
"It's your baby!" Dokter itu menunjukkan wajah bayinya yang sedang tersenyum. Detak jantungnya semakin kuat dan bayinya sangat sehat.
"Thank you, Dok. Milka, Domi it's Your Brother. Say Hi.." Ajak Dino, ia mengendong Milka dan Domi untuk menyentuh Adik mereka di layar. Dino tidak pernah melewatkan pemeriksaan. Ia selalu mendampingi bahkan diawal-awal pemeriksaan dia yang paling cerewet dibandingkan Naomi.
"Bagaimana kondisinya? Apakah bayinya laki-laki atau perempuan?" Mengingat itu dokter pasti tertawa pasalnya saat itu usia janin masih sangat muda. Pastinya belum terlihat jenis kelaminnya. "Apakah ini pengalaman pertama anda?" Tegas dokter itu. "Iya.." Jawabnya juga tegas waktu itu.
"Ibu, Naomi harus lebih hati-hati karena usia kandungan ibu sudah memasuki usia tujuh bulan." Pesan dokter itu.
"Ma.. pa.. hari ini. Aku mau sushi." Pinta Domi. "Boleh, abis dari sini kita makan Sushi." Dino menyetujui semua permintaan Domi dengan mudah. Ia sangat menyayangi anak-anaknya. Dia adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Tak disangka, moment itu justru di lihat oleh Serra. Serra bekerja sebagai cleaning service di sana.
"Naomi, kamu sekarang sedang hamil. Kenapa kamu selalu beruntung?" Ia semakin membenci Naomi. Ia melihat Domi dan Milka berada bersama mereka. "Milka, Domi kita akan segera bertemu."
Usia Naomi yang semakin besar, semakin membatasinya. Ditambah di kehamilan ini tubuhnya lebih cepat lelah. Terkadang, ia tidak ikut menjemput Domi dan Milka dan biasanya hanya Aisyah pengasuh anaknya dan Pak Beben. "Hallo, Naomi. Ini mama. Mama mau mengajak anak-anak bermain. Hari ini biarkan mama yang jemput ya." Ucap Ratih. "Baik ma ... Aku akan bilang ke Pak Beben dan Aisyah." Balas Naomi. Setelah sekian lama akhirnya mereka bisa saling mendengarkan suara masing-masing.
Di sekolah, Domi dan Milka sudah menunggu. Naomi memberitahu mereka jika Omanya akan datang menjemput dengan mobil yang biasanya mereka naiki. "Baik ma..." Tak lama mobil itu datang menjemput dan membawa mereka untuk bertemu Omanya.
"Auuu!" Naomi kembali tak sengaja terluka karena gelas cangkirnya ada sudut yang tajam. "No, Lo gak papa." Celetuk Reihan di sana juga ada Alvin dan Adam. Mereka sedang membicarakan project. "I don't know. Tapi perasaan aku gelisah. I think I will call Naomi."
Ia mencoba menghubungi Naomi tapi tidak diangkat. Ponsel itu terus berdering tapi tidak terangkat. Ponsel itu tergeletak, di samping Naomi yang pingsan. Ia menerima sebuah surat yang mengatakan, selamatkan anakmu! Perasaan Dino semakin gelisah. "Nom, please angkat!"
"Bi Minah, kenapa Bibi yang angkat? Dimana Naomi?" Tanya Dino. "Den, Non Naomi pingsan, Domi dan Milka di culik, den." Tambah Bi Minah sambil menangis. "Bukannya, mereka di jemput sama mama?" Dino segera bergegas menuju ke rumah mamanya.
"Ma... dimana Domi dan Milka?" Tanyanya panik. Sementara, Ratih tidak tahu keberadaan cucunya. Dia sendiri baru keluar dari rumah sakit. Tadi siang ia dirampok dan mobilnya dibawa pergi. "Ma ... Anak-anak diculik. Dia mengirimkan surat ini pada Naomi. Ma dimana mereka?"
"Mama gak tahu, Dino.." Ucap Ratih terkejut.
"Ma.. anak aku maa..." Ucapnya. "Sekarang kamu ke rumah sakit, kamu jaga Naomi di sana. Mama akan bantu kamu cari mereka." Dino menatap Ibunya, ia memeluk Ratih dengan erat. "Ma.. tolong aku, bantu aku mencari mereka." Ia menangis sejadi-jadinya.
"Naomi...bangun Nom." Ia mencium tangan Naomi sambil terus mengusap rambutnya. Ia mencoba menahan air matanya. Ia tidak ingin menangis di depan Naomi meskipun dia sangat kuatir terhadap kondisi kedua anaknya. "Disaat seperti ini, Lo harus kuat No. Naomi butuh Lo. Dia butuh Lo kuatkan." Adam bersedia membantu Dino menjaga Naomi. Adam juga mengingatkan Naomi untuk tetap tegar dan kuat menghadapi semuanya. Dino harus tetap sadar dan berpikir jernih. "Gimana caranya Dam. Aku gak tahu anak aku dimana? Naomi juga drop."
