
"Papa...." Teriak Milka dan Domi. Mereka datang menjemput Dino. Ketika mereka tidak menemukan Dino diatas tempat tidur. Ternyata, Dino baru dari kamar mandi untuk bersiap-siap. "Papa.." Milka memeluk Dino membuatnya kaget. Dia kagok dengan Milka dan Dino. Dia melirik pada Naomi, "Hi! Milka, Domi. Akhirnya papa ketemu kalian juga." Sapanya, meski agak kagok dia mencoba santai relax dan ngeblend sama anak-anaknya. "Kalian datang untuk jemput papa?" Tanyanya. "So, let's go!" Ucapnya. Ia mengambil tongkatnya dan berjalan berdampingan dengan kedua anaknya sementara Naomi mengendong bayi Fajar and finally Dino kembali ke rumah.
"Bi Minah, senang bisa bertemu bibi lagi." Ucapnya, dimana kamar aku bi? Apakah masih kamar yang lama?" Tanyanya. "Masih, Den." Jawabnya memberi kelegaan. Dino berjalan mengelilingi rumah, setiap ruangan ia datangi. Ia mencoba mengingat hal apa yang bisa membuat ingat akan Naomi. Setiap sudut rumah justru menginginkannya pada ayah dan Milka. Ia sedih ketika Ratih mengatakan bahwa ayah dan adiknya itu telah meninggal.
"Adakah di rumah ini tempat kenangan kita?" Tanyanya langsung pada Naomi. "Aku perlu mengingat soal kita dengan cepat." Jawabnya lagi. "Kamu gak perlu buru-buru, cukup pelan-pelan. Aku akan bantu kamu. Ini foto-foto kita." Tunjuk Naomi. Tapi tak ada satupun dari foto itu yang membuatnya ingat.
"You're the CEO of BI Group, and founder of Plofa group. Plofa group adalah perusahaan yang kamu bangun bersama Alvin teman kuliah kamu waktu di Inggris." Naomi menjelaskan sedikit demi sedikit. "And then how I meet you? Bagaimana caranya kita bisa pacaran?" Tanya Dino.
"Kita pertama kali bertemu saat kecil, kita pernah diculik dan saling berjanji untuk bersama ketika dewasa. Saat SMP kita bertemu dan berpacaran. Aku yang kejar kamu mati-matian." Balas Naomi. "So, we are married? and 5 years later we are divorced? What's the reason? it's because I'm cheating or something else? Sorry, Nom. I know, I shouldn't asking you about this but I really want to know. I don't remember about us." Ucap Dino.
"No problem, nevermind. I know. Kita menikah dan bercerai karena kesalahpahaman. But everything is cleared." Balas Naomi. Sebaiknya memang Dino gak perlu lagi tahu soal masa lalu.
"Nom, Aku lelah, aku perlu istirahat. Aku duluan." Dino masuk ke kamarnya dan berganti pakaian. Saat dia keluar dan duduk di tempat tidur, ia kaget melihat Naomi di sana. "Nom, kamu ngapain di sini?" Tanyanya.
"I'm your wife. So it's my bed." Jawab Naomi sedikit menggoda. "Ok, good night." Dino berbaring membelakangi Naomi. "Dino..." panggil Naomi.
"Kamu gak perlu memasukkan diri. Kita bisa membuat memory baru bersama keluarga kita." Ucap Naomi lalu mencium Dino. "Nom, kamu baru melahirkan, sebaiknya kita menjaga jarak." Ia gelisah dan penasaran soal apa yang terjadi di masa lalu. Dia merasa Naomi menutupi sesuatu darinya. Dino mulai menjalankan harinya dan beradaptasi dengan cepat termasuk urusan kantor. Setelah hampir satu bulan, ia kembali ke kantor dan memimpin rapat besar. Dalam pengambilan keputusan ia masih tepat dan teliti seperti dulu. Di rumah, ia membantu Naomi mengurus ketiga anaknya dan kadang ia memasakan makanan untuk keluarganya.
