
Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Mengapa ini sungguh berat? Bantu aku Tuhan untuk mencari cara terbaik agar bisa melalui ini semua dengan baik dan lancar.
"Naomi, aku berdoa agar kamu selalu dalam perlindungan Tuhan. Aku sayang sama kamu Naomi. Kamu adalah satu-satunya wanita yang aku cintai." Ucapnya dalam doa malam ini. Air mata tak henti mengalir dari kedua matanya. Ia bersujud dan memohon pada Sang Pencipta jalan terbaik baginya. Dia meminta agar wanita yang dicintainya selalu dalam keadaan baik-baik saja.
Tuhan, izinkan aku menjaga dan menyelamatkan istriku. Melalui cara apapun jadikanlah aku peka terhadap jawaban yang kau berikan. Lindungi Naomi Tuhan, jagalah dia.
"Dino, apa mama bisa masuk?" Ratih mengetuk pintu kamar Dino. Ia menunggu jawaban Dino atas permintaannya.
"Ma, gimana kalau kita berjalan keluar mencari udara segar." Ajak Dino, matanya sudah bengkak dengan air mata. Ia ingin sekali bercerita sambil berbicara dengan Ratih ibunya, semenjak ayah meninggal hanya dia yang Dino punya.
"Ma, hidup ini memanglah seperti roda berputar. Dulu Milka kehilangan Adiknya, Miko saat baru lahir. Aku kehilangan Milka, anakku dan kini Naomi. Aku merasakan apa yang mama rasakan." Ucapnya sambil berjalan melewati jalan setapak menuju sebuah taman yang dikelilingi oleh taman strawberry.
"Taman ini aku rancang untuk Naomi. Naomi sangat suka strawberry tapi aku paling alergi sama buah ini. Setiap malam kami selalu berbincang disini sambil melihat bintang. Pagi hari dia akan berkeliling sambil memetik strawberry kesukaannya. Aku rindu dia ma, aku takut dia tidak akan kembali kesini." Dino menitihkan air matanya, ia menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. Ia tak sanggup, tak bisa menjadi lelaki kuat untuk saat ini. Semua terlalu berat dan cepat.
"Dino, mama mengerti posisimu, Nak. Seharusnya sejak awal kami jujur kepadamu. Seharusnya sejak awal kami tidak menutupi rahasia ini. Apa yang papamu buat, dia tetap orangtuamu."
"Ma, Dino gak pernah menyalahkan mama dan papa. Aku sadar selama ini kalian mencoba melindungi aku dari rasa sakit ini." Dino lalu merebahkan dirinya di pundak sang ibu. "Ma, aku sangat mencintai kalian, mama dan papa. Tidak ada pernah ada penyesalan dalam diriku terlahir sebagai Dino Bratayudha." Ia mengeratkan genggaman tangan untuk ibunya.
"Nak, mencintai tak harus memiliki. Lindungi dia dengan cara terbaik yang bisa kamu lakukan. Sesuatu yang sudah hilang tidak akan bisa kembali lagi. Mama merestui kamu, Nak." Dia memeluk Dino dan menepuk pundaknya. "Asal kembalilah dengan selamat."
"Mama percaya, Nak. Takdir tidak akan pernah bisa dipisahkan." Tambahnya menguatkan Dino. Ini adalah masa paling sulit dalam hidup putranya.
Aku berharap Takdir itu memang tidak akan pernah bisa memisahkan kami. Kami saling mencintai dan mengasihi. Oleh karena itu, aku akan melindunginya dengan cara apapun.
"Naomi!" Sebut Dino berkali-kali diiringi tangisannya, ia mengunci kedua kakinya dengan kedua tangannya. "Seharusnya aku lebih hati-hati, aku selalu peduli sama kamu, Naomi. Selalu! Selalu!" Ucapnya menangis semakin dalam.
"Dino!" Panggil Adam yang berjalan mendekatinya. "Lo harus istirahat, dua hari lagi Lo bakal di operasi." Adam memintanya untuk menjaga kondisi tubuhnya. Adam tahu ini pilihan tersulit, apalagi setelah melihat bertapa hancurnya Dino saat menandatangani surat itu.
"Please! kasih aku waktu sendiri, feeling ku setelah bangun nanti akan sulit bagiku menemuinya. Aku rasa ini benar." Dino takut menerima jika perasaan ini menjadi nyata. a "Aku tahu, aku harus menghadapinya, tapi aku gak sanggup, Dam. Nino terlalu membenciku." Ucapnya lagi sambil terus mengalirkan air mata dari kedua ujung matanya. "Aku tahu, aku salah, keluargaku salah, aku akan membayarnya. Tapi kenapa menghukum ku seberat ini? Kenapa, Dam. Apa gak ada kesempatan bagiku untuk membayarnya tanpa perpisahan?" Tanya Dino menatap Adam yang juga tidak memiliki jawaban untuk sahabatnya itu.
"Dam, bantu aku. Aku ingin menemui Naomi." Dino bangkit dan berjalan menuju Ruangan Naomi. Ia membuka pintu kayu sliding, berjalan pelan-pelan sambil memeriksa apakah ada orang di sana. Melihat tak ada orang yang berjaga, ia merasa lega, ia bisa bersama dengan Naomi tidak hanya melihatnya dari kejauhan. perlahan ia duduk di bangku di samping Naomi. Naomi masih tertidur dengan lelap, mukanya terlihat seperti malaikat dalam tidurnya.
"Nom, aku yakin kamu bisa mendengar aku. Nom, aku berjanji untuk melindungi kamu. Aku gak biarkan kamu menderita lebih lama lagi. Dua hari lagi, kita akan menjalankan operasi transplantasi, kamu akan hidup dengan Normal." Pesannya, sambil mengelus kepala Naomi dan mengecupnya. Keduanya menangis ketika mengucapkan selamat tinggal. Dino ingat betul lambaian tangan Naomi ketika ia hendak berangkat ke Inggris untuk melanjutkan kuliah.
"Dino! Aku akan menunggumu pulang. Aku gak akan menyerah! Seperti kata kamu, selama ada tekad dan keberanian kita pasti bisa Dino. Maju terus!" Teriak Naomi di bandara ketika mengantar Dino pergi untuk kuliah. Dino tersenyum bahagia melihatnya.
Setahun kemudian ketika Summer.
"Dino!" Teriak Naomi, ia baru tiba di Inggris sebagai mahasiswa baru di kelas seni. Naomi berlari memeluk Dino yang sedari tadi sudah menunggu kedatangannya. "Akhirnya Dino! Aku bisa nyusul kamu! Kita akan bersama selamanya."
I will always love you! aku sanggup melakukan apapun asal kamu baik-baik saja.
Naomi, ini lucu tapi aku sadar kamu selalu ada di moment terbaik dalam hidupku selama ini, mulai dari sekolah SMP, SMA, lulus kuliah, pertama kali aku dapat kerja, kamu rela menjadi seorang sekretaris demi aku. I need you, Naomi. Need You! Dino berusaha menghapus air matanya, "Nomi biarin aku berada sedekat ini." Ia merebahkan kepalanya di samping Naomi, sejajar dengan kepalanya. "Milka, tetaplah memberi kebahagiaan untuk Naomi melalui kedua mata indah itu."
Andai aku bisa, aku ingin hentikan waktu saat ini, kembali saat dulu, aku tak akan membuang waktu kita selama ini.