NIKI - The Lost Son

NIKI - The Lost Son
17



Bab 17.


 


Hari - hari terus berlalu, musim dingin pun telah mencapai puncaknya, Niki masih bertapa di gua gunung tiga jari. Bao sedang memasak teh hangat, Niki baru saja membuka matanya, “sudah selesai?” Bao membawakan teh hangat itu, “terima kasih” Niki meminum teh itu “petapa gemuk, sudah sekian lama aku belum mengetahui namamu” lanjut Niki, Bao tertawa “kau bisa terus memanggil ku dengan sebutan itu, sama saja bukan?”.


Disalah satu kota, Wen baru saja memasuki kota itu, beberapa pasukan bayangan mengikutinya, dan tentu saja Wen menyadari itu. Wen berjalan memasuki salah satu rumah bunga, “kalian berdua berjagalah di pintu belakang” perintah Kobe kepada pasukannya “kalian bertiga ikut aku” lanjut Kobe sembari memasuki rumah bunga. Wen naik ke lantai dua, masuk ke dalam salah satu ruangan ditemani seorang gadis bernama Linlin. Kobe dan ketiga pasukannya masih mengikuti, mulai mengeluarkan senjata mereka.


Kobe membuka pintu ruangan itu, tetapi ternyata diruangan itu hanya ada Linlin, “dimana kakek itu?” tanya Kobe, “tuan mau saya layani?” goda Linlin, Kobe pun tampak geram “geledah tempat ini!”. Ruangan itu kosong, tidak ada tanda - tanda dari Wen, “tua bangka sialan!” Kobe melihat keluar jendela dan melompat keluar, ketiga pasukannya pun ingin mengikuti, “kalian mau kemana?” goda Linlin sembari menurunkan sedikit pakaiannya, para pasukan tergoda, Linlin langsung mengeluarkan jarum dan melemparkannya, menusuk tepat di leher para pasukan, para pasukan itu pun tergeletak tidak sadarkan diri.


Dua orang pasukan yang berjaga di pintu belakang baru saja dilumpuhkan oleh Wen, “tua bangka!” teriak Kobe yang baru saja melompat dari jendela, “sedang apa kau kemari?” tanya Wen, “seharusnya itu yang saya tanyakan pada anda, tidak seharusnya penasehat istana keluar dari istana disaat seperti ini, saya datang untuk menangkap anda” Kobe bersiap dengan pedangnya, pedang dengan lambang tengkorak. Wen tertawa kecil “coba saja kalau kau bisa”, Kobe pun maju menyerang dan bermaksud menebas Wen, Wen menghindarinya dengan muda dan menghantam tubuh Kobe. Kobe langsung memuntahkan darah dan tergeletak tak sadarkan diri.


Matahari baru saja terbenam, Kobe dan pasukannya sudah kembali ke istana, “dasar bodoh!” Kulu membanting botol arak, “maaf jendral, tetapi Wen memang bukan tandingan kami” Kobe tertunduk takut, Kulu berpikir sejenak “sebarkan berita pengkhianatan Wen, pastikan dia tidak menginjakan kaki lagi ke istana ini!” perintah Kulu kemudian beranjak pergi.


Disalah satu kota, Wen sedang berbincang dengan Su disalah satu kedai. Su memberikan sebungkus racikan obat “seharusnya ini bisa menetralkan racun di tubuh Kaisar” – “terima kasih, ini sangat membantu” Wen mengambil bungkusan itu, “bagaimana pekerjaan di istana? kau tidak memilih untuk pensiun?” lanjut Su sembari meminum araknya, “masih ada yang harus aku kerjakan, kau sendiri?” tanya Wen, “aku masih harus menghentikan muridku dan juga masih berhutang pada muridku yang lain” jawab Su.


Wen tertawa “setelah keluar dari pasukan kau malah memilih menjadi guru, padahal kau bisa menerima tawaran jendral bersama denganku” – “aku tidak menyesal, salah satu muridku menjadi orang yang hebat, bahkan melebihiku dan juga kau serigala putih” Su kembali meminum araknya. Serigala putih adalah julukan milik Wen.


Malam semakin larut, Guan sedang tertidur di kamarnya. Pintu kamar diketuk, dengan setengah sadar Guan membuka pintu itu, baru pintu dibuka, Yamato langsung menutup mulut Guan dan masuk kedalam kamar. Yamato memberikan bungkus racikan obat “penasehat Wen yang memberikan ini” setelah itu Yamato langsung beranjak pergi, Guan masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi.


