Never Forget

Never Forget
Second Change For Naomi



Gelap yang berubah menjadi terang, sedikit demi sedikit Naomi membuka matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah lampu rumah sakit yang mengarah padanya. Ia merasakan sakit hampir di setiap tubuhnya dan juga pusing di kepalanya. Awalnya ia melihat sebuah bayangan yang blur namun lama kelamaan menjadi jelas.


"Hallo, Naomi." Panggil dokter sambil melambaikan tangannya di hadapan Naomi. Belum mendapat respond, dokter itu kembali bertanya, "Naomi, bagian mana yang masih terasa sakit?" Tanyanya lagi, keadaan Naomi belum sadar seratus persen karena ia masih dalam pengaruh efek obat tidur.


"Dokter" Ucapnya terbata-bata, "dimana saya?" lanjutnya sambil mengerakkan tangannya yang kaku. "Oma, kepala aku pusing sekali, perutku juga sakit banget." Keluhnya.


"Kamu ada di rumah sakit karena kecelakaan, semuanya baik-baik saja, istirahat yang cukup." Ucap Sang Dokter setelah memeriksa kondisinya.


"Oma, dimana Dino? Saat kecelakaan aku bersama dia?" Tanya Naomi pada Sang Oma.


"Dia sudah pergi dan tidak akan kembali!" Teriak Nino ketus setiap kali menyebut nama Dino. Naomi tak percaya dengan perkataannya, ia kembali mengkonfirmasi hal ini bersama Omanya. "Oma, apa benar Dino gak pernah datang saat aku di rumah sakit?"


"Iya." Jawab Oma Murni mematahkan hatinya. Ia hancur mendengar bertapa Dino tidak lagi melihat dirinya.


"Naomi karena kecelakaan itu menyebabkan ginjal mu bermasalah sehingga kamu harus mendapatkan transplantasi ginjal selain itu setengah rahim kamu diangkat." Ucap Nino membuat Naomi kaget, "Rahimku dioperasi? Apa aku masih bisa punya anak?" Tanya Naomi ia takut akan masa depannya jika ia tidak lagi bisa mengandung. "Kenapa kakak setuju, gimana kalau aku sulit punya anak?" Tanyanya lagi.


"Sebenarnya dokter punya cara lain tapi Dino memilih untuk mengangkat rahimmu, dia ingin menghancurkan hidupmu, semenjak itu dia tidak pernah datang ke sini lagi." Balas Nino membuat Oma Murni kaget dan tak habis pikir dengan alasan palsu yang dibuatnya. Tak terima, ia membohongi Naomi, Oma Murni segera bertindak namun kali ini Nino juga tidak tinggal diam. Dia mencegah Oma Murni untuk menghancurkan rencananya untuk menghancurkan hubungan Naomi dan Dino. Ia ingin membuat Naomi membenci Dino. Agar Dino bisa merasakan rasa sakit yang di alami lebih parah darinya.


"Apa? Dino menyetujuinya?" Naomi langsung menangis sambil mengusap perutnya. "Jahat kamu Dino! Aku benci kamu!"


"Naomi." Panggil Oma Murni mengusap bahunya. "Sebenarnya.." Tambahnya segera ditimpali oleh Nino.


"Oma, kita keluar dulu. Ada yang mau aku bicarakan" Ajaknya keluar ruangan, sementara Naomi tidak curiga, ia justru tenggelam dalam kesedihannya.


Oma Murni tidak ingin anak-anak menjadi korban karena ambisi balas dendam Nino pada keluarga Bratayudha. Ia berusaha mengingatkan Nino, ia akan mendapat balasan yang setimpal dan Naomi akan membencinya melebihi kebenciannya pada Dino. Ia mengingatkan Nino, seharusnya ia bersyukur ada yang mau menjaga dan mencintai Naomi sampai rela mengorbankan kebahagiaan dan keselamatannya. Ia juga mengingatkan Nino, bahwa apa yang dilakukan Dino untuk keselamatan Naomi. Ia juga menegaskan jika Naomi adalah adik kandung Nino.


"Aku gak peduli Oma! Aku gak sudi dia jadi adik iparku! Aku akan lakukan apapun untuk membuat mereka berpisah! Lagian, Naomi sudah mendapatkan donor dan sembuh." Balasnya berdebat dengan Oma Murni.


"Oma, Kak Nino." Sapa Gilang mencari muka di depan Kakak dan Oma Murni.


"Bagus kamu datang." Ia langsung menarik Gilang dan memperkenalkannya sebagai pendonor ginjal bagi Naomi.


"Naomi, dia adalah orang yang mendonorkan ginjalnya padamu." Ucapnya bangga menyebut nama Gilang, keduanya memanfaatkan kesempatan ini untuk bertidak egois karena ambisinya.


"Naomi, gimana kabar kamu? Apa ginjal yang aku berikan bisa diterima baik oleh tubuhmu?" Tanya Gilang yang dengan senang hati menyambut kebaikan Nino.


"Gilang, terima kasih. Kamu sudah memberikanku kesempatan kedua untuk hidup. Semua baik Gilang." Ucapnya berterima kasih pada Gilang.


"Naomi, aku akan selalu ada di sampingmu, kamu harus bisa memulai hidupmu yang baru." Ucap Gilang sambil memegang tangan Naomi.


Hanya aku yang bisa membahagiakanmu Naomi bukan Dino.


Mengapa selalu Gilang dan bukan kamu Dino?