah tahu siapa orang dibalik kematian ayah” kata Enel yang membuat Rasa terdiam, “aku ingin mengajak kakak untuk membalaskan dendam ayah dan juga Sabo” lanjut Enel.


Rasa masih terdiam, meminum teh hangatnya “maafkan aku Enel, aku berhutang budi pada kuil ini, aku akan menetap dan menjadi biksu disini, lagi pula tubuhku sudah hancur, aku tidak bisa bertarung lagi, kuserahkan balas dendam ayah padamu” Rasa bangkit berdiri “setelah kau makan, kau bisa melanjutkan perjalanan mu” Rasa beranjak pergi meninggalkan Enel dengan wajah bingung. Dari balik ruangan Guo mendengarkan itu semua, Rasa berjalan melewatinya, “aku tidak pernah tahu jika kau ingin menjadi biksu, ku kira kau sudah membereskan barang-barang mu” celetuk Guo, Rasa hanya diam tak menjawab.


Hujan mengguyur semakin deras, para pasukan istana sedang bersiap dengan kuda mereka. Lei sedang mempersiapkan pasukan elang perak, “jendral” Sun datang menghampiri “apa pasukan mu sudah siap?” tanya Sun, Lei mengangguk “jendral tidak perlu khwatir, pencarian ini serahkan saja pada pasukan elang perak”, Sun mengangguk “ku serahkan pada jendral, jika ada informasi baru, akan ku kirimkan burung pengantar pesan”. Lei naik ke atas kuda, berkuda memimpin pasukan elang perak meninggalkan istana. Di sisi lain istana, di sebuah kandang, Harl baru saja bertarung dengan tiga ekor harimau dengan tangan kosong, lengannya dipehuni darah, sedangkan ketiga ekor harimau itu tergeletak tak bernyawa.


 


“Apa pangeran sudah puas?” Cilion datang menghampiri, “mungkin ini bisa mengurangi nafsu membunuhku” Harl menjilat darah di lengannya “ada informasi apa?” – “pasukan elang perak sedang mencari sebuah kota bawah tanah” jawab Cilion, “kota bawah tanah? Menarik, pantas saja Bulan Sabit tidak pernah terkalahkan saat perang” Harl mengambil sebuah handuk basah, membasuh lengannya “lalu bagaimana dengan paman? Apa dia mengirimkan pesan lagi?”.


Cilion memberikan secarik kertas “pesan ini baru sampai tadi pagi”, Harl membaca isi pesan itu “jadi begitu ya, kesehatan paman sudah semakin menurun” Harl meremas pesan itu “aku sudah tidak sabar menduduki kursi Kaisar”, Cilion terdiam sejenak “pangeran, sebenarnya ada satu pesan lagi” – “apa?” tanya Harl, “Kaisar ingin bertemu dengan anda, ia meminta untuk menarik mundur armada kapal kembali ke Cahaya Fajar” jawab Cilion yang membuat Harl murka “bajingan!” Harl menendang salah satu mayat harimau “menyuruhku kemari, lalu menyuruhku pulang, tua bangka itu mempermainkanku!” Harl mengambil pedangnya kemudian menusuk-nusukannya ke mayat harimau.


Hujan mulai redah, matahari mulai terlihat, pasukan elang perak mulai menyebar keseluruh wilayah Bulan Sabit. Lei berkuda diikuti Silvana dan selusin pasukan, “jendral, kemana kita akan mencari?” tanya Silvana sembari masih berkuda, Lei berpikir sejenak “jika salah satu pintu masuk ada di Tebing Langit, sebaiknya kita memeriksa benteng yang lain” – “maksud jendral Laut Awan?” tanya Silvana lagi, Lei mengangguk. Sementara itu di istana, para jendral berkumpul di ruang arsip, berusaha mencari informasi melalui gulungan-gulungan pendahulu.