Tiba-tiba, ketika melihat api besar kepalanya langsung sakit. Sekilas ingatan-ingatan itu berputar di otaknya. "Kamu kenapa Din?"
"Tidak! Aku melihat bayangan anak kecil yang punya luka seperti kamu, boneka beruang dan api." Kepalaku rada sakit. "Nom, aku mau keruang kerja aku dulu. Kamu sama anak-anak makan duluan." Pintanya, dia ingin waktu sendiri sementara.
"Apa mungkin itu kenanganku dan Naomi saat kami kecil, dia bilang kami pernah di culik bersama. Oh iya, dimana buku agendaku?" Dino mencari ke setiap laci dan menemukan sebuah diari usang. Diari miliknya sendiri. Ia membuka diari itu, di halaman pertama ia menuliskan hari ini aku melihat Naomi menghianatiku. "Naomi menghianati aku?" Dia membaca helai demi helai. Ia juga membawa buku itu ke kantor. Hingga pada akhirnya ia sampai ke lembar paling akhir ditulisnya kurang lebih 3 bulan yang lalu. Ini adalah jawaban yang dia mau, apa yang terjadi selama ini.
Jakarta, April 2023.
Pada akhirnya, aku berada di persimpangan antara ibuku dan juga istriku. Itu kalimat pertama yang ditulisnya ketika membuka catatannya. Hari ini, om Togaya datang dan menceritakan semua yang dilakukan oleh mama selama ini. Enam tahun yang lalu, ketika Naomi datang dengan keadaan hamil, mama mengusirnya dari rumah. Ia bahkan menyarankan Naomi untuk mengugurkan kandungannya. Mama mengatakan jika aku tak ingin lagi bertemu dengan Naomi. Melihat keadaan Naomi, Om Togaya membawa Naomi dan seluruh anak panti yang tersisa untuk tinggal sementara tapi mama menyuruh orang untuk mengusir mereka dengan mengatasnamakan Nino sebagai targetnya. Tak hanya itu, mama juga membohongiku dengan mengatakan bahwa Naomi telah menikah dengan Gilang dan memalsukan surat cerai ku. Hatiku hancur mendengarnya, mama melakukan semua itu dengan sadarnya? Kenapa bisa dan bagaimana aku harus bersikap?
Next halaman,
Jakarta, April 2023.
Aku jatuh dalam kehancuran, aku menemukan semua buktinya. Ternyata benar mama memang melakukan ini tidak hanya itu mama membayar orang untuk memalsukan hasil DNA aku dan Domi.
Jakarta, April 2023.
Naomi is missing, Aku tahu Samantha adalah orang di balik ini semua.
Kalimat ini yang terakhir ia tulis, setelah membacanya ia mulai merasa pusing. Ingatan-ingatan itu muncul di kepalanya.
"Nomi!" Teriak Dino. Ia memergoki Naomi dan Gilang bersama-sama.
"Nomi, keguguran." Ucap Adam.
"Naomi will you marry me?" Ucapnya.
"Dino, aku mau kita bercerai. Aku mau mengakhiri hubungan ini." Ucap Naomi menghempaskan Dino.
"Domi, anak aku. Aku gak akan biarkan siapapun dipanggil ayah olehnya selain aku!"
Dino memegang kepalanya, terlalu banyak yang muncul di kepalanya dan pingsan di dekat pintu keluar. "Den Dino!" Teriak Bi Minah sementara itu Naomi tidak ada di rumah dan sedang berada di penjara wanita. Ia menemui Santi.
"Santi, aku datang ke sini karena ingin mengatakan sesuatu. Aku telah memaafkan mu. Aku gak mau terikat dengan kebencian apapun diantara kita." Ucapnya lalu mengantarkan semangkuk mie ayam kesukaan Santi. "Dulu, Milka pernah bilang kamu suka mie ayam dekat rumah sakit. Milka pernah memintaku memberikanmu sebagai hadiah ulang tahun." Santi menangis meratapi mie itu. "Seharusnya kalian tidak menyelamatkanku. Agar aku tidak menanggung malu ini.."
