
Naomi memeluk Dino dari belakang namun Dino menolaknya hidungnya merah, ia menahan air mata yang mungkin akan membasahi pipinya. Ia tidak ingin siapapun melihatnya menangis. Ditambah lagi dengan pelukan Naomi yang mengiris hatinya. Wanita ini pernah melahirkan anaknya, sendirian membesarkannya juga sendirian. kehidupannya yang susah, Domi tumbuh tanpa ayah di masa tumbuh kembangnya.
"Lepasin aku Nom. Aku gak akan pernah maafin kamu. Kamu ibu yang jahat, memisahkan anak dari ayahnya." Ucapnya ia masih memegang tangan kecil Domi.
"Aku baru tahu kalau Domi ada di rahimku setelah 3 bulan kita berpisah. Sejak di kandungan, dia sama sekali tidak pernah menyusahkan ku." Ucapnya pada Dino yang sedang melihat Domi terbaring lemah setelah tindakan.
Ia langsung berdiri dan menoleh pada Naomi. Ia mencengkram kedua pundak Naomi, "Kenapa kamu gak menghubungi aku." Tanyanya penuh amarah pada Naomi.
"Dino, aku selalu mencari kami selama ini. Domi adalah alasan terbesar kenapa aku bertahan untuk kerja di proyek." Tambahnya. Ia teringat bahwa memang dia yang meminta untuk menghentikan semua berita tentang Naomi. Tapi kenapa dia tidak tahu jika Naomi hamil jika betul ia sudah hamil. Seharusnya, ia tahu karena ia baru menerima surat cerai 6 bulan setelah perpisahan mereka. Ia melepaskan Naomi perlahan, ia tidak ingin berspekulasi tentang hal ini.
"Sudahlah Naomi. Ini juga salahku. Aku yang memutuskan untuk mengakhiri komunikasi kita. Terima kasih kamu sudah merawat anak kita dengan baik. Aku sangat bersyukur." Ucap Dino.
"Aku tahu selama 6 tahun ini sulit untuk kamu, aku pulang dulu." Ucapnya, sesuai janjinya pada Ratih setelah dia selesai memberikan darahnya dia akan pulang.
"Kamu gak pantas jadi seorang ayah. Domi menunggu kamu selama ini dan tetap saja dirimu pergi meninggalkan kami." Naomi memeluknya dari belakang. "Tetaplah disini bersama kami. Aku ingin kamu menyayangi Domi seperti Milka. Dia juga anak kamu." Tambah Naomi.
"Gak pantes jadi ayah ... Tahu dari mana kamu, aku gak pantas jadi ayah... Kamu yang gak pantas jadi ibu. Kamu membiarkan Domi, anak ki-ta." Ia tak bisa mengatakan apa-apa lagi. "Naomi .. ka-mu, membiarkan Domi tumbuh tanpa seorang ayah."
"Naomi, kasih aku waktu. Ini terlalu membingungkan buat aku. Aku gak tahu kamu hamil karena kejadian malam itu." Balas Dino. "Kenapa kamu gak datang ke rumah aku. Ada Pak Beben, dia tinggal di Indonesia. Kenapa kamu harus kerja di proyek dan keluar dari perusahaan? Kenapa kamu harus hidup susah bersama Naomi? Kemana uang uang aku berikan pada kamu?" Balas Dino.
"Susah? Aku sangat menyayangi Domi. Aku gak mungkin buat hidupnya susah."
"Tapi kamu buat dia tumbuh dan besar di Lingkungan yang menganggapnya anak haram dan lahir tanpa ayah." Balas Dino menyakiti hati Naomi.
"Tanpa ayah?" Naomi tak terima dengan perkataan itu, Dino akhirnya menceritakan apa yang terjadi dengan Domi waktu berada di warung itu dan bagaimana dia memecat Andi atasan Naomi.
"Kamu pergi begitu saja dan menutup semua akses. Om kamu memasukkan nama aku kedalam daftar hitam sehingga sulit bagiku untuk mencari pekerjaan." Balas Naomi. "Jangan ngarang kamu! Lalu kemana kompensasi perceraian yang seharusnya kamu dapatkan.."