“Sudah puluhan gulungan yang kubaca, tidak ada satupun yang menyebutkan tentang pintu masuk kota Purnama” gerutu Kang, Sun menghela nafas “sepertinya para pendahulu membuang semua informasi mengenai pintu masuk kota Purnama, seakan mereka tidak ingin kota itu ditemukan”, Kumo mulai menyalakan cerutu “sampai kapan kita harus terus mencari?” – “jangan banyak menggerutu, kelangsungan kekaisaran ini ditentukan darisini, jangan sampai musuh beberapa langkah didepan kita” celetuk Fei sembari tetap membaca gulungan, para jendral pun terdiam dan kembali melanjutkan pencarian.


Di loteng istana, Khan dan Harl sedang menikmati teh hangat ditemani beberapa pelayan memijat bahu mereka. “Jadi pangeran sudah harus kembali ke Cahaya Fajar?” Khan membuka pembicaraan, “tidak akan lama, Kaisar Rades ingin bertemu denganku, tetapi Kaisar tidak perlu khwatir, Cilion dan pasukannya akan menetap disini, kita sudah membentuk aliansi, saya tidak akan menarik pasukan begitu saja” jawab Harl sembari meminum tehnya, “apa itu tidak masalah pangeran? Perjalanan kembali ke Cahaya Fajar bisa sangat berbahaya, bagaimana sebagai itikad baik, biarkan penasehat Jee menemani perjalanan anda” Khan meminum tehnya, Harl memberi hormat “terima kasih banyak Kaisar” – “bukan masalah besar” Khan membalas hormat.


Matahari mulai terbenam, Harl mengadakan pesta di tendanya, entah sudah berapa botol arak dihabisinya, beberapa pelayan tanpa sehelai pakaian menari-nari dihadapan Harl, Harl sedang menikmati malam terakhirnya di daratan. Di luar tenda, Cilion sedang mengasah sepasang belatinya, sembari berbincang bersama Garo dan juga Zizi. “Ku titipkan pangeran padamu” kata Cilion kepada Garo sembari masih mengasah belatinya, Garo hanya mengangguk, “satu lagi, pastikan pangeran tidak melakukan hal gegabah, dia sangat berpikiran pendek, bisa-bisa dia membunuh Kaisar Rades” gerutu Cilion sembari meminum sebotol arak.


Tidak beberapa lama Jee datang menghampiri, diikuti Lou di belakangnya, “selamat malam” sapa Jee, “penasehat, ada apa kemari?” sambut Cilion, “apa pangeran belum mengatakannya? Aku akan menemani pangeran ke Cahaya Fajar, sebagai itikad baik Bulan Sabit” jawab Jee yang membuat Cilion terdiam sejenak “maaf merepotkan penasehat” Cilion memberi hormat.


Matahari kembali terbit, armada kapal Cahaya Fajar sudah disiapkan, Harl sedang berpamitan dengan Khan. “Sampaikan salamku pada Kaisar Rades” kata Khan, Harl memberi hormat “akan saya sampaikan” kemudian beranjak menaiki kapal diikuti para pasukan. Armada kapal Cahaya Fajar mulai meninggalkan dermaga istana, para pasukan Cahaya Fajar yang menetap di istana pun melepas kepergian mereka.


Kini Harl memasuki kamarnya “harus bersikap baik membuatku lelah” Harl merebahkan diri di tempat tidurnya, tidak beberapa lama Sofia masuk kedalam kamar “sepertinya pangeran kelelahan” Sofia mulai membuka pakaiannya “apa pangeran masih ingat janji pangeran?” Sofia mulai membuka pakaian Harl, Harl tersenyum lebar “tentu saja, akan kuberikan keturunanku” Harl menarik Sofia berbaring bersamanya. Di atas dek kapal, Jee sedang bersantai sembari menghisap cerutu, “ada apa penasehat?” Lou datang menghampiri, Jee terdiam sejenak “tidak apa, aku hanya merindukan rumah”, Lou tertawa kecil “kita baru saja berangkat penasehat”.