Never Forget

Never Forget
Togaya meet Domi



Togaya! Ratih datang dan meminta waktunya untuk membahas sesuatu. Dia menceritakan tentang kondisi Dino yang sudah setuju untuk bercerai. "Tolong Togaya, bantu kakak. Kakak mau Dino dan Naomi berpisah. Kakak gak mu kehilangan anak kakak satu-satunya." Pinta Ratih ia hanya bisa mengandalkan Togaya. Meski bimbang, Togaya akhirnya mengiyakan permintaan itu. "Apa benar kak, tidak bisa dibicarakan lagi baik-baik. Saya rasa semua pasti ada solusinya. Jika kita bisa bicara baik-baik."


"Tidak Togaya, aku ingin mereka berpisah!" Tegas Ratih. Ia tidak ingin Dino dan Naomi bersama lagi. Sudah cukup baginya kehilangan Milka dan Suaminya, tak ingin lagi ia kehilangan Dino putra satu-satunya.


Tiga bulan setelah pertemuan itu, Togaya pergi menemui Dino di Amerika. "Om, apa kabar ?" Dino masuk keluar dari ruang meeting dan menyambut Togaya dengan hangat. "Aku baik Om. Om pasti mau nanya kabar aku." Jawabnya.


"Duduk om, ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya. "Om hanya mau kasih kamu ini, surat cerai kamu dan Naomi sudah keluar." Dino terdiam, tangannya gemetar membuka surat itu. "Om, it's real?" Tanyanya.


"Sure.." ucapnya memulai kebohongan baru dalam hidupnya.


Air mata Togaya mengalir dari kedua ujung matanya. Matanya terpejam, "Opa Togaya." panggil seorang anak laki-laki. "Opa... bangun ..."


Togaya terbangun, ia kaget mendengar suara anak kecil itu. Domi tersenyum melihatnya, " Opa!" ucapnya antusias.


"Anak yang manis, anak siapa kamu?" Tanyanya lagi. "Aku, Domi Opa." Jawabnya.


"Opa.." Teriak Milka berlari memeluk Opa. "Opa dia Domi, adikku." Jelasnya. Mendengarnya, Togaya langsung memeluk Domi dengan erat. "Opa senang kamu sehat-sehat, nak. Ayo kita masuk ke dalam."


Togaya masuk ke dalam rumah didampingi oleh Milka dan Domi. Togaya memegang tongkatnya sedang kedua anak itu berlari saling meledek satu sama lain. "Hei, kalian hati-hati jangan sampai terjatuh."


"Om Togaya. Welcome om." Sambut Dino dengan hangat dan ramah. "Om kita langsung makan, Naomi sudah menyiapkan segalanya. Kamar om sudah di bereskan, letaknya ada di ujung sana seperti biasanya." Dino dengan sabar memapah Togaya, "Om senang kamu sudah bahagia, keluargamu lengkap, dan anakmu sehat. Om berharap kalian tetap seperti ini selamanya."


Dino menoleh, ia tersenyum sambil mengucapkan terima kasih untuk doa dan harapan Togaya untuknya. Togaya menepuk tangan Dino, ia kembali bercerita bahwa dulu saat Ibu dan Ayahnya menikah dan tinggal di rumah ini, rumah ini terlihat sangat besar dan kosong lalu semenjak kelahirannya rumah ini barulah disebut rumah.


"Om.. sekarang aku punya rumah dalam arti yang sesungguhnya. Rumah dimana tempat aku bisa beristirahat dikala lelah dikala sedih dan bahagia."


"Jelas, kini kamu seorang ayah. Ayah dari seorang putra dan putri. Papamu pasti bangga." Togaya kembali memeluk Dino, ia sangat menyesal atas kejadian masa lalu yang tak bisa dia ungkapkan. Dia menangis di bahu Dino. "Om, ada apa?" tanya lelaki itu cemas, ia tidak pernah melihat Togaya begitu bersedih seperti itu.


"Om lapar, ayo kita makan." Dia buru-buru mengajak Dino untuk makan bersama, ia sudah tidak sabar ingin makan malam bersama Dino sekeluarga.