"Kamu sangat beruntung, Dino begitu mencintaimu. Itulah mengapa aku begitu iri padamu. Dino mencintaimu bukan hanya saat kamu cantik saat kamu belum secantik ini, dia sudah sangat menyukaimu. Aku ingat saat itu, waktu di Bandung setelah kalian bertengkar dan kamu memutuskan hubungan lebih dulu karena marah. Dino tidur sambil memeluk fotomu."
Moment flashback, Bandung 2003
Dino tertidur, sambil memegang foto Naomi ditangannya. Foto itu diambilnya dari dompet disela-sela yang tidak mungkin ditemukan oleh siapapun. Dia terus memandangi foto itu sementara Milka tidur di sampingnya. Lama kelamaan dia juga ikut tertidur. Milka tiba-tiba terbangun dan merasa mual, mungkin karena seharian dia beraktivitas dan kurang istirahat.
"Kak, Milka mual." Ucap Milka pada Dino. "Milka tunggu sebentar, Kakak antarkan ke toilet. Pelan-pelan." Tidak sadar foto itu jatuh dan terselip di bawah sofa. Ia membantu Milka, namun adiknya itu memintanya untuk menunggu di luar. Ia ingin mandiri, ia tidak mau terlihat begitu lemah. Ia mau sendiri. "Kakak tunggu, di depan ya."
Sambil menunggu adiknya, ia menyadari fotonya hilang. Ia buru-buru mencari foto itu. Ia mencari ke atas sofa, meja dan sekitarnya tapi ia tidak menemukannya. "Mas Dino mencari apa? Saya bantu." Ucap Santi, ia baru saja sampai setelah membantu merapikan keperluan Milka.
"Saya lagi cari foto. Foto ini penting banget buat saya. Saya harus menemukannya. Foto Naomi." Ucapnya santai tapi bagaikan pedang bermata tajam untuk menusuk hati Santi. Santi pura-pura bantu mencari tapi dia berharap foto itu hilang selamanya. Saat sedang mencari, Santi memeluk Dino dari belakang membuat lelaki itu kaget.
"Suster Santi, apa yang kamu lakukan? Lepaskan saya." Santi enggan melepaskan dan semakin erat. "Santi lepas." Dino merasa risih dengan pelukan orang lain. Ia tak sengaja mendorong Santi hingga dia hampir jatuh beruntung Dino bisa menahannya. "Sebaiknya, suster bantu Milka. Jangan ganggu saya." Ucapnya sangat dingin, sedingin kulkas dua pintu. Tapi Santi semakin nekat. Ia memeluk Dino dan memaksanya. Ia ingin menciumnya, ia melakukan hal yang sama seperti Naomi ketika berada di kamar Milka saat gadis itu sedang melakukan pemeriksaan. Santi ingat saat itu Naomi memeluk Dino dari depan dan langsung mencium lelaki itu awalnya menolak tapi pada akhirnya mereka berciuman cukup lama hingga Milka tiba.
"Suster Santi lepas! Apa yang suster lakukan? Suster jaga harga diri suster. Saya laki-laki dan suster perempuan. Please! Menjauh dari saya." Dino mendorong Santi hingga ia terjatuh di sofa. Santi semakin gila, ia memeluk Dino dari belakang membuat laki-laki betul-betul kesal.
"Santi, lepas! Jangan menguji kesabaran aku. Aku bukan orang yang cukup bersabar dalam hal ini." Dino masih bersabar. Tapi Naomi tak bergeming, "Kenapa harus Naomi? Apa bagusnya dia?" Ucap Santi membuat Dino heran.
"Santi, Kamu gak perlu menanyakan kenapa harus Naomi. Dari dulu ia adalah pacar aku." Balas Dino, ia tidak memperdulikan ucapan Santi.
