Never Forget

Never Forget
Domi



"Dino, aku mau menikah denganmu suatu saat nanti."


England, 11 tahun yang lalu.


"Dino! Maaf ya kamu jadi nunggu lama. Tadi aku ada kerja tugas bersama teman-teman." Dino memeluknya dengan hangat, "Ada yang bisa aku bantu?" Tanya Dino memeluk Naomi dalam peluknya, udara semakin dingin. Naomi paling gak tahan dengan dingin sehingga kadang ia bersin.


"Memangnya kamu bisa?" Ledek Naomi pada Dino. "Kamu bisanya cuman marah, dingin, jutek, dan ..." Naomi langsung berhenti dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia melihat ekspresi Dino berubah, lelaki itu melihatnya dengan ekspresi heran.


"Apa? dan apa?" Tanya Dino menyingkirkan tangan Naomi. "Kamu itu emang pelupa ya, dari SMP sampai SMA tugas Matematika kamu juga aku semua yang buat." Dino mengeklaim salah satu bukti bahwa dia bisa membantu Naomi.


"Ia deh kamu emang paling jago soal Matematika tapi disini aku mau usaha dengan kemampuan yang diriku punya, aku gak mau bergantung terus sama kamu Dino." Balas Naomi, mencubit pipi Dino dengan gemas.


"Naomiku udah dewasa! I Love you, Naomi." Ceplos Dino. "Apa" Naomi langsung tersentak. "Kamu bilang apa, I love you! Ayo ulangi lagi!" Cecer Naomi namun Dino menyangkal dan memilih kabur. "Dino! Jangan kabur..." Teriak Naomi langsung memeluknya dari belakang. Naomi mengunci Dino hingga ia sulit bergerak. Naomi terus meminta Dino mengulangi kalimat terakhirnya.


"Ok, tapi kamu lepasin aku dulu." pintanya tapi ini agar ia bisa kabur dari Naomi. Naomi kesal, "Dino!" ia kembali mengejar Dino. "Naomi, nanti malam aku jemput ya! Aku mau aja kamu nonton. Aku jemput jam tujuh." Dino melambaikan tangan pada Naomi sebelum ia masuk kelas. Setelah kepergian Dino, wajah Naomi mulai berubah. Ia terlihat cemas dan gelisah. Ia baru saja menerima pesan bahwa beasiswanya resmi di cabut. Ditambah lagi biaya hidupnya yang semakin menipis. Ia semakin sedih, mengetahui Oma Murni juga sakit di Indonesia.


Naomi terus memandang gedung kampusnya. Gedung yang menjadi impian Dino sejak dulu. Aku harus bertahan demi dia. Aku yakin semua akan berlalu, semangat Naomi.


Malam harinya, Dino sudah bersiap dengan baju kemeja biru dan celana coklat, Ia menunggu Naomi di depan dormnya. "Naomi kamu dimana?" Tanyanya.


"Aku sudah di jalan tunggu sebentar ya." Ucap Naomi. Ia berjalan semakin cepat.


"Nom, aku di depan dorm mu. Udah dari 20 menit yang lalu." Ia kembali bertanya dimana Naomi dan akhirnya ia melihat kekasihnya berada diujung gang sambil memegang ponselnya. Naomi terlihat begitu lelah, "Nom kamu pindah dorm?"


"Aku baru dari rumah teman, No." Balas Naomi menutupi kenyataan bahwa ia memang sudah pindah ke Dorm yang lebih jauh. Ia tidak mau membuat Dino susah jika ia tahu. "No, kita mau nonton film horror?"


"Iya, kamu suka film horror kan?" Balas Dino sambil memutar stir nya.


"Dino, kamu ngaco ya. Aku takut Dino. Aku gak mau mati muda, aku masih mau nikah." Naomi kesal Dino bahkan tidak tahu genre kesukaannya.


"Gak mungkin mati muda Naomi." Namun Naomi tetap saja kesal padanya. "Aku bisa jantungan, aku masih mau nikah dan punya anak." Balasnya lagi. "Iya, nanti sama aku kan." Dino kembali mengatakan kalimat yang spontan tapi membuat Naomi shock.


"Yaudah boleh, terserah kamu aja. Hari ini yang penting kamu Hepi. Happy Anniversary, Naomi." Dino lalu mengeluarkan sebuah kotak berisi sebuah kalung bintang. "Oh iya, happy anniversary, Dino."


"Kamu pasti lupa.." Dino tersenyum. Naomi memeluk Dino, "No. I love you. Aku akan terus berusaha menjadi lebih baik. Jangan tinggalin aku ya." Ucapnya, ia merasa takut dan cemas akan kehidupannya di Inggris. Ia takut berpisah dengan Dino.


Hari itu terasa begitu panjang bagi Naomi, ia terus gelisah hingga tidak bisa tidur. Ia terus bolak balik hingga membuat Dino terbangun dari tidurnya. "Dino, kamu udah tidur?" Naomi mencoleknya.


"Sudah, kamu kenapa gak bisa tidur?" Dino berbalik arah dan menatap Naomi yang terlihat gelisah. "Kenapa kamu gelisah?" Tiba-tiba, Bronson naik keatas tempat tidur. Ia adalah anjing yang diadopsi Dino, dan ayah dari Browny. Bronson, adalah anjing Golden Retrievers yang diselamatkan dan dirawatnya Dino ketika terluka di dekat dorm nya. Anjing itu sangat dekat dengan keduanya.


"Dino, aku mau menikah sama kamu." Ucap Naomi membuat Dino malu. Ia hanya tersenyum. "Aku mau punya dua anak, laki-laki dan perempuan. Anak pertama harus laki-laki.." Tambahnya dibantah oleh Dino, "Aku mau anak perempuan.." ucapnya.


"Kalau anaknya laki-laki, namanya..."


"Domi..." Celetuk Dino. "Udah jangan pikir terlalu jauh. Lulus kuliah dulu."


"Kenapa Domi?" Tanya Naomi memeluk Dino.


"Karena dia anak kita Naomi. Do dari Dino dan Mi, Naomi." Balas Dino lalu ia tertidur pulas.


Tuhan, aku berharap semua akan berlalu dan semoga aku memiliki anak laki-laki bernama Domi. Ucapnya dalam doanya, meskipun ia menghadapi masalah besar bersama Dino dia tidak akan goyah.


Kenangan itu terlalu indah bagiku. Kenangan itu adalah awal dari bagaimana nama Domi ku berikan kepada anak laki-lakiku. Nama itu dipilih langsung oleh Dino. Ketika mendengar namanya, aku bangkit dari kesedihanku. Aku selalu berharap Domi dengan nyata hadir dalam hidup kami. Aku sangat mencintainya, dia adalah harapanku. Aku mencintainya, Tuhan kembalikan dia padaku.


Naomi dengan lemas dan tak berdaya, ia tak hentinya berdoa untuk anaknya. Bahkan sampai siang ia tidak menemukan anaknya. "Apakah kamu sudah makan?" Pertanyaan itu terus muncul di benaknya.


"Aku harus menghubungi Dino. Dia pasti bisa bantu." Naomi berharap Dino adalah jalan terakhirnya.


"Dino..." Sebutnya.


"Domi hilang..." Ucapnya gemetar, air mata tak berhenti mengalir di kedua pipinya.