
Hujan semakin besar, sementara Dino tak tahu kemana Naomi pergi. Ia pergi ke mall dekat rumahnya dan tak menemukannya di sana. Ia pergi ke beberapa tempat yang sering di datangi Naomi namun hasilnya nihil. Ia pergi ke studio ballet milik Naomi, namun bangunan itu kosong dan tak terawat. Orang di sekitar tempat itu memberitahunya jika studio itu sudah lama tutup.
Naomi kamu dimana?
Dino mencoba segala cara untuk menemukan Naomi. Naomi akhirnya mengirimkan 3 pesan voice note kepada Dino yang dikirim selang waktu 2 menit dari pesan sebelumnya. Dino mencoba menghubungi Naomi tapi tidak diangkat. Ia semakin takut jika Naomi melakukan sesuatu yang berbahaya untuk dirinya atau bertemu dengan orang jahat. Hari sudah semakin malam.
Dino mendengarkan pesan voice note yang pertama, "Dino" sebut Naomi dalam voice note nya. "Aku gak tahu harus mulai dari mana, malam ini aku kembali teringat pertemuan pertama kita dulu. Kamu dengan gagah mendorong orang-orang yang menghinaku saat itu. Saat aku tahu, kamu pindah ke Jakarta. Aku memohon kepada Oma untuk bisa bersekolah di Jakarta."
Naomi menceritakan bagaimana ia bisa ke Jakarta. Seorang anak kampung yang gak tahu kehidupan kota besar. Sambil menitihkan air mata, "Awalnya aku takut mendekatimu. Kamu adalah pangeran di sekolah semua mengidolakan mu. Semua berharap menjadi kekasihmu. Semua menginginkanmu. Aku semakin tidak percaya diri." Naomi mengakhiri ceritanya lalu mengirimkan voice note itu. Ia mengusap air matanya. Ia menyadari bertapa egoisnya dia sebagai seorang wanita. Ia tak pernah benar-benar memahami Dino. Ucapan Ratih menyadarkan dia. Selama ini, bukan hanya dia yang berusaha tapi juga Dino.
Ratih mendorong Naomi ketika ia bersikeras ingin mempertahankan Milka dan Domi. Ia tidak memperdulikan luka di tangannya dan kakinya.
Mama mereka anak saya. Saya mohon jangan ambil mereka. Ratih lalu menggenggam tangan Naomi lalu berkata, "Itu juga yang saya mau. Saya mau Dino baik-baik saja dan bahagia. kamu adalah penderitaan terbesar untuk Dino." Naomi langsung terdiam menatap Ratih perlahan ia mulai melepas dirinya dan membiarkan Supir dan Samantha membawa mereka ke mobil.
Saya juga seorang ibu Naomi, Saya juga ingin yang terbaik untuk anak saya. Setelah apa yang di lakukan Dino, kesakitan, air mata dan pengorbanan yang dia lakukan untuk kamu. Saya rasa Hendrik, Alm. Suami saya benar! Kamu adalah penderitaan terbesar Dino.
Saya menyesal membela kamu Naomi!
Naomi langsung berlutut dan memohon ampun. Sudah cukup bagi Ratih menerima kata maaf dari Naomi yang tak sebanding dengan perasaan anaknya. Ia menghempaskan Naomi dari kakinya. Ia menyuruh Naomi untuk jangan muncul di hadapan Dino. Tidak! Ucap Naomi semakin membuat Ratih marah. Ia berkata ingin mempertahankan keluarganya, mempertahankan Dino, suaminya.
Kamu Naomi dasar wanita tidak tahu diri, kamu wanita paling jahat. Kenapa baru sekarang, Dimana kamu? Saat Dino memperjuangkan keluarganya. Lupa kamu yang meminta perceraian itu. Kamu pergi meninggalkan anak saya begitu saja di saat dia sangat membutuhkan kamu, berjuang untuk kamu. Kamu tahu dia mengorbankan segalanya termasuk hubungannya dengan papanya. Setelah dia putus sama kamu dan mau menerima Tessa wanita pilihan kami. Kamu kembali datang dan membuat dia memilih kamu. Dia selalu membela kamu, menerima kamu, mensupport kamu tapi ketika Nino datang kalian berdua justru malah membuat Dino semakin menderita. Naomi berapa banyak lagi rasa sakit yang kamu berikan pada anakku. Aku melihat dengan kepalaku sendiri bertapa menderitanya Dino, ia menjadi lelaki dengan hati yang dingin terhadap wanita. Dino adalah laki-laki yang hangat tapi itu semua berubah semenjak kejadian itu.
Naomi tak bisa berhenti menangis sambil menatap layar ponselnya. Hujan semakin deras ia berteduh di bawah sebuah gubuk kayu di pinggir pantai. Ia menahan dingin malam itu, ingin menghukum dirinya sendiri.
"Aku tidak pandai bergaul dan menjadi bahan hinaan orang-orang karena bekas luka itu. Sampai akhirnya dengan berani aku menantang Sheila adiknya Reihan kalau aku bisa mendapatkan kamu. Aku ingin membuktikan aku bukan anak lemah dan cengeng. Akhirnya aku mendekatimu dan selalu membuntuti mu. Aku menjadikanmu barang taruhan." Lanjutnya di pesan selanjutnya.
"Aku tidak bermaksud hanya namamu di kepalaku. Semakin hari setelah kita jadian, aku sadar kamu akan semakin bersinar dan aku mulai takut kehilanganmu. Aku takut jika tidak bersamamu, tidak disamping mu, aku akan kehilanganmu jadi aku berusaha untuk selalu bisa bersamamu."
"Aku selalu menganggap diriku yang paling banyak berkorban, aku sangat salah kamu juga berkorban. Aku secara tidak langsung membuat diriku menjadi orang lain dan membawa orang lain masuk dalam hubungan kita. Aku yang menjadi awal hancurnya hubungan kita. Aku menyalahkan mu, karena sikap dingin mu, lari kepada orang lain tapi kamu tidak pernah lari. Aku selalu menghindari masalah kita dan tidak mau menghadapinya."
"Bahkan disaat Kakak Nino datang aku malah bersikap bodoh dengan memilih untuk mempermasalahkan masa lalu. Padahal, kamu sudah membuktikan kamu mencintai aku dengan setulus hati. Kamu menerima aku dengan tulus. Aku malah menyodorkan perceraian kepada kamu." Ucapnya lagi lalu mengirimkan voice note itu.
"Dino, banyak kebodohan yang aku lakukan. Bisakah kamu memaafkan ku. Bisakah kita bersama, bisakah kamu memilihku sekali lagi? Katakan aku egois, aku gak bisa lagi melakukan apapun. Karena melihat kamu bersama orang lain sangat menyakitkan." Ini menjadi kalimat terakhir di voice note Naomi yang di dengar Dino.
Dino juga menitihkan air matanya. "Bukan hanya kamu, Nomi. Aku juga salah dalam hal ini. Dulu kita gak pernah berkomunikasi dengan baik. Aku tidak mendengar kamu, menganggap semua baik-baik saja. Aku yang membawa kamu kedalam keluargaku yang rumit, kamu pasti menderita saat itu. Kamu lupa keluargaku adalah penyebab penderitaan mu. Aku juga ada di Mobil itu, Nomi. Banyak hal yang tidak kamu ketahui. Apakah kamu juga mau memaafkan ku?" Ucap Dino menatap foto Naomi yang tetap menjadi wallpaper ponselnya selama ini.
Where are you, Naomi?
Bisakah kamu memberiku satu kesempatan, Dino ?