"Dino!" Tiba -tiba, Ratih memotong pembicaraan mereka dan meminta Dino untuk menepati janjinya dan pulang bersamanya.
Melihat itu semua Ratih tidak tinggal diam, ia segera melakukan tes DNA pada Dino dan Domi. "Ma, Dino yakin dia anak aku.." Ucap Dino, sejujurnya dia menolak melakukan itu karena dia yakin Domi anaknya. Tetapi Ratih bersikeras untuk melakukan itu semua, Dia tak ingin Dino di bohongi oleh Naomi.
Setelah test itu selesai, Dino segera pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Domi yang masih belum sadar, "Buat apa kamu kesini?" Tanya Gilang menghadang jalannya. "Aku mau ketemu anak aku..."
"Kamu yakin dia anak kamu?" Gilang berusaha menggoyahkan Dino. Ia tidak rela Naomi kembali bersama Dino. "Aku percaya Naomi 100 persen. Sekarang minggir dari jalanku." Usirnya.
"Jangan ambil mereka dari aku. Mereka adalah satu-satu keluargaku saat ini." Ucap Gilang sengaja membuat Dino cemburu.
"Aku gak peduli urusanmu dan Naomi tapi tidak anakku. Aku hanya peduli sama anak aku. Tapi kamu tahu, aku adalah ayah Domi. Aku bisa melakukan apapun dengan status itu." Kata-kata ini membuat Gilang kesal, jadi Dino sudah tahu semua.
"Aku akan buat perhitungan sama kamu. Gilang. Jangan berharap menjadi ayah untuk anak aku." Ancam Dino.
Hasil DNA itu akhirnya keluar dan menyatakan 99,99% Domi dan Dino memiliki hubungan darah. Itu berarti Dino adalah ayah kandung Domi. Samantha yang mendengar itu seperti mendapatkan serangan petir. Dino dan Naomi tidak hanya memilki Milka tapi Domi yang secara langsung lahir dari rahim Naomi.
"Ma, Domi benar anak aku ma.." Dino sangat bahagia mendengar ini semua. "Dia punya anak yang lahir langsung dari rahim Naomi. Ia lalu memeluk Naomi dengan erat. "Serahkan hak asuh Domi padaku. "Aku gak akan membiarkan anak aku diasuh oleh orang lain
"Gak Dino! Domi adalah anak aku. Aku mengandung dia selama sembilan bulan dan kamu mau bawa dia begitu saja." Naomi mendorong Dino jauh- jauh dari Domi. Sementara, Domi terus memanggil papanya. Ia meminta Naomi melepaskan Dino, Domi tak ingin kehilangan ayahnya lagi.
"Mama... Domi mau papa..." Pintanya sambil menangis.
"Lepasin aku Naomi." Pinta Dino.
"Tidak! Aku tidak akan menyerahkan anakku." Naomi takut benar-benar takut kehilangan Domi. Oma Murni juga berusaha meluluhkan hati Dino. Namun hatinya tidak tergerak, ia tetap meminta Naomi untuk melepaskan tangannya dari tubuhnya.
"Aku gak akan membiarkan Domi menyebut orang lain papa..." Naomi kaget mendengarnya, Dino mencengkram erat lengannya. Ia meminta Naomi melihat kedua matanya. Aku bukan Dino yang dulu, aku sudah kehilanganmu Naomi tapi tidak dengan anakku.
"Aku gak akan membiarkan darah dagingku, dirawat oleh Nino kakakmu." Ucapnya. "Aku gak mau kita berdebat di depan Domi." Ia melepaskan tangan Naomi dan mendorongnya menjauh. "Domi, anak papa." Peluk Dino. Ia benar-benar bahagia, melihat Domi sadar dan sembuh. Ia tak pernah menyangka anak yang selalu mengambil perhatiannya adalah anak kandungnya. "Terima kasih sudah lahir ke dunia, Domi. Papa sayang sama kamu." Tangan kecil Domi juga memeluknya dengan erat.
"Papa, jangan tinggalkan Domi." Ucapnya
"Iya, pasti..." Dino mengelus Domi, cintanya sudah begitu besar untuk Domi.