
Kami bertiga masih terdiam, aku dan Dino melihat kearah mama Ratih dengan seksama. Aku terdiam melihat dan tak bisa berkata satu katapun. Aku mengerakkan lengan Dino dengan bahuku. "Kita harus apa?" Tanyaku.
"Aku juga gak tahu, Naomi. Mama masih marah sama aku." Jawabnya semakin membuatku galau. Kalau mama bisa marah sama Dino apalagi denganku. Aku langsung membayangkan hal-hal aneh di otakku. Dalam bayanganku, mama Ratih berubah menjadi seperti seorang guru yang super galak dan aku muridnya. Ia menghukum ku dengan tugas bertumpuk di depanku. "Kamu berani melawan saya!" Ucapnya di hadapanku sambil menyilang tangan di dadanya. "Tidak." Jawabku merengek-rengek. Dia lalu tertawa dengan bangga.
Tidak! Aku kembali tersadar dengan menggelengkan kepalaku. Dino melihatku aneh, tidak! tidak! aku berteriak itu di depannya dengan mama Ratih. Naomi, berhenti berpikir hal negatif.
"Kamu kenapa?" Tanya Ratih pada menantunya. "Naomi..." Panggilnya. "Naomi.." Panggilnya lagi mengagetkan Naomi. Ia semakin tegang dan takut. Ia menggenggam tangan Dino dengan kuat.
"Nom..." Panggil Dino lembut, "Nom... Kamu kenapa, it's ok." Tanyanya menyadarkan Naomi.
"Ma ...." Jawab Naomi. Ia langsung berlutut di hadapan Ratih. Dino sempat kaget dengan tindakan Naomi. "Ma... Naomi tahu aku sudah salah, aku meninggalkan Dino. Membuat dia menderita, aku juga gak tahu diri. Ma, tolong berikan aku kesempatan. Aku akan menjadi istri yang baik untuk Dino dan ibu bagi anak-anakku. Aku mau mendampingi Dino." Pintanya berlutut di kaki Ratih.
"Biarkan mata Milka, bisa terus melihat orang yang di cintainya." Ucapnya lagi yang membuat Dino shock. Selama ini ia tidak pernah bercerita pada Naomi tentang pencangkokan mata itu. "Dan... Biarkan aku mendampingi Dino, orang yang telah memberikan kehidupan kedua bagiku."
Dino kaget mendengar perkataan itu, ia tidak menyangka Naomi sudah tahu tentang semuanya.
"Naomi ... selama ini kamu sudah tahu semuanya?"
"Naomi.. berdiri kamu. Saya gak mau istri anak saya berlutut seperti ini. Saya izinkan kamu disini karena anak dan cucu saya." Ucap Mama Ratih dengan angkuh. Ia terpaksa menerima Naomi, karena dirinya tak ingin kehilangan Dino.
"Terima kasih ma.." Jawab Naomi membuatnya lega. Setidaknya, ia bisa berusaha melunakkan hati Mama Ratih. "Ma, Naomi janji akan jadi istri dan menantu yang baik untuk mama." Janjinya sambil bangkit berdiri.
"Dino, aku berhasil.." Ucap Naomi memeluk Dino dengan erat. "Makasih kamu udah berkorban begitu banyak untuk ku. Aku tidak akan menyerah!"
"Nom, aku akan lakukan apapun untukmu." Jawabnya mendapatkan pelukan hangat lagi dari Naomi. "Kita masuk yuk, Domi dan Milka sudah menunggu." Ajak Dino, ia masuk duluan untuk berganti baju yang digunakan.
"Naomi... Ingat, sekali lagi kamu menyakiti anakku. Aku akan membuat kamu keluar dari rumah ini! Ingat! Jangan macam-macam kamu." Ancam Ratih pada Naomi.
"iya ma.." Jawab Naomi dengan percaya diri. "Aku tidak akan menyakiti Dino lagi."
Setelahnya, Ratih meninggalkan Naomi sendirian. Ia terpaksa menerima Naomi demi Dino, putranya dan cucunya. Ditambah lagi sekarang Dino tahu bahwa Naomi masih istri sah dari Dino. Mereka belum bercerai. Hal ini di karenakan Naomi berubah pikiran sehingga ia enggan untuk menandatangani surat gugatan cerai yang diberikan oleh Ratih. Demi untuk memisahkan keduanya ia membohongi Dino dengan mengatakan bahwa mereka berdua telah resmi berpisah.
Ia membuat surat palsu dan memberikannya pada Dino. Hal ini dia lakukan dengan bantuan dari Togaya, saudaranya Ratih. Ia memutuskan semua hubungan Dino dan Naomi. Ia juga yang menciptakan rumor jika Naomi dan Gilang sudah menikah, seakan-akan wanita itu memang sudah memulai hidupnya yang baru.
"Kenapa kamu harus kembali lagi ke dalam hidup anakku? Setelah semua usaha yang saya lakukan. Saya akan memastikan kamu keluar dari rumah ini Naomi." Ucap Ratih di depan foto Alm. Hendrik, suaminya.
"Ma, papa akan jaga Dino. Aku rindu kamu, Mas Hendrik."
"Ma... aku perlu bicara." Dino membuka pintu itu dan bertanya kepada ibunya.
"Ma ... kenapa mama berbohong soal perceraian itu?"