"Wow! Baunya sudah tercium ya." Puji Togaya dari jauh ketika mencium bau makanan Naomi. "Sibuk sekali kamu.. sampai tidak membalas pujian, om." Tegur pria paru baya itu.


"Om, aku bingung apakah nantinya om akan suka makananku. Jadi aku mempersiapkannya sendiri dengan tanganku." Balas Naomi, memeluk Togaya untuk menyambutnya. Ia juga menarik bangku untuk Togaya dan juga Dino. Milka juga melakukan hal yang sama untuk Domi dan juga dirinya.


"Sure, Opa akan tinggal disini. Kita akan punya waktu bermain bersama-sama." Ucapnya.


"Semuanya kita makan dulu, baru main lagi ya." Ucap Dino memulai acara makan malam hari itu.


Setelah makan malam, Togaya tak sengaja melihat Naomi sedang menidurkan Domi dan Milka. Dia melihat Naomi membacakan buku cerita dan bercengkrama dengan kedua anaknya. Melihat Naomi yang sudah tumbuh menjadi wanita yang dewasa membuatnya teringat pertama kali ia bertemu dengan Naomi, lebih dari 10 tahun yang lalu saat itu dia masih SMP. Togaya turun dari mobilnya dan tak sengaja melihat seorang laki-laki berseragam putih biru sedang dirundung oleh teman-temannya. Tak lama, seorang anak perempuan dengan pakaian yang sama datang dengan membawa ranting dan membela laki-laki itu. Ia menggunakan kacamata tebal berwarna hitam, kawat pada giginya dan rambut yang di kepang kanan dan kiri.


"Ada apa om?" Tanya Dino yang keluar dari mobil membawa tas sekolah di tangannya. Tangan Dino terluka dan di gips. "Dino, liat anak perempuan itu pemberani. Kamu harus berteman dengan anak seperti itu supaya bisa melindungi kamu." Ucapnya.


"Om adanya aku yang melindungi dia." Balas Dino ketus. Ia menatap gadis itu lalu masuk ke sekolahnya. Gadis itu tersenyum melihat Togaya. "Hi, siapa nama kamu?"


"Naomi..." Balasnya, ia tertawa lebar memperlihatkan kawat di giginya.


Kalau mengingat bertapa culunnya Naomi saat itu, Togaya pasti tertawa. "Om, kenapa tertawa seperti itu." Tanya Dino heran. "Om teringat istri kamu masih kecil dulu culunnya minta ampun ditambah kamu juteknya minta ampun. Kalian berdua itu sepertinya memang sudah ditakdirkan." Ucap Togaya menasehati Dino untuk jangan menyerah untuk keutuhan keluarganya.


"Om, mau bicara sama kamu. Apa kamu ada waktu?" Pintanya. Dino mengajak Togaya untuk bicara diruang kerjanya. "Om berharap kamu bisa memaafkan ibu kamu. Dia melakukan hal itu karena sayang sama kamu. Dia cuman takut kamu tersakiti lagi. Kamu itu anak dia satu-satunya." Pintanya.


"Om, aku pasti memaafkan mamaku. Aku gak mau membahas hal ini lagi."


"Om, apakah om tahu kalau surat cerai itu palsu? Aku belum bercerai dengan Naomi dan apakah om tahu saat itu Naomi mengandung anak aku?"


Togaya terdiam dan tak menjawab, " Tidak " ucapnya tegas. "Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Naomi, bilang kalau om membantu dia ketika aku pergi ke Amerika. Bukankah seharusnya saat itu Naomi sudah mengandung Domi?" Jelasnya.


"Tidak Dino, om tidak tahu apapun." Ucapnya, ia tak bisa mengatakan hal ini pada Dino. Ia malu mengakui perbuatannya.


Sementara itu Ratih yang sedang beristirahat kedatangan tamu yang tak diundang olehnya, seseorang yang siap menjadi partnernya untuk menghancurkan Naomi dan Dino. Seseorang yang penuh dengan dendam pada Naomi.


"Aku berharap tante bisa mendukungku."