
Setelah menginjakkan kaki di Indonesia, Dino segera mengurus segala hal terkait pekerjaannya. Ia akhirnya kembali lagi menginjakkan kaki di perusahaan yang dibangunnya bersama Alvin.
"Alvin!" Sapa Dino setelah ia keluar dari mobil. Di depan gedung Alvin dan para direksi sudah menunggunya. "Apa kabar?" Tanyanya lagi.
"Dino!" Panggil Alvin sambil memeluknya. Ia sangat merindukan sahabatnya. "Lo, kacau! meninggalkan perusahaan begitu saja." Dia lalu memukulnya di dadanya. "Auuu!" Ucap Dino. Ia tahu Alvin marah padanya, bahkan sahabatnya itu tidak mau mengangkat teleponnya selama seminggu ini.
"I'm back. Alvin!" Balasnya. Senyum Dino masih menjadi dikagumi para karyawan baik itu lama atau baru. Cerita soal Dino yang sukses sudah tersebar hampir ke seluruh departemen. "Alvin! apakah Naomi masih bekerja di sini?" Tanya Dino ketika mereka hanya berdua saja.
"Your Coffee! Dia resign empat bulan setelah kamu pindah ke San Fransisco, dia memutuskan untuk pulang ke Bogor. Dia mau hidup di sana bersama anak panti."
Dino cukup terkejut mendengarnya, namun dengan santai ia menikmati Coffee nya. "Pulang ke Bogor? Tinggal bersama anak panti?" Ia mulai penasaran. Apa pekerjaan Naomi? Selama ini, dia berpikir Naomi masih bekerja bersama Alvin. Jika, ia harus menanggung kehidupan seluruh anak panti, pasti dia sangat kesusahan.
"Baguslah... Oh ia, aku tunggu berkas-berkas project yang harus aku tangani sekarang. Aku balik ke ruangan aku." Ucap Dino mengakhiri pembicaraannya dengan Alvin. Dia juga mengajak Alvin datang kerumahnya bersama Adam dan keluarganya. Ia mengadakan pesta kecil-kecilan untuk kepulangannya.
Sementara di ruangannya, Dino selalu memandangi ponsel lamanya. Ia masih ragu apakah mau mengaktifkan atau menonaktifkan ponsel itu selamanya. Di ponsel itu adalah barang satu-satunya yang tersisa dari hubungannya dengan Naomi.
"Alvin, aku mau pergi ke suatu tempat. Meeting siang ini kita undur besok ya." Pinta Dino terburu-buru. Ia mengendarai mobilnya menyusuri jalanan menuju suatu tempat pemakaman yang bersusun seperti terasering. Disitu tempat Ayahnya dan juga Milka adiknya. Lokasi keduanya ditempatkan bersebelahan. Di depan batu nisa terdapat kedua foto mereka berdua. Ia mengambil bouquet Bungan Mawar Pink dan Lily kesukaan Milka. Ia lalu mengenakan jaket Overcoat Navy miliknya. Anginnya cukup kencang. Ia tidak melepaskan kaca mata reyban saat berjalan memasuki area pemakaman. Sambil mencoleh ke kanan dan kiri, ia mulai mendekat ke arah tangga utama.
"Sudah lama Milka, Pa. Maaf, aku baru datang kesini." Ia terus melangkah menaiki tangga dan tak sengaja berpapasan dengan seorang anak laki-laki. Anak itu sangat lincah dan tampan. Tak sengaja ia terjatuh di tangga terakhir.
"Hi Boy, kamu gak papa?" Dino membantu anak itu berdiri. Ia juga membersihkan sisa tanah yang menempel di lutut anak itu. "Sebentar om ambilkan obat dulu." Dino berlari ke mobilnya dan mengambil kotak P3K. Namun saat berbalik anak itu sudah tidak ada. Padahal lututnya terluka, "Mungkin sudah dibawa ibunya." Ia lalu mengembalikan kotak itu dan pergi ke tempat Milka dan Ayahnya.
"Pa, Milka. Dino datang, sudah lama kita gak berjumpa. Banyak yang berubah, mama sekarang sudah menjalankan toko kue di San Fransisco. Aku juga berhasil mengembangkan perusahaan kita. Pa, Dino kangen sama papa. Sekarang, papa sudah punya cucu, Milka namanya. Aku akan bawa dia ke sini di lain kesempatan." Setelah berbicara dengan ayahnya. Ia bergeser ke makam Sang Adik, ia manaruh bunga yang dibelinya di tempat khusus untuk menaruh bunga. Ia sangat tampan dengan baju kemeja putih yang dibalut Overcoat Navy, celana hitam dan juga sepetu boot coklat. Terlihat gagah.
Tiba-tiba terdengar suara orang menubruk pot tanaman terdengar, "Naomi!" Tebak Dino. Ia kemudian berlari ke asal suara itu namun tidak menemukan apapun di sana. Ia hanya menemukan salah satu pot tanaman yang hancur.
"Apa, Dino sudah memiliki anak? Apakah ia sudah menikah? Lalu bagaimana nasib Domi, anakku." Ucap Naomi sambil mengandeng tangan seorang anak laki-laki. Anak yang bertemu dengan Dino tadi.
"Ma, om tadi. Apakah dia papa Domi?" Tanya Domi. "Kenapa mama pergi? Ayo kita temui papa? Domi mau ketemu papa." Pintanya merengek.
"Nak, Belum saatnya. Papamu sibuk, Nak." Ia tak kuasa melihat anaknya yang selama ini merindukan Sang Ayah. Selama 6 tahun, dia menunggu Dino. Namun, ia datang dengan keluarga barunya. Naomi memeluk Domi dengan erat. Nak! Papamu sudah punya keluarga baru. Ia sudah melupakan kita.
"Apakah tadi Naomi? Tapi dia gak mungkin datang ke sini. Dia udah punya keluarga yang baru bersama Gilang." Ucap Dino dalam hati lalu mengendarai mobilnya meninggalkan lokasi itu.
"Dino..." Panggil Naomi dalam hatinya. Ia melihat mobil Dino pergi meninggalkan lokasi mereka saat ini.
6 tahun yang lalu,
Naomi memulai hidupnya yang baru tanpa Dino. Ia mencoba bertahan sambil terus mencari keberadaan Dino. Tiba-tiba, ia merasa mual dan tak sadarkan diri. Setelah sadar, ia berada di rumah sakit.
"Selamat ibu, usia kandungan ibu memasuki usia 3 bulan. Ini masa-masa yang rentan. Besok saat pemeriksaan bisa datang bersama dengan suaminya." Dokter itu memberikan hasil tes Naomi. Tertulis positif.
"Nak, terima kasih sudah datang dalam hidup mama. Papa kamu pasti senang." Naomi sangat bahagia. Ia buru-buru menghubungi Dino namun tak tersambung. Dino sudah menonaktifkan nomor tersebut.