Never Forget

Never Forget
I'm strong!



Suara desiran pantai, memanjakan telingaku. Aku termanjakan dengan pemandangan indah lautan di depanku. Ditambah lagi, Dino yang berdiri di depanku, menatapku dan tersenyum padaku. Aku duduk di sebelahnya sambil memegang sepiring makanan khas pantai yang lengkap dengan sambal matah.


"Makan yang banyak, Nom. Supaya bisa angkut barang di depan." Ucapnya meledekku.


"Dino, stop! Jangan terus meledekku." Balasku sedikit kesal.


"Sini, biar ibu yang bereskan. Kalian berdua nikmati pemandangan pantai. Ayo! Kalian jangan membantah." Ucap Ibu Dini memaksaku untuk berjalan-jalan santai dengan Dino.


"Ayo, Naomi. Kita jalan-jalan santai di pinggir pantai." Ajak Dino mengandeng tanganku. Kami berjalan sambil bermain air di pinggir pantai. Dino mengejar ku dan memelukku. Aku merasa dunia ini hanya milik kami berdua. Aku merasakan kebahagian yang sempat hilang dariku.


"Aku akan memperjuangkan Dino. Dino Bratayudha adalah milikku! Miliknya Naomi." Teriakku sambil menggenggam tangan Dino erat. Dia tersenyum melihatku, "Aku tunggu perjuanganmu."


Aku kembali bersemangat, takkan ku sia-siakan hidup ini. Takkan ku sia-siakan kesempatan kedua yang Tuhan berikan padaku. Aku memeluknya dengan erat, "I love you, Naomi." Ucapnya di telingaku. Aku menciumnya, dan ia memelukku erat membalas ciumanku dengan bibirnya yang lembut.


Aku memutuskan untuk berjuang sekali lagi, aku ingin mempertahankan keluargaku. Pepatah memang benar, "Jangan sampai salah dua kali."


Tidak baik bagiku untuk selalu lari dari masalah, tak baik selalu menganggap diriku paling benar. Selalu, menganggap diriku benar membuatku terjebak dalam diriku. Aku tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Aku pernah memilih untuk terjebak dal masa laluku, masa yang tak akan membuat hidupku bahagia. Aku meninggalkan masa bahagiaku untuk masa kelamku. Kini, aku bukanlah Naomi yang dulu selalu lari tapi menjadi seseorang yang menghadapi permasalahan.


"Kenapa kamu liatin aku terus seperti itu?" Tanyanya padaku. "Suamiku tambah ganteng aja." Balasku padanya.


Dia tersenyum, "Ternyata, Naomi tambah hebat gombalnya." Ia mencubit hidungku. "Mulai hari ini, kita tinggal di rumah keluargaku." Ucapnya membuatku shock. Bukankah artinya Aku akan tinggal bersama dengan Mama Ratih. Secepat inikah aku harus turun ke Medan perang.


"Kenapa? Kok diam aja? Tadi katanya mau berjuang. Aku perlu kamu berjuang untuk restu mamaku. Kamu pasti bisa." Ucapnya mencium tanganku.


"Iya... Dino. Aku siap.." Balas Naomi.


Aku lebih banyak terdiam selama di perjalanan. Aku terus memikirkan cara apa yang harus aku lakukan untuk menemui mertuaku itu. Apakah aku harus menjadi menantu yang patuh akan semua omongan dari mertuaku atau aku harus menjadi menantu yang selalu berada di dapur dan mahir memasak?


Aku berpikir keras hampir membuat mind mapping di kepalaku. Ditambah lagi, sikap Mama Ratih padaku ketika di Swalayan. Aku berasa akan segera masuk ke kadang Singa yang sedang menjaga anaknya. Aku mulai terbayang kira-kira apa yang akan dilakukan Mama ketika mengetahui aku akan tinggal dirumahnya. "Aku gak sudiiiiiii!" Teriaknya di depan wajahku.


"Tidak!" Teriakku mengagetkan Dino yang sedang menyetir.


"Dino, kenapa kita berhenti disini?" Tanyaku padanya.


"Kita harus mengurus surat-surat Domi. Aku akan memasukkan namanya dalam kartu keluargaku." Ucapnya singkat, namun inilah yang ku tunggu selama ini. Dino mengajakku turun dan mengurus semuanya bersama. Dia sangat mahir dalam hal-hal seperti ini. Ia bahkan sudah mempersiapkan surat- surat yang dibutuhkan, "Terima kasih, Dino. Kamu sudah mau menerima Domi." Ceplos ku. Dia hanya diam tapi aku yakin, dia juga bahagia.


Setelah selesai mengurus segala keperluan Domi. Kami kembali melanjutkan perjalanan, menuju rumah keluarganya. Di pintu depan rumahnya, Domi dan Milka sudah menunggu kedatangan kami.


"Hello, anak-anak papa. Domi, Milka, Did you have sleep well last night?" Tanyanya pada kedua anaknya. "Yes! Papa.." Balas Naomi dengan semangat. Mereka langsung memeluk Dino dengan erat. Milka langsung memeluk Naomi ketika ia melihatnya. "Mama, I miss you.. Did you have sleep well last night? "


"Yes! Milka... I have a good sleep."


Kalau di lihat, Milka ini sangat mirip dengan Naomi. Milka adalah Naomi versi kecil semangatnya dan keinginan yang kuat di miliki oleh kedua orang ini. Sementara, Domi lebih kalem dan pendiam seperti Dino. Mereka saling melengkapi satu sama lain.


"Sayang mulai hari ini kita semua akan tinggal di sini. Milka, Domi, Mama, Papa, dan Oma. Gimana kalian senang?" Tanyanya.


"Senang Papa ..." Teriak mereka, aku hanya bisa tersenyum sambil mempersiapkan diriku untuk masuk ke Medan perang ini. Aku harus menang.


"Mama..." Panggil Dino. Kata-kata ini membuat semua buluku berdiri. Darahku mengalir dengan cepat, bibirku kelu dan semua badanku dingin.


Ratih menuruni anak tangga, berjalan menghampiriku. "Apa yang kamu lakukan disini?" Tanyanya menodong ku. Aku hanya bisa tersenyum, sambil mencolek Dino untuk membantuku.


"Ma... Kami akan tinggal disini mulai hari ini. Kita akan berkumpul lagi. Aku akan memindahkan Milka untuk satu sekolah dengan Domi. Aku rasa, lokasi ini jauh lebih dekat ke sekolah mereka dibandingkan dengan kondominium." Jelasnya dengan santai.


"Semoga kamu bisa akur ya dengan mama." Bisiknya. Aku langsung mencubitnya. "Dino!"


"Auuuu! Sakit Naomi." Dino mengeluh padaku. Aku tersenyum di depan mama dengan tegang. Aku mulai melangkah mengikuti langkah Dino.


"Tunggu, kalian boleh tinggal disini kecuali Naomi." Ucap Ratih menghentikan langkah Naomi.


"Mama ..."