Never Forget

Never Forget
Operation



Dino duduk di atas tempat tidur pasien sambil menatap langit berawan dari jendela rumah sakit. Ia memakai baju biru pasien, waktu menunjukkan pukul 07.00 WIB. Ditangannya ia memegang buku sketsa dan pensil kayu 2B. Ia mengaksir sebuah gambar 4 orang wanita, Milka, Naomi dan Mamanya dan Sang Ayah.


"Pak Dino, sudah waktunya." Ucap Suster yang datang menjemputnya.


"Dino, mama akan menemani kamu." Peluk Ratih, ia selalu mendoakan yang terbaik untuk anaknya. "Dino, kita akan sama-sama menebus semuanya. Mama udah baca buku catatan papa. Mama akan selalu mendukung dan mendoakan mu." Peluknya.


Setelah menerima pelukan hangat Sang Bunda, Dino mengikuti arahan suster itu untuk duduk di kursi roda untuk menuju ke ruang operasi. Sementara itu, Naomi yang masih tak sadarkan diri mulai memasuki ruang operasi. Tak lama setelahnya, Dino masuk keruang operasi berdampingan dengan Naomi. Pintu Ruang Operasi pun ditutup.


"Naomi, akhirnya kita bertemu. Nom, setelah hari ini kamu gak akan lagi merasakan rasa sakit ini. Ini adalah keputusan terbaik yang pernah aku buat untuk melihat senyuman orang-orang yang aku cintai. Dulu, aku selalu memaksakan mu untuk aku miliki. Sekarang, aku sadar ini justru menyakitimu. Nom, aku cinta sama kamu, aku akan melakukan apapun untukmu, kini giliranku menunjukkan cintaku padamu" Ia memejamkan matanya, kedua matanya meneteskan air mata. Seorang suster mendekat lalu memasangkan peralatan dan operasi itu segera dimulai.


Lampu operasi menyala, semua orang terus menunggu jalannya operasi ini. Ratih terus mengatupkan tangannya sambil terus berdoa dan memohon untuk kelancaran operasi ini. Ia ingat operasi ini cukup beresiko. Sebelum mengajukan diri sebagai donor, Dino dan Ratih pergi untuk berkonsultasi pada Dodi, dokter keluarga yang merawat Milka. Menurutnya, Dino mempunyai kemungkinan untuk bisa mendonorkan ginjalnya. Tapi selalu ada resiko, selama operasi transplantasi bisa menyebabkan terjadinya komplikasi dan bagi penerima bisa saja tubuhnya menolak ginjal yang diberikan. Ia meminta keputusan ini perlu dipikirkan baik-baik.


"Tuhan, lindungi putra dan putriku." Ucapnya dalam doa. Doa seorang ibu dari putra yang sedang berjuang. Ia juga ingat bagaimana kegigihan Dino saat berlutut di depan Hendrik, suaminya ketika ia meminta kedua mata Milka di donorkan pada Naomi.


Saat itu tepat setelah Milka di nyatakan sudah meninggal membuat pukulan yang sangat besar bagi Hendrik dan Ratih. Mereka tak bisa lagi berkata-kata hanya duduk terdiam di sebuah bangku di rumah sakit.


"Pa.." Panggil Dino, mukanya lesu, kacau seperti ada sesuatu yang ia tutupi. Matanya bengkak dan keadaannya berantakan. Dino melangkah maju lalu tiba-tiba ia berlutut dan memohon kepada Hendrik.


"Dino, kamu kenapa?" Tanya Hendrik kaget melihat anaknya bersikap tak biasa.


"Pa... Maafin Dino pa. Pa, Naomi kecelakaan dan terancam buta. Aku mau agar Milka bisa mendonorkan matanya untuk Naomi." Ucapnya langsung mendapatkan pukulan dari Sang Ayah. Namun, Dino terus memohon dan bersujud di depan ayahnya. Setiap ia dipukul, ia bangkit lagi. Dia tahu, ini berat namun hanya ini caranya agar Naomi bisa melihat lagi.


"Pa, aku mohon. Aku akan lakuin apapun yang papa minta. Setidaknya ada sebagian dari Milka yang masih bisa kita lihat pa. Pa, aku mohon, aku gak mau melihat Naomi buta." Ucap Dino memohon di kaki Hendrik.


"Oke, dengan tiga syarat. Pertama, Kamu harus meninggalkan wanita itu dan ikut papa ke Inggris. Lupain gadis itu, jangan pernah temui dia. Pecat dia dari kantor." Ucap Hendrik. Mendengar Hendrik berkata seperti itu, Dino tertegun melihat nya, ia tidak percaya dengan syarat Hendrik. Itu sama saja dengan menghancurkan hidup Naomi. Namun ia terpaksa memenuhinya. "Selama papa setuju, aku akan memenuhi semuanya." Ucap Dino pasrah.


Sementara itu, Dino terus berjuang di meja operasi. Dalam mimpinya, Dino bertemu dengan Hendrik.


"Dino!" Panggil Hendrik dalam mimpi Dino.


"Pa.." Jawab Dino.


"Maafin papa.. Karena kamu harus membayar semuanya." Hendrik lalu menghilang dan suara detak jantung Dino melemah. Dokter terus berusaha dan doa terus di panjatkan.


"Dokter bagaimana keadaan mereka..." Tanya Ratih, setelah mendengar kata dokter mereka semua kaget. Ekspresi Ratih terpukul.


"Dino.." Ucapnya lalu menangis kejar, menggelengkan kepalanya.


Ma, aku dan Milka akan selalu mencintai mama. Mulai sekarang, aku, Milka dan Naomi akan selalu terhubung. Mama bantu aku tolong jaga Naomi ucapnya menarik selimut menutupi tubuhnya.


Di dalam buku harian Suaminya, Ratih menemukan satu lembar yang terlipat. Ia merasa jika lembar itu yang dibaca Dino. Halaman itu berisi pengakuan Hendrik tentang kecelakaan itu. Ternyata, di dalam kecelakaan orang tua Naomi juga ada Dino. Saat itu, Kedua orangtua Naomi, Nino, Hendrik dan Dino berada dalam satu peristiwa.