Never Forget

Never Forget
Paper



"Dino! Lo harus hati-hati" Ucap Adam, ia tidak rela melepas Dino sendirian.


"Aku baik-baik saja Dam." Ucap Dino sebelum keluar dari mobil. "Semua akan baik-baik saja" ucapnya. Ia mulai membuka pagar rumah itu dan tak sengaja bertemu dengan Oma Murni yang sedang menyulam.


"Dino." Panggilnya lalu memeluknya."Syukurlah kamu sudah pulih."


"Ibu, apakah ada Naomi?" Tanya Dino dengan suaranya yang berat. "Bu, saya mau ketemu Naomi." Namun Oma Murni melarangnya, ia menepuk pundak Dino. "Relakan dia, Dino." Perkataan ini membuatnya kaget.


"Oma, aku sangat Naomi. Aku gak mau kehilangan dia." Ucap Dino kekeh ingin bertemu dengan Naomi. Tapi Oma tetap berusaha melarangnya.


"Bagus!" Nino keluar sambil bertepuk tangan. "Bagus, berani Lo kesini!"


"Dimana Naomi? Aku mau ketemu sama dia. Dia istri aku! Aku berhak bertemu dengannya."


"Sayangnya dia gak mau ketemu sama kamu. Dia memberikan kamu ini." Nino memberikan amplop coklat pada Dino dan memintanya untuk segera membukanya.


"Gak! Gak mungkin! Aku gak akan tanda tangan surat ini. Aku mau ketemu Naomi!"


"Dasar keras kepala!" Nino mendorong Dino hingga terjatuh. "Auuu!" Serunya sambil memegang bekas operasinya.


"Lo itu dasar keras kepala. Gw bilang, Lo gak pantes sama adik gw! Lo adalah akar dari penderitaan kami. Lo dan keluarga Lo!" Ucapnya.


"Brengsek!" Teriak Adam dan langsung menghajarnya. "Lo gila! Dino udah memberikan separuh ginjalnya untuk adik Lo! Supaya dia bisa tetap hidup! Lo malah kayak gini. Sebenarnya, Lo yang toksik. Bisa apa adik Lo tanpa Dino. Bisa apa Panti ini tanpa dia!" Adam membantu Dino untuk bangun.


"Jangan ikut campur! Brengsek!" Balas Nino namun pukulannya kali ini di tangkas oleh Dino yang membalasnya keras hingga ia tersungkur.


"Aku gak peduli siapapun yang kamu sebut sebagai pendonornya. Aku gak akan pernah tanda tangan surat ini. Aku gak akan pernah menceraikan Naomi sampai kapanpun." Bentaknya.


"Lo pikir gw takut! Gw akan buat Naomi menandatangani surat ini." Sambil mencengkram kerah baju Dino, matanya penuh dengan kebencian. "Gw, akan lakukan apapun untuk membuat perceraian ini terjadi."


"Gw masih menahan semuanya karena ini bukan ring tinju." Ucapnya lagi sambil menyiapkan pukulan dari tangannya.


"Sudah cukup kalian berdua. Sudah Nak. Sabar!" Oma Murni terus berbicara demikian agar kedua mau berhenti bertengkar.


"Dino cukup!" Teriak Naomi dari dalam. Ia terbangun karena suara ribut antara Dino dan Nino. Ia melihat Dino akan memukul Nino. "Kamu sekarang tukang pukul ya!" Ucapnya melihat bibir sang kakak berdarah.


"Naomi, Nino yang mulai duluan. Aku hanya membela diri Nom. Nomi, ayo kita pulang." Ajak Dino. Ia memeluk Naomi dan meluapkan kerinduannya. Namun Naomi menghempaskan pelukannya.


"Dino! Lepasin aku!"


"Gak! Kenapa? Aku minta maaf, Naomi. Aku akan memperbaiki segalanya." Ucap Dino memohon pada Naomi.


"Naomi, ingat apa yang dilakukan Dino sama kamu. Dia menghancurkan hidupmu." Kata Nino memanasi Naomi sehingga dia teringat kembali ketika Nino memberitahunya bahwa Dino orang yang menyetujui pengangkatan setengah rahim Naomi.


"Dino, I hate you! You ruin my life. Your decision. I hate you!" Naomi mendorong Dino.


"Naomi!" Bentak Adam tak terima temannya diperlakukan seperti itu. "Sudah Adam." Dino meminta Adam untuk sabar.


"Naomi, aku gak mungkin menghancurkan hidup kamu. I really love you." Ucapnya dengan tulus.


"Aku ketemu kamu lagi." Naomi lalu memalingkan wajahnya dari Dino dan masuk ke dalam rumah.


"Naomi!" Teriak Dino ingin mengejarnya namun Nino menghalanginya. "Naomi, aku akan tunggu kamu di rumah kita. Aku gak akan pernah tanda tangan surat ini" Ucapnya. Dia akhirnya kembali dengan tangan kosong.


"Aku yakin dia pasti kembali Adam." Ucapnya dalam perjalanan.