
Adam meninggalkan Dino setelah ia meminta sahabatnya itu membantu dia. Ia tahu, Adam tidak akan pernah melakukan hal itu. Ia yakin karena sahabatnya tidak akan pernah meninggalkan dia seperti itu. Dino juga sadar, ia tidak bisa memaksa Adam untuk melakukan apapun yang tidak diinginkannya. Ia harus melakukannya sendiri.
"Ma, sebaiknya malam ini. Mama tidur di rumah. Dino udah baik-baik saja." Ucapnya, namun Ratih menolak, ia ingin terus menemani sang anak.
"Mama tidur disini saja." Ucapnya lalu merapikan tempat tidur Dino dan sofa untuk dirinya beristirahat.
Kalau mama disini, bagaimana aku bisa menemui Naomi. Mama pasti akan menghalangiku juga seperti Adam. Ia terus menunggu sampai Ratih tertidur dan akhirnya dia keluar. Setiap Siang Ratih pasti istirahat, ini saat yang tepat baginya untuk keluar.
"Ma, mama aku mau minum ma.." Panggil Dino sekali. Selang berapa lama, dia kembali memanggil, "Ma... Ma... Aku mau ke kamar mandi ya.." Ucapnya lagi. Ia yakin mamanya sudah tidur terlelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk pergi diam-diam sambil menahan rasa sakit di bagian bawahnya. Pelan-pelan ia mulai berjalan, sedikit demi sedikit sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Ia sadar ini adalah lorong khusus pasien VVIP yang tidak sembarang orang bisa mengaksesnya. Bagaimana caranya ia bisa keluar, jika ia tidak memiliki kunci akses untuk melewati pintu masuk lantai ini.
Namun ia ingat jika kartu Adam tertinggal di ruangannya. Ia yakin kartu itu pasti punya akses keluar masuk pintu lantai ini. Dengan sangat hati-hati dia melihat situasi untuk keluar. Saat keadaan kosong dan lengah, ia akhirnya mencoba keluar dengan kunci akses itu dan berhasil.
"Akhirnya!" Lega rasanya bisa melawati pintu ucapnya. Ia berharap agar ia bisa segera bertemu dengan Naomi. Ia pergi ke lantai Naomi dan bertanya pada suster di sana. Where is Naomi?
"Dia dikamar 507, tempat tidur pertama." Ucap Suster di sana.
"Terima kasih." Ia lalu pergi mencari ruangan itu dan menemukan wanita yang di cintainya sedang tertidur dengan pulas. Bertapa bahagianya Dino, hatinya lega. Naomi sudah sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasanya, dia gak lagi merasakan kesakitan.
"Naomi, aku akan mengajakmu pulang." Ucapnya hendak membuka pintu kamar itu, tapi terdengar suara yang tak asing baginya bukan Nino atau yang lain tapi Gilang, suara beratnya yang tak pernah bisa ia lupakan. Lelaki itu memanggil Naomi sehingga ia terbangun. Lelaki itu mengelus rambutnya dan menanyakan bagaimana kabarnya hari ini. Apa semua sudah lebih nyaman tanyanya pada Naomi.
Naomi tersenyum mendengarnya tapi tidak dengan Dino, ia tidak akan pernah bahagia mendengar suaranya. Apa yang dia lakukan disini? Untuk apa dia bersama Naomi? Kenapa bisa dia ada di ruangan ini?
Dino selalu bertanya-tanya, semua lalu menjadi semakin menyakitkan ketika keluarga Naomi datang. Dino akhirnya bersembunyi dan keluar lagi untuk menguping pembicaraan mereka. Ia heran mengapa Gilang bisa hadir disitu, bukankah seharusnya dia ada Di Amerika. Jelas-jelas, dia menerima uang dari Hendrik papanya agar dia bisa hidup layak di Amerika.
"Naomi, kata dokter lusa kamu sudah boleh pulang." Ucap Nino membuat hati semua orang lebih lega terutama Dino yang turut berbahagia.
"Kamu harus banyak istirahat setelah operasi transplantasi ginjal ini." Tambahnya.
"Gilang, kamu gimana? Kondisimu sudah baik-baik saja?" Tanya Naomi pada Gilang. Ia kuatir bagaimana pun yang dia tahu Gilang adalah pendonornya.
"Operasi, Gilang juga dioperasi? Operasi apa." Tanya Dino dalam hatinya.
"Naomi, Gilang ada pendonor Ginjal mu, kamu harus berterima kasih padanya." Ucap Nino membuat Dino kaget.
Nino mengatakan bahwa Gilang adalah pendonornya?
Tiba-tiba, ia merasakan nyilu di bagian bawahnya. Sambil memegang bagian yang sakit ia ingin memperjelas semua namun Adam melarangnya.
"Cukup, Dino. Inilah alasan kenapa aku gak pernah menginginkanmu bertemu dengan Naomi." Ucap Adam. Hal ini sangat berat dan menghancurkan hati Dino. "Dam, itu aku bukan Gilang." Balasnya sambil menahan sakit di bekas operasinya.
"Dino Lo sendiri yang tanda tangan. Gimana kalau Nino benar-benar membawa Naomi. Gimana kalau Lo kenapa-kenapa? Lo belum puli benar, Lo diposisi yang lemah Dino."
"Gw gak peduli!"
"Gimana Tante Ratih? Dia berdoa tiap hari demi Lo. Lo baru selesai operasi. Mereka sehat, Lo gimana? Kalau Lo mau bertaruh, Lo dulu yang harus kuat dan sehat." Ucap Adam.
Dino hanya bisa menangis, hatinya pedih dan sakit mendapatkan perlakuan seperti ini. Namun yang lebih menakutkan adalah kehilangan Naomi.
Naomi itu aku, aku Nomi.... Ia hanya bisa mendengar Naomi dari luar dengan hati yang pedih.
"Gilang makasih untuk semua pengorbanan mu." Ucap Naomi padanya.
Dino kembali ke kamarnya sambil menahan air matanya. "Dino! Kamu dari mana? Mama kuatir kamu pergi!" Tegur Ratih.
"Ma... Aku mau istirahat." Dia langsung berbaring tanpa mengatakan apapun pada Ratih. Diam-diam, terdengar suara Isak tangis dari Dino.
"No, kamu harus sabar.." Peluk Ratih dan Dino langsung menangis kejar dalam pelukannya.
"Ma, apa salah aku yang gak bisa dimaafkan? Kenapa aku harus kehilangan Naomi. Aku cinta banget sama dia ma.." Tanya Dino tak hentinya menangis.