"Lalu, apa yang mau kamu lakukan? Sekarang yang perlu kamu lakukan adalah menghadapi semuanya. Lo gak boleh hanyut dalam kesedihan. Anak Lo pasti ketemu." Adam memberikan support untuk Dino. "Sekarang Lo kembali ke dalam temani Naomi." Pinta Adam.
Dino mengikuti kata Adam, dia kembali keruangan itu dan menemui Naomi. Langkah kaki itu terlalu berat. Bagaimana ia akan memberitahu Naomi, bahwa kedua anaknya diculik. Kondisi mentalnya akan kacau, dan beresiko untuk bayinya. "No..." Sebut Naomi menghentikan langkahnya. "Dimana anak-anak? Mereka benar ke rumah mama?" Tanyanya. Dino terdiam. "Dino jawab! Anak-anak benar sama mama Ratih kan?" Tanya lagi mulai histeris. Dia terus memukul lengan Dino. Ia menyalahkan dirinya karena lalai, "Seharusnya aku yang menjemput dia. Aku yang salah Dino. Maafin aku. Aku harus cari dia." Naomi bergegas ingin mencari anaknya, ia melepas selang infus itu dan mencari bajunya.
"Naomi kamu gak boleh kayak gini. Aku gak akan kasih kamu pergi." Dino melarang Naomi. Ia memeluk Naomi dari belakang. Naomi sudah histeris minta di lepaskan. "Nom, jangan seperti ini. Ini bukan salah kamu. Anak kita baik-baik saja. Aku akan menemukannya tapi kamu harus ingat masih ada anak kita di perut kamu. Kamu harus perhatikan dia juga." Naomi masih saja tidak mau mendengar dan ingin keluar. " Naomi! Listen to me!" Bentak Dino membuat Naomi shock sehingga merasakan sakit pada perutnya. Perutnya kontraksi, ia merasa kesakitan. "Nom, kamu tenang ya." Dino dengan segera memanggil dokter melalui tombol darurat yang ada. "Nom, sebentar lagi dokter datang." Naomi terus mengeluh kesakitan, Dino juga terus memeluknya dengan erat. "It's ok. Nom. Everything is gonna be alright. I promise you!" Ucapnya. "Sakit No." Rintih Naomi sambil mencengkram kuat lengan Dino.
Tuhan please kuatkan Naomi. Bantu aku dan jaga Milka dan Domi.
Dino sangat cemas dengan kondisi Naomi yang tidak stabil. Dokter mengatakan kondisi Naomi bisa berdampak bagi bayinya. Semua terjadi langsung bertubi-tubi dan bersamaan, kondisi mama dan Naomi serta hilangnya anak mereka. "Siapa yang mungkin melakukan ini? Apakah kita punya musuh Om?" Tanya Dino kepada Togaya yang datang untuk mengetahui kabar Naomi. Dia sudah mengerahkan seluruh orang-orang suruhannya untuk mencari kedua. Tapi seperti tidak ada petunjuk dan jejak mereka. "Apa mungkin itu Gilang?" Celetuk Togaya. "Aku gak yakin itu Gilang. Sebenci-bencinya dia, gak mungkin menyakiti Naomi sampai seperti ini." Ia terus berpikir, jika ini penculikan karena uang seharusnya sudah ada orang yang menghubunginya untuk meminta uang tebusan tapi sampai sekarang juga belum ada sudah hampir sore hari. "Aku gak akan memaafkan siapapun yang menyakiti anak aku." Ia menatap Naomi sambil menahan air matanya. "Aku akan membuat mereka menyesal."
Dino terus berada disamping Naomi. Ia berusaha untuk mengajak anaknya untuk berkomunikasi, "Papa tahu kamu juga kuatir sama kakak kamu. Tapi kamu tenang aja. Papa pasti akan menemukan kakak kamu." Ucapnya pada bayi di perut Naomi. Meskipun Naomi masih belum sadar. Ia terus menunggu dan mendampingi Naomi sampai ia tak sengaja tertidur di samping Naomi.
"Dino..." Oma Murni datang dan menyelimutinya. Ia terbangun dan mendapati Oma Murni sudah berada di belakangnya.
"Kamu istirahat saja. Biar Oma yang jaga Naomi." Ucapnya. Dino merasa lebih lega setelah kedatangan Oma Murni.
"Oma, biar aku saja Oma." Dino bersikeras untuk menjaga Naomi. Tiba-tiba, Alvin menghubunginya bahwa ia sangat dibutuhkan di kantor saat ini. "Baik. Alvin. Aku akan segera kesana." Ucap Dino. Ia terpaksa meninggalkan Naomi bersama dengan Oma Murni. "Oma aku ke kantor dulu, kalau Naomi sudah bangun telepon aku." Ucapnya sebelum berangkat ke kantor. Ia memastikan jika keadaan Naomi aman selama di rumah sakit.