
Bab 15.
Hari ketiga musim dingin, disalah satu kota, Kil dan pasukannya sedang mengumpulkan tabib-tabib di kota itu. “Maaf mengganggu di musim dingin seperti ini, tetapi ada yang hal yang sangat penting” kata Kil sembari memandu para tabib untuk masuk kedalam kereta kuda.
Tidak jauh darisana, disebuah kastil megah di pinggir danau, kastil keluarga kerajaan Wong. Caka sedang bersantai di loteng kastil sembari ditemani segelas teh, seekor burung pengantar pesan datang, Caka membaca pesan itu.
Disebuah kamar, seorang laki-laki sedang bermesraan dengan beberapa gadis “ah tuan sangat nakal”, ia bernama Sabo, dijuluki macan tutul, anak ketiga Caka.
Dihalaman latihan, seorang laki-laki berbadan besar sedang bertarung dengan lima orang pasukan, dengan sekali hantam kelima pasukan itu langsung terkapar, ia bernama Enel, dijuluki beruang kutub, anak kedua Caka.
Tidak jauh darisana, seorang laki-laki berambut panjang sedang sarapan sembari memperhatikan Enel bertarung, ia bernama Rasa, dijuluki sayap elang, anak pertama Caka.
“Musim dingin begini kalian tetap berlatih ya” Caka menghampiri, duduk disamping Rasa, “Enel hanya bermain-main dengan para pasukan, tidak bisa dibilang berlatih” jawab Rasa. Caka mengeluarkan sebuah gulungan “ada tugas untukmu, bawa adik-adikmu dan jangan kacaukan tugas ini”, Rasa mengambil gulungan itu “aku mengerti”.
Kil dan pasukannya sudah berpindah dari satu kota ke kota lainnya, sudah cukup banyak tabib yang dibawa oleh mereka. Kini mereka dalam perjalanan menuju kota lain, ditengah perjalanan Rasa yang sudah memakai topeng berdiri menghadang jalan. “Hei siapa kau?! Cepat minggir!” teriak salah satu pasukan, Kil pun keluar dari kereta kuda “ada apa?” – “maaf jendral, ada yang mencegat jalan” lapor pasukan.
Kil pun turun dari kereta kuda dan berjalan menghampiri Rasa “aku adalah jendral, kami sedang dalam tugas Kaisar, sebaiknya kalian menyingkir atau akan menerima akibatnya” – “tugas Kaisar? bukankah Kaisar sedang terbaring tidak berdaya?” jawab Rasa yang membuat Kil terkejut, Kil langsung mencabut pedangnya “akan ku lihat wajah dibalik topeng itu!” Kil maju menyerang, serangan Kil dihindari oleh Rasa, Rasa melompat keatas pohon.
Didalam semak - semak, Enel sudah bersiap, ia memasang tameng emasnya dan berlari menabrak kereta kuda para tabib, kereta kuda itu pun terpental dan hancur menghantam pohon, para tabib terluka. Para pasukan langsung bersiap untuk menyerang Enel, tetapi tiba - tiba Sabo melompat keluar dan menebas para pasukan itu dengan golok bermata duanya, seketika tumpukan salju berubah menjadi merah, kini hanya tersisa Kil seorang.
“Ternyata kalian sudah merencanakan ini ya” Kil tampak geram, “untuk apa kau memikirkan rencana kami, sebaiknya kau pikirkan nyawamu yang terancam” Rasa mencabut pedang tipisnya dan maju menyerang, pertarungan pun terjadi, Kil bukanlah orang sembarangan, tetapi Rasa memiliki kemampuan untuk mengalahkan Kil. Sebuah tusukan tepat menembus tubuh Kil “hanya segini kemampuan seorang jendral? Memalukan”, Kil memuntahkan darah dan jatuh tergeletak tidak bernyawa.
Didalam gua gunung tiga jari, Niki sedang bertapa diawasi oleh Bao. “Didalam tubuh setiap orang tertidur sebuah tenaga dalam, kau harus membangkitkan itu dan mengalirkannya” Bao menjelaskan kepada Niki yang masih mencoba membangkitkan tenaga dalamnya, Bao tahu didalam tubuh Niki tertidur tenaga dalam yang besar, tenaga dalam warisan ayahnya, Tagatha.
Hari ketujuh musim dingin, salju semakin tebal. Di penjara batu, para pasukan penjaga sudah terkapar tidak berdaya, Liang berdiri disana, ialah yang mengalahkan semua penjaga itu, “sudah lama aku ingin melakukan ini” Liang tertawa. Shibaku berjalan masuk kedalam penjara “lama sekali, aku hampir membeku diluar”, seketika para tahanan langsung bersujud memberi hormat “kami siap melayani tuan”, Shibaku tertawa.
Tidak jauh darisana disebuah kota, Rasa dan kedua adiknya telah menduduki kota, para penjahat berkeliaran bebas, tidak ada pasukan yang akan menghentikan mereka, kini semua pasukan diperintahkan untuk menjaga istana. Enel sedang minum-minum dengan para pasukannya sambil berjudi, Sabo sibuk menangkapi gadis cantik kota untuk menemaninya, sedangkan Rasa sedang berada disebuah rumah yang penuh dengan emas, ia menjarah emas diseluruh kota dan mengumpulkannya disana.
“Tuan ini yang terakhir” kata seorang pasukan sembari menumpuk peti emas itu, “ambil dua peti dan bagikan kepada yang lain” perintah Rasa, pasukan itu pun tampak antusias mengambil peti emas dan membawanya pergi. Kini hanya tersisa Rasa seorang dan tumpukan emas itu, Rasa menyalahkan sepuntung api, melemparkannya ketumpukan emas, dalam sekejap api membesar dan membakar tumpukan emas, Rasa tersenyum “emas hanya akan membutakan manusia, aku tidak membutuhkan semua ini”.
Sebuah kereta kuda memasuki kota itu, kereta kuda milik Caka. Caka turun dari kereta kuda , memperhatikan keadaan kota yang sudah hancur, “panggil anak - anak ku!” perintah Caka kepada pasukannya.
“Kumohon jangan tuan, ampuni aku!” seorang gadis menangis dan meronta - ronta, Sabo sedang merobek - robek pakaian gadis itu, tiba - tiba pintu kamar dibuka “hey Sabo, ayah sudah datang” Enel membawakan kabar, “menganggu saja!” gerutu Sabo sembari meninggalkan gadis itu.
Rasa masih berada didalam rumah, memperhatikan kobaran api yang perlahan memadam. Caka dan kedua anaknya masuk kedalam rumah, “wah kakak habis membakar emas lagi ya” celetuk Sabo, “bagian kalian sudah diangkut ke kereta kuda” jawab Rasa, “sudah waktunya kalian pergi ke kota berikutnya, tetap ikuti jadwal, saat musim dingin berakhir semua kota sudah kita duduki” kata Caka, “baik ayah!” Enel dan Sabo memberi hormat, “dan Rasa sebaiknya kau tidak lupa untuk hadir kepertemuan berikutnya” lanjut Caka sembari berjalan pergi, Rasa hanya diam tidak menjawab.
Didalam gua gunung tiga jari, Niki kini tengah berendam dikolam air hangat, tubuhnya menggigil kedinginan, luka anak panah kemarin meninggalkan bekas di tubuh Niki. “Hey anak muda, mengapa kau tidak mengeluh berlatih ditengah - tengah badai salju?” Bao memberikan segelas teh hangat, “jika mengeluh tidak akan pernah menjadi kuat” jawab Niki kemudian meminum teh hangat itu, Bao tersenyum mendengarnya.