Para pasukan sedang asik bersantai, Taka - Taki pun datang menghampiri mereka dengan tubuh yang berlumuran darah, “tolong kakak ku, kami diserang” Taki membopong Taka, “ada apa ini? Siapa yang menyerang?” para pasukan pun menghampiri, Taka tersenyum “kami yang menyerang”, Taka - Taki langsung mencabut pedang mereka dan mulai menyerang, dalam sekejap para pasukan dapat dilumpuhkan, hanya tersisa Kang seorang. Kang pun mencabut pedangnya “sialan! Aku mengetahui siapa kalian, si kembar gila” – “wah wah ternyata kita terkenal juga ya kak” Taki tertawa, “jendral, kau ingin mati dengan cara apa? Di tebas atau di tenggelamkan” timpal Taka, “jangan besar kepala!” Kang mulai menyerang, pertarungan pun terjadi.


Di kota lain, Lin dan pasukannya baru saja berhasil mengusir para penjahat di kota. “Lapor jendral, kota ini telah aman, para penjahat telah lari ke arah hutan” salah satu pasukan memberi laporan kepada Lim yang sedang duduk diatas kudanya. “Sepertinya kalian belum mengusir semua” teriak Liang dari atas atap salah satu rumah, “buang - buang waktu saja, tangkap dia!” perintah Lin, para pasukan pun langsung bergegas memanjat atap, tetapi tiba - tiba Kara sudah berada dibelakang Lin dan menodongkan ceruritnya di leher Lin, Liang tertawa “semakin menarik saja”.


Di kota lain, Gong juga baru berhasil menduduki salah satu kota, ia sedang makan di salah satu kedai. Salah satu pasukan menghampiri “permisi tuan ada yang ingin bertemu dengan anda”, seorang perempuan bernama Tina datang menghampiri Gong “terima kasih jendral, sekarang kota ini jadi aman berkat anda” Tina menggoda dan mengelus tubuh Gong “terimalah ini sebagai tanda terima kasihku” Tina menarik Gong untuk ikut bersamanya, Gong tersenyum “tunda perjalanan, jangan ada yang ganggu aku” perintah Gong kepada pasukannya.


Tina menuntun Gong masuk ke dalam salah satu kamar, pintu kamar ditutup, Gong bermaksud membuka pakaian Tina, Tina menahan tangan Gong “tunggu sebentar, bukan ini hadiahnya”, tiba - tiba Valir muncul dari ruang sebelah, sudah bersiap dengan senjatanya.


Di pinggir sungai, tubuh Kang kini sudah berlumuran darah dan luka, begitu pula dengan Taka - Taki, Kang bukan lawan sembarangan. Taka tertawa “kita lihat berapa lama lagi kau bisa bertahan” Taka mulai maju menyerang diikuti Taki, pertarungan kembali terjadi. Kang kewalahan harus menghadapi Taka - Taki bersamaan, Kang pun memeluk tubuh Taka dan melompat bersama kedalam sungai.


Di tengah kota, tubuh Lin sudah dipenuhi luka - luka, sedangkan Liang hanya terkena beberapa luka gores, Kara sendiri sudah terkapar tidak sadarkan diri. Lin mulai memuntahkan darah, Liang tertawa “menyerah sajalah jendral” – “aku tahu siapa dirimu, legenda topek perak seharusnya sudah mati beberapa tahun yang lalu” Lin bersiap menyerang dengan pedangnya, Liang mengeluarkan sebuah sumpit “kita lihat mana yang lebih kuat, pedangmu atau sumpitku” – “jangan remehkan aku!” Lin maju menyerang. Lin memuntahkan darah, sumpit itu telah menembus tubuhnya, tetapi pedang miliknya berhasil melukai bahu kiri Liang. Darah mulai mengalir dari bahu Liang, Lin pun kini jatuh tergeletak.


Didalam kedai, Gong sudah terkapar dengan beberapa pisau menusuk tubuhnya. Valir menghampiri, mencabut salah satu pisau “kau tahu mengapa aku dijuluki taring ular? Disetiap pisau milikku sudah diolesi bisa ular, setelah tertusuk kau tidak akan bisa melawan lagi” Valir tersenyum, Gong hanya terkapar tidak bergerak dengan wajah yang pucat.


Hari - hari terus berlalu, salju turun sudah tidak sebanyak hari - hari kemarin. Di gua gunung tiga jari, Niki kini sedang minum teh bersama Bao. “Niki” Bao memberikan sebuah kotak “seharusnya aku memberikan ini pada teman lamaku beberapa tahun yang lalu sebagai hadiah menjadi seorang ayah”, Niki membuka kotak itu, kotak yang berisi sebuah cerutu, “tetapi aku tidak sempat memberikannya, ia sudah terlanjur wafat, dan kau begitu mirip dengannya, itulah mengapa aku memberikan ini padamu” lanjut Bao, Niki hanya terdiam memperhatikan cerutu itu. Niki menundukan kepalanya “terima kasih guru”.