Santi tak habis akal, "Saya lebih baik dari Naomi. Saya mendengar semua yang Mas Reihan dan Mas Dino bicarakan saat di rumah sakit. Saat Mas Dino terluka, tangan mas terluka karena Naomi. Naomi selingkuh dari Mas Dino kan? Mas, aku gak akan pernah menghianati Mas." Dino langsung berbalik, ia paling benci sama orang yang suka ikut campur dan menguping percakapan dirinya dengan siapapun. Santi mulai membuka ikat rambut dan ingin menggoda Dino.
"Stop!" Tegas Dino. "Aku rasa suster gak punya pekerjaan lain ya. Selain menguping pembicaraan orang! Suster dengar! Yang bisa menyentuh saya hanya keluarga dan Milka. Satu-satunya wanita adalah Naomi, pacar saya. Saya gak mau bertengkar dengan Suster. Sebentar lagi Milka keluar." Sementara itu, di dalam Milka mendengar semuanya. Ia juga tidak suka jika Suster Santi menganggu hubungan kakaknya dan Naomi.
"Saya bisa memberikan apa yang Naomi berikan?" Balas Santi. "Saya cinta sama kamu sejak pertama kali bertemu. Saya yakin Mas Dino jodohnya saya." Dino enggan untuk disentuh. "Mas, Naomi itu hanya perempuan gak tahu terima kasih dan tukang selingkuh! Dia gak berhak mendapatkan mas!" Ia semakin lihat menghina Naomi yang membuat kuping Dino panas.
"Stop! Wanita yang kamu bicarakan itu adalah Naomi. Wanita yang aku cintai dan sukai. Naomi memang pernah berselingkuh tapi bukan berarti aku harus membalasnya dengan berselingkuh dengan orang lain dan
Saya gak butuh apapun dari kamu. Sebaiknya kamu pergi." Usir Dino.
"Tapi, Mbak Naomi bilang. Mas Dino gak pernah bilang cinta ke Mbak Naomi. Itu artinya Mas Dino udah gak mencintai Mbak Naomi." Santi masih kekeuh memaksa Dino.
"Santi, cinta yang aku miliki untuk Naomi gak akan pernah bisa kamu mengerti. Aku mencintai dia lebih dari 10 tahun. Aku gak perlu selalu mengatakan cinta. Tapi semua aku lakukan melalui tindakan. Dan kalau sampai hari ini aku masih bersamanya, dia masih menjadi pacarku. Itu karena aku menginginkannya. Aku membutuhkannya. Kalaupun aku ingin menyentuh seorang wanita saat ini. Aku ingin menyentuh Naomi seorang. Hanya Naomi. Dan perlu suster tahu, Naomi jauh lebih baik dalam segala hal." Ucap Dino tegas dan menusuk. "Naomi gak akan pernah melakukan apa yang Suster lakukan, hargai diri kamu because you are worth it. Kamu akan bertemu dengan lelaki yang mencintaimu, it's not me." Tambahnya. Dino akhirnya menemukan foto itu. "Dia adalah wanita yang berharga untuk aku." Dino menunjuk foto Naomi.
"Jika suster masih mau di sini, tolong jaga sikap Suster. Suster disini untuk Milka dan bukan karena saya. Jadi lakukan tugas anda dengan benar. and then, aku paling benci orang yang suka nguping pembicaraan orang lain. " Tegasnya lagi.
Tak lama, Milka keluar dan meminta Dino menerimanya ke kamar. "Ayo, Milka kakak gendong ke atas." Ucapnya. " Suster terima kasih telah menemani Milka hari ini."
"Bagus Kak. Itu baru kakak aku." Ucap Milka. "Kamu nguping ya.." Bisik Dino.
Santi tertawa mengingat itu. Apa bagusnya seorang Naomi ucapnya lagi tertawa. "Jangan temui aku lagi."