
"Auuu!!" Naomi berteriak setelah tidak sengaja ia terjatuh dari tangga. Sebenarnya, ia ingin membantu Ratih untuk turun tetapi ternyata tangga itu licin sehingga Naomi jatuh. "Nom, kamu kenapa? Bibi tolong panggil ambulance." Naomi terus mengerang kesakitan, sepertinya kakinya patah. Ratih tak bisa berbuat banyak, ia cemas melihat menantunya sementara dia masih duduk di kursi roda.
"Ma... Naomi, baik-baik aja." Naomi menenangkan Sang Ibu mertua.
Rasanya sakit sekali, aku tidak bisa mengangkat kakiku. Tapi aku tidak mungkin menunjukkannya pada mama. Ia terlihat sangat panik. Aku harus bisa tenang, sebentar lagi ambulance datang, semua akan baik-baik saja.
"Nom, ada lagi yang sakit?" Dino berlari dari depan pintu menuju kearah ku. Dia memelukku dan mengendongku masuk kedalam mobilnya. Katanya tidak perlu menunggu Ambulance jika sudah ada dia. Di mengendongku ke dalam mobil, memasangkan sabuk pengaman dan memastikan posisiku tidak akan menyakitiku lebih lagi. "Nom, kenapa kamu gak hati-hati?" Ucapnya sangat panik. Lucunya melihat dia sepanik itu. Aku benar-benar ingin memeluknya, dia menatapku dan menanyakan alasan diriku tertawa. "Rahasia..." lontarku dengan semudah itu.
"Nom, sama suami sendiri masih aja Rahasia. Yaudah yang penting kamu bahagia." Balasnya. Dia memintaku sabar menunggu sebentar lagi kami akan sampai. "Suster! Dokter!" Teriaknya. Ia memanggil semua isi rumah sakit keluar, "Dok, tolong istri saya." Ucapnya. Setiap dia bilang istri saya, rasanya berbunga-bunga. Ku lihat suster dan dokter juga tersenyum melihat suamiku yang panik sampai lebih cerewet dari pada Dokternya.
"Pak, sebaiknya tunggu di luar. Kami butuh ketenangan untuk menangani istri bapak." Ucap Dokter masih belum bisa menghentikan kepanikannya. "No, aku akan baik-baik saja."
Setelah melalui berbagai pemeriksaan ternyata Naomi harus melakukan operasi dan beristirahat selama beberapa hari. "Aku bakal temenin kamu terus disini. Kamu gak perlu kuatir. Kita coba pelan-pelan ya." Ucapnya lagi sambil merenggangkan tangannya kepada Naomi. Naomi sudah mulai malas berlatih padahal ini adalah hal yang wajib. "Nom, ayo.. kita coba lagi." Ia coba membujuk.
"Nom, aku baru mau ajak kamu staycation di Bali." Ucapnya langsung mengalihkan perhatian Wanita itu. "Kalau mau, ya harus latihan jalan. Nom, kamu ingat gak kenapa bisa jatuh?" Tanyanya sambil menemani Naomi berjalan. "Lantainya terlalu licin. Kalau bukan aku mama akan jatuh."
"Licin? Lantai licin? Kok bisa? Setelah bertahun-tahun baru sekarang ada lantai licin." Ucapnya tapi Naomi tak ingin Dino banyak berpikir soal ini. Bagi, Naomi ini hanya kecelakaan.
"Din, kamu hari ini akan temani aku seharian kan?" Tiba-tiba suasana berubah. Naomi meletakkan tangannya pada dada Dino. Tangan itu terus naik sampai kebagian belakang Dino. "Nom, kamu mau apa?"
"Jangan panik dong.. Kita cuman berdua aja... " Naomi semakin mendekatkan dirinya lalu menipu telinga Dino dengan lembut. Ia lalu berpindah ke bagian leher dan mengecupnya.
"Nom, ini masih siang..." Dino menahan Naomi. "Nom, kaki kamu masih sakitkan.." Dino menunjuk kaki Naomi. Naomi justru menantang Dino. "Kamu mau nyakitin aku lagi?" Tanyanya menantang. "Tapi Nom.. ini masih siang banget. Matahari masih keliatan itu. "Tinggal di tutup." Balasnya santai tapi Dino udah kehabisan akal. Dia mulai pusing Naomi yang terus mendesaknya.
"Ayoo ... tidur siang... aku cape..." keluh Naomi. "Din, aku gak bisa tidur kalau kamu terus kayak gini." Dia menunjuk jarak dari posisinya saat ini ke tempat tidur. Dino langsung malu sendiri, muka langsung merah, dalam hati ada sedikit lega tapi kalau Naomi tahu dia pasti lebih malu lagi. Naomi kalau udah menemukan titik untuk bisa menggoda Dino pasti dia jadi bulan-bulanan seharian.
"Dino, kenapa pipi kamu merah? Ayo kamu mikirin apa?" Naomi mulai menggodanya.
"Udah... Aku paham tapi bukan itu maksud aku." Mendengarnya Dino langsung salting dan tak sengaja menginjak kaki Naomi hingga dia berteriak kesakitan. "Dino! cepat antar aku ke tempat tidur." Dino lalu mengendong Naomi ke tempat tidur dan mencium dahinya. Tiba-tiba, Naomi memeluk lehernya dan mengecup bibir Dino.
"Nom, bukannya tadi kamu bilang..." Naomi mengecupnya lagi lebih dalam dan tak melepasnya. "Tapi, aku gak bilang kalau setelah sampai disini gak terjadi apa-apa.." Dino hanya menatapnya.
"Kamu jebak aku?"
"Aku cuman berusaha... Aku harus kreatif jadi istri kamu." Dino hanya tersenyum. "Tapi, aku gak mau terjebak lagi. Tunggu satu tahun lagi aku baru mau punya anak lagi." Jawab Dino ia melepaskan tangan Naomi dan menjawab panggilan ponselnya. Satu tahun! Kamu gak akan lepas dari aku.
Dia menarik Dino kedalam peluknya, "Jebakkan ku harus berhasil."
"Nom... masih siang Nom..."
Dino membuka matanya, Naomi memeluknya dengan erat. Mereka tidur di satu bantal yang sama. Dino menatap Naomi yang masih tidur dengan pulas. Cantiknya istriku ucapnya mengecup dahi sang istri.
Aku mau jujur sama kamu, hal yang paling aku sesali adalah putus sama kamu.
"Aku juga.." Naomi membuka matanya dan mencium Dino. "Padahal aku tahu, aku cinta banget sama kamu. Seharusnya aku kejar kamu. Bodohnya! Aku gak melakukan itu."
"Tapi sekarang kita bersama, Naomi Bratayudha." Ucap Dino. "Besok, jangan luka lagi ya. Belakangan ini kamu sering sekali terluka."
"Aku luka karena aku mau jadi menantu yang berbakti. Kalau gak mama kamu yang terluka."
"Aku mau keluargaku bahagia dan utuh." mereka kembali berpelukan.